Rupiah per 1 Dolar AS Rp.18.000, BI Akhirnya Buka Suara!

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
Rupiah per 1 Dolar AS Rp.18.000, BI Akhirnya Buka Suara! Karyawan memperlihatkan duit dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Cabang Bank Syariah Indonesia, Jakarta, Rabu (3/6/2026). Pada perdagangan Rabu (3/6) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di level Rp17.975 ialah paling rendah dari rekor t(. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/nym.)

RUPIAH mencatatkan rekor pelemahan hari ini, Kamis (4/6) pagi, dengan menembus level psikologis Rp18.015 per dolar ASB. Berdasarkan info pasar, nilai tukar rupiah terdepresiasi sebesar 0,27 persen, sebuah posisi nan menempatkan mata duit domestik pada tekanan terdalam dalam beberapa waktu terakhir.

Analis mata duit dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan nilai tukar Rupiah ini merupakan refleksi dari kombinasi tekanan eksternal nan masif. Menurutnya, ketidakpastian dunia nan meningkat menjadi aspek utama nan memicu penguatan dolar AS terhadap kebanyakan mata duit dunia, termasuk Mata Uang Rupiah.

Faktor Utama Pelemahan Rupiah:

  • Meningkatnya tensi geopolitik di area Timur Tengah nan memicu safe haven flow ke dolar AS.
  • Rilis info ketenagakerjaan AS nan lebih kuat dari ekspektasi pasar.
  • Indeks aktivitas sektor jasa Institute for Supply Management (ISM) AS nan menunjukkan performa ekonomi AS tetap solid.

Respon Bank Indonesia

Menyikapi kondisi pelemahan nilai tukar Rupiah, Bank Indonesia (BI) memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas. Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menyatakan bahwa otoritas moneter terus mencermati dinamika pasar finansial dunia dan domestik secara saksama.

"BI terus berada di pasar dengan mengoptimalkan seluruh instrumen kebijakan nan dimiliki untuk memastikan sistem pasar melangkah dengan baik dan menjaga kecukupan likuiditas valas," ujar Denny di Jakarta.

Langkah intervensi ini dilakukan guna memperkuat ketahanan eksternal dan memastikan volatilitas nilai tukar Rupiah tetap dalam pemisah nan dapat ditoleransi oleh esensial ekonomi nasional. Selain intervensi di pasar spot dan DNDF, BI juga terus mendorong penggunaan skema transaksi mata duit lokal (LCT) untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS. (Ant/H-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia