Pernahkah kalian merasa sudah berupaya memahami orang lain sebaik mungkin, tetapi tetap dianggap egois?
Kita mencoba mengerti keadaan mereka, memahami apa nan sedang mereka hadapi, apa nan mereka rasakan, apalagi apa nan mereka inginkan, di saat diri sendiri sebenarnya juga sedang tidak baik-baik saja. Kita berupaya tetap ada untuk mereka, memaklumi sikap mereka, dan menerima keadaan mereka. Tapi ternyata, semua itu tetap terasa belum cukup bagi mereka.
Lalu ketika kita mulai menyampaikan apa nan sebenarnya kita rasakan, apa nan sebenarnya sedang terjadi dalam diri kita, dan mengatakan jika kita juga mau dimengerti, semuanya justru berubah.
Terkadang terasa lucu. Mereka mau dimengerti, tapi tidak pernah betul-betul mencoba mengerti diri kita. Mereka selalu mau kita memahami keadaan dan emosi mereka, tapi gimana dengan kita? Kita juga mau dipahami dan dimengerti. Kenapa meminta untuk dimengerti terasa begitu mudah, tapi mengerti kembali terasa begitu sulit?
Untuk beberapa hal, kita sadar jika kita memang tidak sepenuhnya benar. Karena itu, kita tidak langsung menyimpulkan jika mereka sepenuhnya salah. Kita mencoba memandang semuanya dari perspektif mereka dan mencoba memahami argumen di kembali sikap mereka.
Mungkin mereka memang sedang banyak pikiran.
Mungkin suasana hati mereka sedang tidak baik.
Mungkin mereka sedang punya masalah pribadi alias berada di keadaan nan rumit.
Kita mencoba memahami semua itu. Kita mengerti kenapa mereka terlihat seperti selalu mau dimengerti. Atau mungkin, beberapa dari mereka memang tidak punya tempat untuk melampiaskan emosi nan terlalu lama dipendam, sampai akhirnya emosi itu justru diluapkan kepada orang lain.
Dan untuk beberapa waktu, kita memilih mengalah.
Sekali. Dua kali. Bahkan mungkin sudah berkali-kali.
Bukan lantaran kita tidak punya perasaan, tapi lantaran kita tidak mau memperpanjang masalah. Kita memilih tak bersuara dan mencoba memahami mereka lebih dulu.
Di awal-awal, terkadang kita tetap sering berpikir,
“Oh, mungkin mereka memang benar.”
“Mungkin tanpa sadar memang saya nan egois.”
Karena terlalu sering mengalah, tanpa sadar kita mulai menyalahkan diri sendiri. Apalagi ketika mereka tetap bersikeras jika hanya emosi mereka nan benar. Ketika mereka mengatakan jika kita tidak pernah bisa mengerti mereka, jika kita hanya mau enaknya sendiri, alias hanya memikirkan diri sendiri hanya lantaran kita mulai menyampaikan apa nan sebenarnya kita rasakan.
Semua itu perlahan membikin kita merasa jika diri kitalah nan salah.
Sampai akhirnya kita tidak sadar jika sebenarnya di posisi seperti itu kita juga tidak sepenuhnya salah. Selain mengerti orang lain, kita juga layak untuk dimengerti. Tapi lantaran terlalu sibuk memahami orang lain, kadang kita jadi tidak bisa berpikir jernih.
“Ini sebenarnya memang saya nan egois, alias mereka nan tidak pernah betul-betul mencoba memandang dari perspektifku?”
Saat pikiran seperti itu mulai muncul, perlahan kita mulai sadar. Kita mulai mencoba berakhir terlalu memikirkan emosi mereka. Bukan lantaran merasa diri sendiri sudah sepenuhnya betul dan mereka sepenuhnya salah, tapi lantaran sadar jika tidak semua perihal kudu terus dimaklumi, terutama ketika semuanya hanya melangkah satu arah.
Kita mulai berani menyampaikan dengan lebih jelas tentang apa nan sebenarnya kita rasakan. Mulai berani mengatakan jika kita juga mau dimengerti, bukan hanya terus mengerti mereka. Kita juga mulai menjaga pemisah dengan orang-orang nan memang tidak pernah mencoba memahami balik. Mulai belajar menolak, menjauh, dan lebih memikirkan kebaikan untuk diri sendiri.
Tapi apa kalian bisa menebak gimana reaksi mereka?
Berubah.
Kita dianggap berubah, dibilang cuek, dianggap tidak peduli lagi, apalagi disebut egois. Egois hanya lantaran memutuskan untuk menjaga jarak dari orang-orang nan seperti itu.
Kadang muncul pertanyaan lagi, kenapa kita hanya dianggap baik selama kita terus memahami mereka, tapi saat kita mulai menjaga diri sendiri justru dianggap egois?
Dan jujur, di fase itu rasa bersalah kadang tetap tetap ada. Walaupun keputusan nan diambil sebenarnya sudah benar, tetap saja muncul pikiran-pikiran seperti:
“Ini sebenarnya sudah betul belum ya?”
“Aku sudah betul kan mengambil keputusan ini?”
Belum lagi memikirkan gimana penilaian mereka setelahnya terhadap kita.
Mungkin lantaran selama ini orang-orang lebih sering memuji mereka nan dianggap “selalu ada” untuk orang lain. Ditambah lagi, banyak dari kita nan memang tumbuh jadi pribadi nan tidak enakan. Terbiasa mengalah, terbiasa memahami, sampai lupa jika diri sendiri juga mau dipahami.
Padahal rasa saling mengerti, saling memahami, dan empati semestinya melangkah dari dua arah, bukan hanya dari satu pihak saja. Komunikasi nan baik juga penting, lantaran lewat komunikasi kita bisa belajar menyampaikan apa nan sebenarnya kita rasakan, sekaligus belajar mendengarkan orang lain dengan lebih baik.
Itulah kenapa krusial untuk memandang sesuatu dari dua sisi. Bukan hanya memandang diri sendiri, tapi juga memandang dan memahami apa nan sebenarnya dirasakan oleh orang lain. Begitu juga sebaliknya. Saat dua pihak sama-sama mencoba memahami, di situ kita bakal lebih mudah menemukan jalan keluar dari masalah nan ada.
Karena pada akhirnya, memahami orang lain memang penting. Tapi itu bukan berfaedah kita kudu terus mengorbankan diri sendiri hanya untuk dianggap sebagai orang baik.
Menjaga diri sendiri bukan berfaedah egois. Kadang, itu hanya corak sadar jika diri kita juga punya perasaan, punya batas, dan juga layak untuk dipahami.
50 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·