Jakarta -
Badan Informasi Geospasial (BIG) mencatat detik-detik aktivitas Gunung Anak Krakatau sebelum erupsi pada 5 September pekan kemarin. Pemantauan berasas gambaran satelit ini merekam aktivitas gunung berapi itu dari mulai tenang hingga menyemburkan abu vulkanik.
BIG menggunakan pemantauan gambaran Sentinel-2 nan diolah melalui platform Piksel. Citra nan direkam sejak 8 Agustus hingga 5 September 2026 ini memperlihatkan perubahan kondisi gunung mulai dari relatif tenang, munculnya semburan, hingga aktivitas erupsi nan menghasilkan sebaran material vulkanik.
Pada 8 Agustus 2026, gambaran Sentinel-2 menunjukkan kondisi Anak Krakatau nan relatif tenang. Belum terlihat semburan nan menonjol dari area gunung. Kondisi mulai berubah pada 16 Agustus 2026. Citra memperlihatkan semburan nan keluar dari area Anak Krakatau dan memanjang ke arah perairan di sekitarnya. Aktivitas tersebut Kembali terlihat pada gambaran 21 dan 26 Agustus.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Semburan nan keluar dari Anak Krakatau semakin terlihat jelas pada 3 September 2026. Perbandingan gambaran dari beberapa tanggal tersebut memberikan gambaran mengenai perubahan aktivitas Anak Krakatau secara bertahap.
Direktur Pemetaan Tematik Badan Informasi Geospasial (BIG) Gatot Haryo Pramono menjelaskan, gambaran satelit dapat memberikan perspektif tambahan untuk memahami perubahan suatu wilayah.
"Penginderaan jauh memungkinkan kita memandang perubahan suatu wilayah dari waktu ke waktu. Melalui komparasi citra, perkembangan suatu kejadian dapat terdokumentasikan secara visual dan memberikan info spasial nan melengkapi hasil pengamatan di lapangan," kata Gatot dalam keterangan kepada wartawan, Rabu (9/9/2026).
Pemantauan berasas gambaran satelit itu memperlihatkan perubahan pada aktivitas Anak Krakatau di 5 September. Aktivitas Anak Krakatau pada tanggal tersebut terlihat jauh lebih kuat dibandingkan gambaran pada periode sebelumnya.
Dalam visualisasi pada platform Piksel, warna oranye memperlihatkan sebaran abu alias material vulkanik nan keluar dari area Anak Krakatau. Material tersebut kemudian menyebar mengikuti kondisi atmosfer pada saat pengamatan. Citra ini tidak hanya memperlihatkan aktivitas di sekitar tubuh gunung, tetapi juga membantu memberikan gambaran mengenai arah dan cakupan sebaran material vulkanik.
Gatot mengatakan aktivitas Anak Krakatau kemudian meluas hingga wilayah nan lebih jauh. Pada 6 September 2026, sebaran abu vulkanik berakibat pada operasional penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta.
"Data satelit bukan untuk menggantikan pengamatan dan info dari lembaga nan berwenang, tetapi menjadi info pendukung nan memperkaya pemahaman kita terhadap suatu kejadian. Dengan mengintegrasikan info geospasial dan info kebencanaan lainnya, kita dapat memperoleh gambaran nan lebih utuh mengenai perubahan dan dampaknya," jelasnya.
(ygs/azh)
1 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·