Rupiah Kembali Melemah, Pengamat Beberkan Penyebab hingga Strategi Penguatan

Sedang Trending 2 jam yang lalu
Rupiah Kembali Melemah, Pengamat Beberkan Penyebab hingga Strategi Penguatan ilustrasi(MI/Usman Iskandar)

NILAI tukar rupiah hari ini, Selasa (2/6) dibuka melemah di nomor Rp17.885 per dolar AS alias turun nyaris 80,5 poin. Pengamat mata duit dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan salah satu penyebabnya adalah eksalasi di Timur Tengah nan tetap bergejolak.

Ia memandang bahwa Iran menginginkan syarat perdamaian dengan Amerika adalah juga perdamaian di Libanon. "Iran kemungkinan besar bakal ikut kombinasi dalam perang Israel-Libanon nan ini membikin ketegangan tersendiri sehingga membikin indeks dolar kembali mengalami penguatan nan cukup signifikan," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (2/6).

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump pada Senin kemarin mendatangani proklamasi nan mengubah tarif impor beberapa tembaga, aluminium, dan besi.

"Keputusan dari Mahkamah Agung di Amerika nan mengatakan perang jual beli nan dilakukan oleh Trump itu adalah ilegal, kemudian bakal diterapkan dengan 10% tetapi rupanya dinaikkan menjadi 15%. Kita juga kudu tahu bahwa jaksa agung sebelumnya telah dipecat oleh Trump. Ini nan membikin ketegangan tersendiri sehingga rupiah kembali mengalami pelemahan," paparnya.

Dari sisi domestik, penguatan nilai minyak mentah bumi berakibat terhadap harga-harga di dalam negeri. Impor minyak nan begitu besar sampai 1,5 juta barel per hari m berakibat terhadap permintaan dolar nan cukup tinggi.

"Kemudian minyak nan impor sebesar 1,5 juta barel itu 85% adalah untuk BBM bersubsidi, ini pun juga membikin kebutuhan dolar nan cukup tinggi," ujar Ibrahim.

Walaupun kemarin rupiah sempat mengalami penguatan akibat devisa hasil ekspor (DHE) nan bakal diterapkan di dalam negeri, katanya, itu pun juga tetap belum ada keputusan pasti.

"Karena kita kudu memandang bahwa para eksportir Indonesia pun juga pasti ada kerja sama dengan luar negeri tentang penempatan DHE tersebut. Sehingga membikin hari ini rupiah kembali melemah nan cukup tajam," ungkap Ibrahim.

Di sisi lain, lanjutnya, akibat dari pelemahan mata duit rupiah ini berakibat terhadap kelas menengah ke bawah. Harga-harga relatif lebih tinggi, kemudian perusahaan-perusahaan berbasis padat karya pun juga mengalami stagnasi dan kemungkinan besar bakal terjadi pemutusan hubungan kerja (PHK).

"Barang-barang impor seperti kacang kedelai, jagung, pupuk, ini pun juga pasti bakal berakibat negatif. Kita kudu tahu bahwa semua barang-barang di dalam negeri ini kebanyakan adalah impor sehingga pada saat rupiah mengalami pelemahan terhadap dolar, terhadap dolar Singapura, ini bakal berakibat terhadap semua kebutuhan pokok dari kelas menengah sampai kelas ke bawah," tuturnya.

Kndisi tersebut, kata Ibrahim berpengaruh sekali terhadap daya beli masyarakat. Harga-harga saat ini nan relatif lebih mahal sedikit menurunkan daya beli masyarakat.

"Apalagi ketakutan-ketakutan tentang kondisi saat ini, walaupun BBM bersubsidi tidak dinaikkan, tetapi akibat dari kenaikan nilai terutama harga-harga bahan pokok di pasar-pasar tradisional nan sudah meningkat cukup tinggi, ini kemungkinan besar bakal berakibat terhadap inflasi," ungkapnya.

Pada saat inflasi tinggi kemungkinan besar Bank Indonesia bakal kembali meningkatkan suku bunga. "Target dari Bank Indonesia sendiri sampai akhir tahun adalah 1%, 100 pedoman poin. Artinya bisa saja dalam pertemuan di bulan Juni ini Bank Indonesia bakal meningkatkan suku kembang 25 pedoman poin," ujarnya.

Menurut Ibrahim, rupiah bakal menguat andaikan pemerintah siap mencari utang baru di luar negeri. Ia menyebut Dana Moneter Internasional alias IMF dan Bank Dunia sudah memberikan angin segar untuk memberikan pinjaman.

"Tergantung dari pemerintah apakah pemerintah siap untuk menerima pinjaman dari IMF maupun Bank Dunia. Kalau seandainya menerima berfaedah banyak sekali MoU kelak nan kudu ditatangkan dari pemerintah terutama tentang masalah subsidi. Subsidi kudu dibuang, subsidi kudu dihapuskan, itulah kemauan dari Bank Dunia maupun IMF. Itu langkah satu-satunya untuk menguatkan mata duit rupiah," tuturnya.

Pasalnya, kata dia, angan lain untuk penguatan rupiah adalah ketik Selat Hormuz dibuka dan perang selesai. "Tetapi angan Selat Hormuz dibuka sampai tahun 2027 kemungkinan besar tidak bakal terjadi. Dan ini kemungkinan perang bakal panjang. Sehingga membikin langkah satu-satunya rupiah menguat adalah minta utang baru dari IMF maupun Bank Dunia," pungkasnya. (Ifa/P-3)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia