
Rupiah Hari Ini (Foto: Okezone)
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 27 poin alias sekitar 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (25/5/2026).
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal saat ini sebenarnya dipengaruhi oleh dua sisi mata uang, baik nan berkarakter mendinginkan tensi pasar maupun nan memicu kekhawatiran baru. Di satu sisi, pasar sempat merespons positif sinyal tenteram di Timur Tengah nan ditiupkan oleh Donald Trump.
“Yang positifnya itu adalah pasar ini optimis bahwa Amerika Serikat dan Iran semakin mendekati kesepakatan perdamaian. Walaupun ya tetap ada perselisihan mengenai isu-isu kunci tentang Blokade Slut Hormuz. Nah sebelumnya di hari Sabtu, Donald Trump ini mengatakan bahwa Washington dan Iran ini sebagian besar negosiasinya itu kemungkinan bakal disepakati nan diperakasai oleh Pakistan,” tulis Ibrahim dalam risetnya.
Namun, Ibrahim mengingatkan para pelaku pasar agar tidak terlalu naif dan terburu-buru merayakan draf perdamaian tersebut.
Menurut analisisnya, terdapat ganjalan struktural nan sangat sensitif nan berisiko besar membalikkan keadaan dan memicu kegagalan total pada kesepakatan geopolitik tersebut.
"Nah tetapi kita kudu ingat juga bahwa apakah notak kesepakaman ini bakal ditatangani? Tidak. Karena nan lebih krusial itu adalah tentang masalah Uranium. Kemudian nan kedua tentang masalah biaya nan dibekukan dari tahun 70-an. Ya ini pun juga cukup menarik dan saya kemungkinan besar beranggapan bahwa perdamaian ini kemungkinan besar bakal kandas total," jelas Ibrahim.
Faktor eksternal lain nan memperparah tekanan terhadap Rupiah adalah beralihnya ekspektasi pasar mengenai arah kebijakan moneter bank sentral AS (The Fed). Jajaran petinggi Federal Reserve dilaporkan mulai kompak menyuarakan sinyal pengetatan moneter (hawkish) andaikan parameter inflasi di Negeri Paman Sam tidak kunjung menjinak mendekati sasaran sasaran.
Tekanan psikologis bagi instrumen mata duit negara berkembang diprediksi bakal semakin pekat sepanjang pekan ini, mengingat pasar sedang bersiap menanti rilis info makroekonomi AS berskala besar.
2 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·