S&P Global Ratings mempertahankan ranking kredit (sovereign rating) Indonesia di level investment grade dalam pengumuman di laman resminya pada Senin (13/7).
Kredit Indonesia dipertahankan di level ‘BBB’ untuk jangka panjang dan ‘A-2’ untuk jangka pendek, dengan prospek (outlook) tetap stabil.
Lembaga pemeringkat dunia ini menyatakan pemberian ranking tersebut mencerminkan ekspektasi bahwa penerimaan pemerintah bakal terus pulih pada tahun ini, sementara penerimaan ekspor diperkirakan meningkat seiring kenaikan nilai komoditas.
“Kebijakan untuk meningkatkan penerimaan negara dan pendapatan ekspor dari sektor sumber daya alam juga diperkirakan bakal mendongkrak penerimaan dalam jangka panjang, terutama andaikan perubahan kebijakan menjadi lebih dapat diprediksi dan dijalankan dengan baik,” ucap S&P dalam pernyataannya, dikutip Selasa (14/7).
Selain itu, S&P memperkirakan pemerintah bakal tetap menjadikan pemisah defisit anggaran tahunan sebesar 3 persen.
“Prospek nan stabil juga mencerminkan ekspektasi bahwa pemerintah bakal terus menjadikan pemisah defisit anggaran tahunan sebesar 3 persen sebagai salah satu pengambil kebijakan nan penting,” ucap S&P.
Menurut lembaga ini, ranking Indonesia tersebut didukung oleh prospek pertumbuhan ekonomi nan kuat, kebijakan makroekonomi nan secara umum dijalankan secara hati-hati.
“Serta beban utang luar negeri bersih dan utang pemerintah nan relatif rendah dibandingkan negara-negara dengan ranking serupa,” lanjut S&P.
Kendati begitu, S&P menilai produk domestik bruto (PDB) per kapita Indonesia nan tetap relatif rendah, pedoman ekspor dan penerimaan fiskal nan sempit, serta sektor finansial domestik nan belum sedalam dan beragam negara-negara pembanding menjadi aspek nan membatasi ranking angsuran Indonesia.
“Kondisi tersebut turut meningkatkan beban pembayaran utang pemerintah,” sebut lembaga tersebut.
Dalam penjelasan outlook, S&P memperkirakan penerimaan pemerintah bakal terus pulih sepanjang tahun ini, didukung kenaikan nilai komoditas dan membaiknya penerimaan dari sektor sumber daya alam. Lembaga itu juga memperkirakan pemerintah tetap mempertahankan pemisah defisit anggaran sebesar 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) sebagai jangkar utama kebijakan fiskal.
Di sisi lain, S&P mengingatkan tetap terdapat sejumlah akibat nan dapat menekan ranking angsuran Indonesia. Penurunan rating dapat terjadi andaikan utang bersih pemerintah meningkat lebih dari 3 persen PDB secara konsisten, pembayaran kembang pemerintah memperkuat di atas 15 persen dari pendapatan negara, alias pendapatan ekspor melemah sehingga kebutuhan pembiayaan eksternal meningkat secara berkelanjutan.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·