
Rupiah Kian Melemah, Dekati Rp18.000 per Dolar AS! Ini Biang Keroknya (Foto: Okezone)
JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS kian melemah dan mendekati Rp18.000 per dolar AS. Tercatat, Rupiah ditutup melemah 75 poin alias 0,42 persen ke level Rp17.978 per dolar AS pada akhir perdagangan hari ini.
Analis pasar duit dan komoditas, Ibrahim Assuaibi mengatakan bahwa salah satu sentimen datang dari eksternal ialah Iran menyatakan tidak bakal melunakkan syarat-syaratnya untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Usulan Iran tersebut memungkinkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari sembari negosiasi nan lebih luas dilanjutkan, dengan syarat Washington mencabut blokade angkatan laut, melonggarkan tekanan militer, menghapus hukuman atas penjualan minyak Iran, serta menyetujui gencatan senjata. Iran menyatakan tetap berkomitmen pada syarat-syarat tersebut meskipun Trump menolaknya.
“Kendati demikian, menurut laporan Axios, Trump mengatakan dia memperkirakan negosiasi dengan kedua belah pihak bakal kembali berjalan minggu ini. Qatar telah berkedudukan sebagai penengah nan aktif berkomunikasi dengan kedua pihak dalam upaya menghidupkan kembali perundingan tersebut,” tulis Ibrahim dalam risetnya, Jakarta, Senin (28/9/2026).
Situasi Selat Hormuz memanas, setelah delapan personil Korps Marinir Amerika Serikat (AS) terluka setelah sebuah rudal jelajah antikapal Iran menghantam kapal nan mereka operasikan di Selat Hormuz. Serangan ini terungkap dari laporan NBC News pada hari Minggu, nan mengutip tiga pejabat Amerika.
Para personil Korps Marinir tersebut tidak mengalami luka serius. Namun, mereka dilaporkan mengalami gangguan akibat menghirup asap serta kemungkinan cedera otak traumatis setelah mengalami indikasi seperti gegar otak, termasuk sakit kepala.
Menambah kekhawatiran mengenai pasokan, pasukan Houthi nan didukung Iran di Yaman juga telah meningkatkan serangan terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal komersial di Laut Merah. Pada hari Sabtu, Arab Saudi menyatakan telah mencegat dua rudal balistik dan dua pesawat nirawak (drone) nan diluncurkan oleh golongan Houthi; peristiwa ini terjadi hanya beberapa hari setelah mereka mencegat enam rudal nan ditujukan ke arah Taif dan wilayah Yanbu.
Agenda ekonomi AS bakal jauh lebih padat pada minggu ini. Data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) dijadwalkan rilis pada hari Rabu, diikuti oleh info ISM Manufacturing PMI pada hari Kamis dan laporan Nonfarm Payrolls (NFP) pada hari Jumat. Rilis data-data tersebut dapat memainkan peran krusial dalam membentuk ekspektasi pasar menjelang pertemuan The Fed bulan depan.
Dari sentimen dalam negeri, Harga minyak bumi nan memperkuat di atas USD90 per barel meningkatkan akibat terhadap perekonomian Indonesia. akibat kenaikan nilai minyak terhadap Indonesia terutama terlihat melalui tiga jalur, ialah inflasi, fiskal, dan keseimbangan eksternal.
Asumsi Indonesia Crude Price dalam APBN 2026 berada di USD70 per barel, sedangkan ICP Juli telah mencapai USD81,68 per barel. ICP pada kisaran USD80-90 per barel tetap dapat dikelola andaikan kenaikan berjalan sementara. Namun, tekanan fiskal bakal semakin besar jika ICP memperkuat di kisaran USD90-100 per barel alias lebih selama beberapa bulan.
Dalam kondisi tersebut, pemerintah mempunyai sejumlah opsi, mulai dari menambah subsidi dan kompensasi, melakukan realokasi belanja, hingga menyesuaikan nilai daya domestik. Berdasarkan perkiraan dalam arsip fiskal pemerintah, setiap kenaikan ICP USD1 per barel dapat meningkatkan pendapatan negara sekitar Rp3,5-Rp4 triliun. Namun, shopping negara berpotensi naik sekitar Rp10,3 triliun, sehingga defisit dapat melebar sekitar Rp6,8 triliun.
Sebagai negara net oil importer, Indonesia menghadapi tekanan fiskal lebih besar ketika kenaikan nilai minyak berjalan lama.
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·