Anggie Ariesta
, Jurnalis-Selasa, 07 Juli 2026 |19:23 WIB

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso Soal Rupiah Rp18.000. (Foto: Okezone.com/IMG)
JAKARTA – Bank Indonesia (BI) buka bunyi mengenai dinamika nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) nan sempat menembus kembali level Rp18.000 per dolar AS.
Menurut Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, gejolak nan dialami mata duit Garuda erat kaitannya dengan arah kebijakan moneter bank sentral AS, The Fed. Sebagai catatan, dalam pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada pertengahan Juni lalu, The Fed memutuskan untuk menahan suku kembang di level 3,5 persen hingga 3,75 persen.
Namun, kepanikan pasar dipicu oleh munculnya sinyal kuat dari sejumlah pejabat The Fed nan mengindikasikan bahwa suku kembang referensi tetap berpotensi meningkat ke depan.
Kondisi tersebut memicu penguatan indeks dolar AS (DXY) secara drastis hingga mencatat rekor tertinggi dalam satu tahun terakhir. Jika pada Januari 2026 indeks DXY tetap berada di level 95, maka pada akhir Juni posisinya melonjak ke level 101.
"Jadi, kombinasi antara sinyal hawkish pejabat The Fed dan kenaikan DXY ke level tertinggi dalam satu tahun terakhir inilah nan membikin nilai tukar sejumlah negara melemah terhadap dolar AS," kata Denny saat ditemui di Kompleks Parlemen, Selasa (7/7/2026).
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·