ilustrasi(Antara)
Rupiah diperkirakan tetap terus dalam tekanan dan dalam waktu dekat berpotensi masuk ke level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pengamat pasar duit dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi aspek eksternal dan internal nan sama-sama memberi tekanan besar terhadap pasar finansial domestik.
Pada perdagangan hari ini, Kamis (28/5), rupiah melemah sekitar 70 poin ke level Rp17.870 per dolar AS. Ibrahim mengatakan tekanan tersebut tetap bersambung seiring meningkatnya ketidakpastian global.
“Ada kemungkinan pembukaan pasar besok di hari Jumat rupiah ini bakal mendekati level Rp18.000,” kata Ibrahim dalam keterangannya.
Dari sisi eksternal, Ibrahim menyoroti meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Menurutnya, bentrok nan melibatkan Amerika Serikat dan Iran berpotensi memperburuk situasi keamanan kawasan, termasuk di jalur perdagangan daya dunia.
Ia menyebut AS melakukan serangan terhadap instalasi di wilayah Iran selatan dan kondisi tersebut berpotensi memicu respons jawaban dari Iran. Selain itu, situasi dinilai semakin memanas setelah muncul ancaman serangan terhadap Oman nan dianggap mendukung proses negosiasi perdamaian antara Iran dan AS.
“Nah di sisi lain pun Amerika sedang mempersiapkan perang skala besar dengan Iran menurut info intelijen dari Rusia,” ujarnya.
Ibrahim juga menilai ketegangan di Timur Tengah berpotensi mengganggu stabilitas Selat Hormuz nan menjadi jalur utama pengedaran minyak dunia. Kondisi itu diperkirakan bakal mendorong kenaikan nilai minyak global.
Menurutnya, nilai minyak bumi saat ini telah kembali naik di atas US$92 per barel, apalagi minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) disebut telah menyentuh US$96 per barel. Kenaikan nilai minyak dinilai bakal meningkatkan biaya logistik dan memicu tekanan inflasi secara global, terutama di Amerika Serikat.
“Bukan di Amerika saja tapi secara dunia ini pun juga bakal mengalami kenaikan nan cukup signifikan,” tuturnya.
Selain Timur Tengah, Ibrahim juga menyoroti meningkatnya tensi geopolitik di Eropa Timur akibat eskalasi bentrok Rusia dan Ukraina. Ia menilai kondisi tersebut semakin memperbesar kekhawatiran pasar terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Dari sisi kebijakan moneter, Ibrahim mengatakan pasar sekarang memperhatikan arah kebijakan bank sentral AS alias Federal Reserve (The Fed). Ia menyinggung pernyataan Presiden Federal Reserve Bank of Minneapolis Neel Kashkari pada Rabu (27/5) nan menyebut inflasi tetap menjadi perhatian utama bank sentral AS dibanding pelemahan pasar tenaga kerja.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut memunculkan ekspektasi bahwa The Fed bakal mempertahankan suku kembang tinggi lebih lama, apalagi tetap terbuka kesempatan kenaikan suku kembang satu kali lagi hingga akhir tahun. Sentimen itu dinilai kembali memperkuat dolar AS di pasar global.
Sementara dari dalam negeri, Ibrahim menilai pelemahan rupiah dipengaruhi tingginya kebutuhan dolar AS untuk impor minyak, pembayaran dividen, hingga pembayaran utang jatuh tempo. Selain itu, dia juga menyoroti sejumlah kebijakan domestik nan dinilai menimbulkan kekhawatiran investor. Ia menyebut pengelolaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan koperasi Merah Putih dianggap belum optimal sehingga memicu kekhawatiran pelaku pasar.
“Dan membikin arus modal asing keluar cukup deras pada saat libur panjang ini,” ucapnya.
Ibrahim mengatakan Bank Indonesia saat ini terus melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas rupiah. Namun, tekanan eksternal dan internal nan besar membikin ruang penguatan rupiah menjadi terbatas.
“Wajar jika seandainya rupiah mengalami pelemahan. Nah kita memandang bahwa dalam perdagangan di hari ini kemungkinan besar rupiah bakal melemah hingga mendekati Rp17.900 per dolar AS,” tandasnya. (E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·