Rupiah Hari Ini 9 Juni 2026: Menguat ke Rp18.134

Sedang Trending 1 bulan yang lalu
 Menguat ke Rp18.134 ilustrasi(Antara)

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka menguat pada perdagangan Selasa pagi (9/6). Rupiah sukses memanfaatkan momentum meredanya ketegangan geopolitik dunia untuk menekan kekuasaan greenback.

Berdasarkan info pasar nan dihimpun pada Selasa pagi, rupiah hari ini bergerak menguat 54 poin alias 0,29 persen ke posisi Rp18.134 per dolar AS. Sebelumnya, pada penutupan perdagangan hari Senin, rupiah berada di level Rp18.188 per dolar AS.

Analisis Pergerakan Rupiah

Penguatan rupiah ini sejalan dengan membaiknya sentimen akibat di pasar global. Ekspektasi pasar terhadap deeskalasi bentrok di Timur Tengah, khususnya antara Iran dan Israel, memberikan ruang bagi mata duit pasar berkembang (emerging markets) untuk bernapas lega.

Selain aspek geopolitik, penanammodal juga tengah mencermati rilis info ekonomi domestik dan kebijakan moneter AS nan terus membayangi pergerakan aset berisiko. Penurunan nilai minyak mentah dunia nan terjadi pagi ini turut memberikan sentimen positif bagi stabilitas nilai tukar rupiah, mengingat posisi Indonesia sebagai negara importir minyak.

Ringkasan Kurs Rupiah Selasa, 09 Juni 2026:

Indikator Nilai
Kurs Saat Ini Rp18.134 per dolar AS
Perubahan +54 Poin (0,29%)
Penutupan Sebelumnya Rp18.188 per dolar AS
Status Menguat

Proyeksi Pasar

Para analis memperkirakan rupiah tetap berpotensi bergerak naik turun sepanjang hari ini. Fokus pelaku pasar bakal tertuju pada rilis info inflasi Amerika Serikat nan dijadwalkan pekan ini, nan bakal menjadi kompas bagi arah kebijakan suku kembang The Fed ke depan.

Di sisi lain, penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan pagi ini juga memberikan sinyal positif adanya aliran modal masuk (capital inflow) nan mendukung penguatan nilai tukar rupiah di pasar spot.

Investor disarankan untuk tetap waspada terhadap volatilitas pasar kurs asing, mengingat rumor blokade ekonomi dan negosiasi nuklir Iran nan tetap menjadi variabel ketidakpastian di tingkat global.

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia