Rupiah Tembus 18.000 per Dolar AS, UKM Manufaktur di Batam Terjepit Biaya Impor

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Rupiah Tembus 18.000 per Dolar AS, UKM Manufaktur di Batam Terjepit Biaya Impor Kawasan upaya mini dan menengah (UKM) manufaktur berbasis impor di Batam, nan paling rentan terhadap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.(MI/Hendri Kremer)

PELEMAHAN nilai tukar Mata Uang Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan tekanan dahsyat bagi pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) di Batam. Sektor pengolahan dan pendukung manufaktur menjadi nan paling terdampak akibat lonjakan biaya impor bahan baku.

Berdasarkan info pasar pada Jumat (5/6/2026), kurs dolar AS terpantau merangkak naik di kisaran Rp18.030 hingga Rp18.050. Sementara itu, kurs jual di sejumlah lembaga finansial apalagi telah menyentuh level Rp18.130 per dolar AS. Kondisi ini memicu kenaikan biaya produksi nan signifikan di tengah ketatnya persaingan pasar domestik.

Data Kurs Dolar AS (Jumat, 5 Juni 2026):

Kurs Transaksi Rp18.030 – Rp18.050
Kurs Jual Perbankan ± Rp18.130
Status Melemah (Tertekan)

Dilema Harga Jual dan Margin Laba

Pelaku UKM di Batam mengaku susah meneruskan kenaikan biaya produksi kepada konsumen. Abdullah (45), seorang pengusaha sektor pengolahan, mengungkapkan bahwa meningkatkan nilai jual secara instan berisiko membikin produknya kehilangan daya saing.

“Kalau dolar naik, otomatis nilai bahan baku ikut naik. Tapi kami tidak bisa langsung meningkatkan nilai jual lantaran pasar sangat kompetitif,” ujar Abdullah, Jumat (5/6).

Senada dengan itu, Hajuli (52), pelaku UKM lainnya, mengeluhkan margin untung nan kian menipis. Menurutnya, kenaikan biaya operasional tidak dibarengi dengan peningkatan daya beli masyarakat, sehingga arus kas perusahaan menjadi terganggu.

Analisis Apindo: Tekanan pada Sektor Pendukung

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Batam, Rafki Rasyid, menjelaskan bahwa kerentanan ini disebabkan oleh tingginya ketergantungan industri lokal terhadap material impor. Sektor manufaktur pendukung seperti elektronik, pengemasan, dan suku cadang menjadi nan paling terpukul.

“Pelaku upaya nan berjuntai pada impor bahan baku menghadapi kenaikan biaya nan cukup signifikan, sementara ruang untuk meningkatkan nilai sangat terbatas,” jelas Rafki. Namun, dia mencatat bahwa UKM nan berorientasi ekspor justru mendapat untung lantaran pendapatan dolar mereka berbobot lebih tinggi saat dikonversi ke rupiah.

Dorongan Penguatan Kandungan Lokal

Kondisi ini menjadi sirine bagi Pemerintah Daerah dan Badan Pengusahaan (BP) Batam untuk segera memperkuat program peningkatan kandungan lokal. Efisiensi rantai pasok domestik dinilai menjadi solusi jangka panjang agar industri di Batam tidak terus-menerus rentan terhadap perubahan nilai tukar global.

Pelemahan rupiah pada Juni 2026 ini menjadi perhatian serius, mengingat UKM merupakan tulang punggung penyerapan tenaga kerja di area perdagangan bebas tersebut. (HK/I-1)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑