Petugas melayani penduduk membeli paket sembako murah di Lapangan Ahmad Kirang Mamuju, Sulawesi Barat, Senin (25/5/2026)( ANTARA FOTO/ Akbar Tado/nz)
ANGGOTA Komisi IV DPR RI Rina Sa’adah mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai akibat lonjakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dan dampaknya pada ke harga pangan nasional.
Politisi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini meminta gejolak nilai tukar rupiah disikapi secara jeli agar tidak mengacaukan stabilitas nilai pangan di dalam negeri.
Sebagau informasi, hari ini rupiah mencatatkan rekor pelemahan dengan menembus level psikologis Rp18.015 per dolar ASB. Berdasarkan info pasar, nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 0,27%, sebuah posisi nan menempatkan mata duit domestik pada tekanan terdalam dalam beberapa waktu terakhir.
Rina menegaskan pemerintah tidak boleh lengah lantaran depresiasi rupiah berpotensi melambungkan biaya impor bahan baku strategis. Ia mencontohkan sektor pertanian dan perikanan nasional saat ini tetap berjuntai pada impor kedelai, gandum, garam industri, hingga bahan baku pakan ternak.
Menurutnya, pelemahan rupiah membuat kenaikan biaya impor komponen nan dipastikan bakal mencekik para pelaku upaya di tingkat bawah. Efek domino dari mahalnya bahan baku impor ini bakal langsung memukul nasib petani, peternak, serta nelayan akibat biaya produksi nan membengkak drastis.
"Yang menjadi perhatian kami bukan sekadar pergerakan kurs, melainkan dampaknya terhadap biaya produksi dan ketahanan pangan nasional. Jika biaya impor meningkat, maka tekanan terhadap nilai pangan dan biaya produksi petani, peternak, nelayan, serta pelaku upaya perikanan juga bakal semakin besar,” jelasnya dalam keterangan nan dikutip, Kamis (4/6). (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·