Anggie Ariesta
, Jurnalis-Minggu, 30 Agustus 2026 |11:04 WIB

Rupiah Sepekan di Level Rp17.693 per Dolar AS, Waspada Hal Ini (Foto: Okezone)
JAKARTA - Pergerakan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS condong konsolidasi dan stagnan tanpa perubahan signifikan dalam kurun waktu sepekan terakhir.
Mengutip info Bloomberg, mata duit rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.693 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (28/8/2026). Angka ini mencatatkan penguatan tipis 0,01 persen andaikan dibandingkan dengan posisi penutupan pada Jumat (21/8/2026) nan bertengger di level Rp17.695 per dolar AS.
Kondisi serupa tecermin pada kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia. Kurs JISDOR dipatok di level Rp17.703 per dolar AS pada Jumat (28/8/2026), menguat tipis 0,01 persen dari posisi sepekan sebelumnya nan berada di level Rp17.705 per dolar AS.
Analis pasar duit dan komoditas Ibrahim Assuaibi memproyeksikan pergerakan kurs rupiah bakal berada di rentang Rp17.600 hingga Rp17.900 per dolar AS untuk pekan depan, nan bakal dipengaruhi oleh kombinasi aspek domestik maupun eksternal.
Ibrahim menjelaskan bahwa para pelaku upaya di dalam negeri saat ini condong mengambil sikap wait and see menjelang rilis info inflasi resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS).
“Pelaku pasar condong menahan diri dari mengambil posisi garang sebelum memandang nomor inflasi resmi,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Minggu (30/8/2026).
Menurut Ibrahim, parameter inflasi menjadi referensi krusial bagi Bank Indonesia dalam mengarahkan kebijakan moneter serta tingkat suku kembang ke depan. Laju inflasi nan terkendali berpotensi membuka ruang pelonggaran moneter, sedangkan inflasi nan tinggi bakal menahan suku kembang tetap berada pada level ketat.
Di samping itu, rilis info perdagangan bulan Juli nan disajikan BPS turut menjadi perhatian lantaran mencerminkan dinamika pasokan, tingkat permintaan, serta biaya logistik pangan. Kenaikan ketergantungan pada impor pangan di tengah pelemahan nilai tukar dapat meningkatkan beban biaya impor.
“Serta melemahnya mata duit rupiah dalam laporan perdagangan membikin biaya impor pangan menjadi lebih mahal,” ujarnya.
2 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·