Rupiah Tembus Rp17.926 per Dolar AS, Dampak Kenaikan Harga Minyak

Sedang Trending 54 menit yang lalu
Rupiah Tembus Rp17.926 per Dolar AS, Dampak Kenaikan Harga Minyak Karyawan menunjukkan duit pecahan rupiah dan dolar Amerika Serikat (AS) di gerai penukaran mata duit asing Haji La Tunrung, Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (20/5/2026)(ANTARA FOTO/Hasrul Said/sgd)

NILAI tukar rupiah kembali mengalami tekanan dahsyat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hari ini 3 Juni 2026. Berdasarkan info pasar, rupiah terpantau menembus level Rp17.926 per dolar AS. Salah satunya akibat kenaikan harga minyak dunia.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengungkapkan bahwa pelemahan tajam ini merupakan akibat berantai dari eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Konflik nan melibatkan Iran dan Israel, serta kebuntuan perundingan antara AS dan Iran, telah menciptakan ketidakpastian dunia nan mendorong penguatan greenback sebagai aset kondusif (safe haven).

Data Pasar Komoditas & Mata Uang (3 Juni 2026):

Instrumen Nilai/Harga
Kurs Rupiah Rp17.926 per Dolar AS
Minyak WTI US$94,58 per barel
Minyak Brent US$96,72 per barel

Dampak Kenaikan Harga Minyak dan Kebijakan The Fed

Lonjakan nilai minyak mentah bumi menjadi aspek krusial. Saat ini, minyak jenis WTI berada di level US$94,58 per barel, sementara Brent mencapai US$96,72 per barel. Kenaikan nilai daya ini berisiko memperpanjang tren inflasi tinggi di Amerika Serikat.

Kondisi tersebut memberikan ruang bagi bank sentral AS, The Fed, untuk mempertahankan kebijakan suku kembang tinggi. Ibrahim menyoroti pernyataan pejabat The Fed, Hammack, nan mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku kembang satu kali lagi pada tahun 2026 jika inflasi tidak kunjung mereda.

Tekanan dari Sisi Domestik

Selain aspek eksternal, tekanan terhadap Mata Uang Rupiah juga datang dari dalam negeri. Tingginya nilai minyak bumi otomatis meningkatkan kebutuhan dolar AS untuk membiayai impor energi. Di saat nan sama, terdapat peningkatan permintaan valas untuk pembayaran dividen serta tanggungjawab utang luar negeri nan jatuh tempo.

"Ada kecenderungan sebagian masyarakat mengalihkan simpanan ke instrumen berbasis valas, nan turut memperberat posisi rupiah di pasar domestik," ujar Ibrahim. (Ant/H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia