Saat Istora Jadi Laboratorium Masa Depan

Sedang Trending 3 jam yang lalu
Saat Istora Jadi Laboratorium Masa Depan Pasangan dobel putra, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin.(MI/Khoerun Nadif )

KALA lampu-lampu arena mulai dipadamkan, dan para penonton meninggalkan Istora Senayan, Polytron Indonesia Open 2026 menyisakan cerita nan lebih besar sekadar perebutan gelar bulu tangkis. Turnamaen BWF Super 1000 itu menjadi ruang perjumpaan antara penemuan dan evaluasi, antara kebanggaan sebagai tuan rumah dan tantangan besar untuk melahirkan generasi baru nan bisa menjaga tradisi kejayaan bulu tangkir Tanah Air.

Sinergi antara sejumlah dalam turnamen, menunjukkan bahwa ekosistem kejuaraan kelas bumi dapat dibangun di Indonesia. Maka dari itu, Federasi Bulu Tangkis Dunia (BWF) tanpa ragu memberikan apresiasi pada penyelenggaraan tahun ini nan disebut telah melampaui ekspektasi. Pelbagai pembaruan akomodasi dan pemanfaatan teknologi telah menjadi bukti kematangan kerjasama industri dalam mendukung prestasi olahraga.

Sinergi Industri, Acuan Baru Dunia 

"Selamat nan sebesar-besarnya kepada panitia penyelenggara dan PBSI lantaran telah menggelar turnamen nan luar biasa tahun ini. Polytron Indonesia Open, nan merupakan bagian dari HSBC BWF World Tour Super 1000, apalagi melampaui ekspektasi kami," kata Direktur Event BWF, Selvaamersh Supramaniam, kepada pewarta di Istora Senayan, Jakarta pada Minggu (7/6). 

Apresiasi tersebut ditujukan, bukan tanpa alasan. Salah satu penemuan nan mendapat perhatian adalah teknologi Light Emitting Diode (LED) nan secara imajinatif menjadi gambaran awal siklus baru turnamen bulu tangkis.

"Penggunaan LED serta produktivitas dalam pemanfaatannya sangat baik. Bagi BWF, kami belajar banyak dari uji coba nan telah dilakukan ini sehingga kami bisa mempersiapkan tuan rumah lainnya dan juga mempersiapkan diri kami sendiri," ujar Selvaamersh.

Tak hanya soal arena, akomodasi penunjang juga mendapat pujian. Mulai dari player lounge nan lebih nyaman, hingga jasa transportasi atlet nan dinilai berstandar dunia. 

"Banyak pemain nan sangat senang. Player lounge selalu ramai. Biasanya area seperti itu cukup sunyi lantaran para pemain lebih memilih kembali ke hotel untuk beristirahat. Namun di sini, apalagi saat mereka sedang beristirahat, mereka kembali ke player lounge," ungkap Selvaamersh. 

Ia menambahkan, "Layanan kendaraan sesuai permintaan untuk mengantar pemain dari hotel ke arena dan sebaliknya juga betul-betul kelas dunia. Itu sangat luar biasa." 

Bagi BWF, kesuksesan itu sejalan dengan tema ‘Pride of the Nation’ nan diusung. Kebanggan itu, menurut Selvaamersh, telah tercermin dari antusiasme publik Istora nan tak padam. 

"'Pride of the Nation' bukan hanya tentang Indonesia Open. Menurut saya, kebanggaan bangsa nan sesungguhnya selama ini adalah para fans bulu tangkis Indonesia. Dan minggu ini kita memandang para fans datang, menikmati suasana, dan menunjukkan kecintaan mereka,” tegasnya. 

Pembaruan akomodasi juga dirasakan oleh pasangan dobel puta Indonesia Sabar Karyaman Gutama/Moh Reza Pahlevi Isfahani. Menurut Reza, konsep nan memungkinkan penonton berinteraksi lebih dekat dengan atlet menjadi nilai tambah bagi pencinta bulu tangkis.

"Menurut saya juga bagus ya lantaran juga buat badminton lovers di Indonesia kan mungkin nan salah satu nan diinginkan juga itu dekat dengan atlet," kata Reza pascapertandingan pada Kamis (4/6). 

Selain itu, Reza juga menyoroti perubahan pada player lounge nan menurutnya jauh lebih hidup dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

"Sekarang itu atlet-atlet tuh banyak banget nan ngumpul di player lounge sampai susah untuk duduk. Jadi mungkin itu sih perbedaannya, mungkin lebih improve dari tahun lalu." 

Senada dengan Reza, Sabar memberikan apresiasi terhadap jasa konsumsi tersedia bagi para atlet di Player Lounge. 

”Banyak saya cobain makanannya, enak-enak juga. Ada executive chef-nya, luar biasa," kata Sabar.

Di sisi lain, Ketua Panitia Pelaksana Polytron Indonesia Open 2026, Achmad Budiarto, menjelaskan bahwa konsep tahun ini memang dirancang untuk mengembalikan euforia bulu tangkis Indonesia melalui pendekatan nan ramah keluarga. Berbagai kemudahan disiapkan, mulai dari akses tiket, akses masuk arena, hingga area intermezo dan pagelaran nan dapat dinikmati seluruh personil keluarga. 

"Kita anggap ini sebagai family gathering dan juga sekaligus pesta rakyat bangsa Indonesia," ujar Achmad. 

Ia menambahkan bahwa semboyan 'Pride of the Nation' dirancang untuk menghadirkan kebanggaan bagi masyarakat Indonesia, BWF, dan PBSI. 

"Yang pertama adalah kebanggaan buat masyarakat Indonesia, kemudian juga kebanggaan buat BWF, dan pastinya juga kebanggaan buat PBSI,” ujar Achmad.

Asa Baru di Tengah Evaluasi Total 

Di kembali keberhasilan penyelenggaraan, sisi prestasi mewujud realita lain. Dua wakil Indonesia di partai final kudu puas menjadi nan kedua. Tunggal putra, Jonatan Christie kandas meraih gelar setelah kalah dari wakil Kanada, Victor Lai, dengan skor 19-21 dan 8-21. Sementara pasangan dobel putra, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin takluk dari dobel Malaysia, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin, dengan skor 21-13, 18-21, dan 10-21. Alhasil, realita itu pun sekarang memperpanjang puasa gelar Indonesia di Indonesia Open sejak 2021. 

Pengamat bulu tangkis, Broto Happy Wondomisnowo, menilai kondisi itu menunjukkan semakin ketatnya persaingan global. 

"Prestasi kita memang belakangan ini mungkin sudah kalah dibanding negara lain ya," kata Broto. 

Meski demikian, Broto tetap memandang sisi positif dari pencapaian pasangan muda Raymond/Joaquin nan sukses menembus final turnamen Super 1000. 

"Memang kalah, tapi saya kira ke depan harapannya tetap terbuka lebar bagi pasangan muda Indonesia ini,” tutur Broto.

Pandangan serupa disampaikan pengamat olahraga Ainur Rohman. Menurutnya, di tengah kekecewaan lantaran kandas meraih gelar, munculnya pemain muda di partai puncak menjadi sinyal bahwa proses regenerasi sedang berjalan. 

"Memang secara hasil mengecewakan. Tapi kan nan kudu kita tahu bahwa dua wakil nan ada di final itu, satu non-Pelatnas, satunya lagi pemain muda,” sebut Ainur. 

Ainur menilai pencapaian Raymond/Joaquin sangat mengejutkan mengingat mereka bisa menyingkirkan pasangan-pasangan elite bumi dalam perjalanan menuju final. Namun Ia mengingatkan bahwa talenta besar memerlukan sistem pembinaan nan tepat agar dapat berkembang maksimal. 

"Teknologi dan sains olahraga sangat krusial. Tetapi talenta itu kan adalah perihal nan sangat mengerikan ya jika misalnya tidak bisa dipupuk dengan baik. Bakat bakal menjadi lenyap sia-sia jika misalnya sistem pelatihannya itu alias pembinaan di dalam itu tidak berjalan secara baik,” beber Ainur. 

Raymond dan Joaquin sendiri menilai kekalahan di final menjadi pelajaran krusial tentang pentingnya menjaga konsentrasi di momen krusial.

"Mungkin mereka memandang kita kayak sempat bingung gitu ya, mereka otomatis juga notice gitu jadinya mereka mengambil momentum," ujar Joaquin. 

Sementara, Raymond menilai pengalaman pasangan Malaysia menjadi aspek nan membedakan hasil pertandingan. 

"Mereka juga pemain nan berilmu banyak ya di turnamen-turnamen besar. Kita kudu lebih waspada lagi, apalagi di poin-poin nan mungkin konsentrasinya lebih ditambah lagi." 

Jonatan Christie mengakui tekanan mental menjadi salah satu aspek nan memengaruhi penampilannya di final. 

"Maaf, kembali saya belum bisa memberikan hasil nan paling maksimal, ialah lencana emas. Tapi ya, ini nan bisa saya lakukan, ini nan bisa saya perbuat." 

Ia juga mengungkapkan keinginannya untuk beristirahat sejenak dari rutinitas bulu tangkis demi memulihkan kondisi mental setelah menjalani rangkaian turnamen nan padat.

"Fokusnya saat ini adalah untuk menenangkan pikiran dulu. Menjauh sejenak dari bulu tangkis, untuk merasakan lebih tenang." 

Istora tahun ini bukan hanya menjadi panggung perebutan gelar, melainkan juga laboratorium besar bagi penemuan industri olahraga, pertimbangan prestasi, dan pencarian angan baru untuk masa depan bulu tangkis Indonesia. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia