Rupiah dalam Bayang-Bayang Rp18.000 per Dolar AS Efek Evaluasi MSCI

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Rupiah dalam Bayang-Bayang Rp18.000 per Dolar AS Efek Evaluasi MSCI

Rupiah dalam Bayang-bayang Rp18.000 per Dolar AS Efek Evaluasi MSCI (Foto: Okezone)

JAKARTA - Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diproyeksikan tetap berada dalam tren pelemahan akibat gempuran sentimen eksternal dan akibat fiskal domestik. Meningkatnya tekanan inflasi di Negeri Paman Sam serta ketidakpastian tata kelola anggaran di dalam negeri memicu kewaspadaan tinggi pelaku pasar kurs asing.

"Untuk perdagangan hari ini, mata duit rupiah naik turun namun berisiko ditutup melemah di rentang Rp17.930 hingga Rp17.990 per dolar AS. Lonjakan inflasi konsumen AS nan berada di atas ekspektasi pasar kembali memperkuat posisi dolar dan menekan mata duit negara berkembang," ujar Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam analisisnya, Jumat (16/10/2026).

Dari sisi eksternal, rilis Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan September mencatatkan kenaikan 0,6 persen secara bulanan (month-to-month), meningkat dari realisasi Agustus sebesar 0,4 persen dan sejalan dengan konsensus. 

Kenaikan tersebut mengerek inflasi tahunan AS menjadi 3,7 persen dari sebelumnya 3,4 persen, melampaui proyeksi pasar di level 3,6 persen.

Kenaikan nilai bensin, solar, dan komoditas pangan menjadi motor utama laju inflasi umum tersebut. 

Sementara itu, CPI inti nan mengecualikan komponen makanan dan daya tercatat naik 0,3 persen secara bulanan, melampaui perkiraan 0,2 persen sekaligus menyamai kecepatan Agustus. Secara tahunan, inflasi inti bertengger di level 2,6 persen dari posisi sebelumnya 2,4 persen, berada di atas perkiraan analis sebesar 2,5 persen. 

Penguatan inflasi inti dipicu oleh naiknya biaya tempat tinggal, sewa setara pemilik, sektor rekreasi, pendidikan, serta lonjakan nilai mobil dan truk bekas.

Pelaku pasar dunia sekarang menahan transaksi sembari mencermati rilis datablanjutan seperti Indeks Harga Produsen (PPI), Penjualan Ritel, klaim awal tunjangan pengangguran, serta rangkaian pidato para pejabat The Fed guna membaca arah suku kembang acuan.

Di pasar modal domestik, sentimen negatif turut diperparah oleh ancaman penurunan berat saham Indonesia dalam indeks referensi global. Investor mencermati keberlanjutan reformasi bursa dan maraknya suspensi perdagangan saham nan berpotensi memicu arus modal asing keluar.

"Pasar saham Indonesia menghadapi tekanan besar menjelang pertimbangan Morgan Stanley Capital International pada November 2026, menyusul perkiraan berat domestik dalam MSCI Emerging Markets nan hanya tersisa sekitar 0,43 persen pada akhir September. Keputusan lembaga tersebut nantinya sangat berjuntai pada bukti bahwa reformasi pasar modal melangkah efektif untuk mencegah akibat penurunan pengelompokkan pasar," jelas Ibrahim.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com
↑