Ketua DPP PDIP Said Abdullah menilai hubungan Megawati dan Presiden Prabowo dapat dilihat dalam beberapa aspek. Pertama, aspek pertemanan lama. Kedua beliau ini menjadi sahabat nan sudah terjalin puluhan tahun. Kedua, beliau apalagi sama sama pernah berjuang dalam kontestasi pada pemilihan presiden tahun 2009, kedua beliau menjadi pasangan calon presiden dan wakil presiden. Pertemanan dan silaturahmi itu terus bersambung meski pilpres tahun 2009 telah usai.
Bahkan saat PDI Perjuangan mencalonkan Jokowi pada pilpres tahun 2014, dan berkontestasi dengan Prabowo waktu itu, dan pada periode berikutnya, hubungan dan silaturahmi kedua beliau tetap terjaga dengan baik. Persahabatan kedua beliau ini kokoh, bukan hanya sebatas pertemanan nasi goreng nan seringkali dilihat oleh publik. Pertemanan kedua beliau ini tulus, tak ada cela.
Aspek kedua, selain hubungan persahabatan, Mega saat ini menjabat sebagai Ketua Dewan Pengarah BPIP dan BRIN. Meski presiden telah berganti, Presiden Prabowo tetap mempercayakan tugas kenegaraan tersebut kepada Mega, meskipun PDI Perjuangan bukan bagian dari pemerintahan. Artinya, Presiden Prabowo memandang Mega mempunyai kapabilitas kenegarawanan, demikian halnya Presiden Prabowo, sehingga urusan tersebut melampaui urusan politik praktis.
Kedua beliau mempunyai pandangan nan sama, lembaga negara seperti BPIP memang kudu di jabat oleh negarawan, sekaligus kegigihan seorang tokoh dalam menanamkan nilai nilai Pancasila. Urusan Pancasila ini melampaui segala-galanya, dan itulah nan dipedomani oleh kedua beliau. Jadi kemesraan pada aktivitas peringatan hari Pancasila itu manifestasi dari perihal ini.
Aspek ketiga; hubungan Mega dan Presiden Prabowo berdiri di atas pandangan politik kebangsaan. Perbedaan jalan politik, di mana PDI Perjuangan sebagai partai penyeimbang tidak dimaknai oleh Presiden Prabowo sebagai musuh. Bahkan dalam Pidato Presiden Prabowo di DPR tanggal 20 Mei lalu, beliau menghormati, dan mengapresiasi beragam lontaran masukan nan diberikan kader kader PDI Perjuangan di DPR. Bagi Said, sosok kedua beliau ini sudah pada level political beyond, berpolitik untuk bangsa dan negara, bukan semata mata kekuasaan.
Karena ketiga fondasi hubungan dan langkah pandang kedua beliau inilah kenapa hubungan Mega dan Presiden Prabowo awet, tidak ternoda, meski berbeda hadapan politik kepartaiannya.
Said Abdullah menilai keteladanan ini pula nan diikuti oleh jejeran pada Fraksi PDI Perjuangan dan Gerindra di DPR. Kedua fraksi bisa cair saling berdiskusi, berganti pandangan dalam membahas kebijakan dan program program pemerintah, meskipun dalam beberapa perihal terjadi perbedaan pandangan, namun keduanya tetap memahami posisi masing masing dan saling menghargai sebagai sahabat politik nan tetap bisa bersinergi.
Artikel ini merupakan opini Said Abdullah, Ketua DPP PDI Perjuangan, tidak mewakili redaksi kumparan.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·