ilustrasi(Antara)
Ruang Kebijakan Kesehatan Indonesia (Rukki) secara resmi mengusulkan kepada pemerintah untuk meningkatkan tarif cukai rokok elektronik. Langkah ini dinilai mendesak sebagai upaya strategis dalam mengatasi persoalan kecanduan nikotin nan kian mengkhawatirkan di tanah air.
Ketua Rukki, Mouhamad Bigwanto, mengungkapkan bahwa nilai rokok elektronik nan saat ini relatif terjangkau menjadi halangan besar bagi efektivitas program pemerintah dalam menekan nomor prevalensi merokok. Menurutnya, nilai nan murah berpotensi memicu konsumen melakukan down trading alias beranjak ke produk nan lebih ekonomis alih-alih berakhir mengonsumsi nikotin.
"Kita berambisi pemerintah kudu meningkatkan cukai untuk rokok elektronik lantaran jika ini terlampau murah, upaya untuk membikin orang berakhir dari kecanduan nikotin itu bakal gagal," ujar Bigwanto dalam obrolan berbareng media di Jakarta, Senin (14/9).
Bahaya Disparitas Harga dan Fenomena Down Trading
Bigwanto menekankan pentingnya kebijakan cukai nan memperhatikan disparitas nilai antar-lapisan produk tembakau. Tanpa pengaturan nilai nan ketat, konsumen nan mau berakhir merokok konvensional justru hanya bakal beranjak ke rokok elektronik lantaran aspek biaya.
Berdasarkan studi komparasi nan dilakukan Rukki terhadap rokok elektronik, rokok konvensional, dan produk nikotin oral, ditemukan kebenaran mengejutkan mengenai konsentrasi nikotin. Rukki menyetarakan penggunaan produk berasas kandungan nikotinnya untuk mendapatkan komparasi nan adil.
"Ditemukan bahwa satu mililiter cairan rokok elektronik itu kita samakan dengan 13 batang rokok konvensional," jelas Bigwanto. Ia menambahkan bahwa komparasi nilai ini difokuskan pada cairan (liquid) rokok elektronik, mengingat cukai dikenakan pada cairan tersebut, bukan pada perangkatnya.
Ancaman bagi Pelajar dan Anak-anak
Selain masalah kecanduan pada orang dewasa, Rukki menyoroti tren penggunaan rokok elektronik di kalangan anak-anak dan pelajar. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa penggunaan rokok elektronik di lingkungan sekolah sekarang lebih dominan dibandingkan rokok konvensional.
Keterjangkauan nilai disinyalir menjadi pintu masuk utama bagi anak-anak untuk mengakses produk tersebut. Bahkan, ditemukan kasus di mana pelajar turut menjadi penjual rokok elektronik di sekolah mereka sendiri.
"Temuan itu banyak sekali anak nan jualan di sekolah. Memang produk ini terjangkau buat anak-anak," ungkapnya.
Sebagai penutup, Rukki mendesak pemerintah untuk segera memperkuat kebijakan cukai rokok elektronik. Penguatan izin ini diharapkan dapat memastikan nilai produk tidak terlalu murah, sehingga tidak lagi menjadi pengganti bagi konsumen nan semestinya didorong untuk betul-betul lepas dari ketergantungan nikotin. (Ant/E-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·