Rupiah Sentuh Rp 17.300 per Dolar AS, BI Perkuat Intervensi Jaga Stabilitas

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti dalam penutupan KKI, Minggu (10/8). Foto: Bank Indonesia

Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan Kamis siang (23/4) di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Berdasarkan info Bloomberg pukul 12.18 WIB, rupiah melemah 117 poin alias 0,68 persen ke level Rp 17.298 per dolar AS. Pada pukul 10.33 WIB, rupiah apalagi sempat menyentuh level Rp 17.304.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah dinilai tidak berdiri sendiri, melainkan sejalan dengan pelemahan mata duit di kawasan. Kondisi global, termasuk eskalasi bentrok geopolitik dan sentimen pasar finansial internasional, tetap menjadi aspek utama nan membebani pergerakan rupiah.

“Tekanan terhadap rupiah hari ini dipengaruhi oleh meningkatnya ketidakpastian dunia nan juga menekan mata duit regional. Pergerakan rupiah tetap sejalan dengan kawasan, dengan pelemahan year to date sebesar 3,54 persen,” kata Destry dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4).

Di tengah tekanan tersebut, Destry memastikan BI terus mengintensifkan langkah stabilisasi. Upaya ini dilakukan untuk menjaga daya tarik aset domestik, sekaligus meredam volatilitas di pasar keuangan.

“Bank Indonesia terus meningkatkan intensitas intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, serta memperkuat struktur suku kembang instrumen moneter pro-market guna menjaga daya tarik aset domestik di tengah berlanjutnya akibat bentrok Timur Tengah," terang Destry.

Petugas menyusun nan dolar AS dan rupiah di Bank Syariah Indonesia (BSI), Bekasi, Jawa Barat, Jumat (21/2/2025). Nilai tukar rupiah (kurs) pada pembukaan perdagangan hari Jumat (21/2). Foto: ANTARA FOTO/ Fakhri Hermansyah

"Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian SBN di pasar sekunder. Cadangan devisa juga tetap kuat sebesar USD 148,2 miliar pada akhir Maret 2026,” tambahnya.

Cadangan devisa nan tetap tinggi dinilai menjadi salah satu alas krusial bagi stabilitas eksternal Indonesia. Selain itu, strategi intervensi di beragam instrumen pasar menunjukkan pendekatan BI nan semakin terintegrasi dalam merespons gejolak global.

BI juga memastikan komitmennya untuk terus berada di pasar dan mengambil langkah nan diperlukan secara terukur.

“Bank Indonesia senantiasa datang di pasar dan bakal terus mengambil langkah nan diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,” tegas Destry.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan