Rukam (Flacourtia rukam), Rasa Sepat dengan Khasiat Hebat

Sedang Trending 3 bulan yang lalu
Ilustrasi buah tropis. Foto: Shutterstock

Di antara beragam buah tropis Indonesia, Flacourtia rukam (rukam) termasuk salah satu nan mulai jarang mendapat perhatian. Nama umum tanaman rukam berada dalam bahasa Inggris—buah rukan alias rukem ini disebut indian prune.

Di beberapa negara lain, beberapa nama diberikan—yaitu Filipina: amaiit (tagalog); Thailand: Ta Khop-thai; Malaysia: rukam manis dan rukam gajah; Indonesia: rukem, dobel rukem, rukam (Jawa), Filipina: bitongol; Tonga, Samoa, Futuna: filimoto; Madagascar: Ciruela, Madura: rukam, Kalimantan Timur: a'ga omang, Kepulauan Riau: Rokam, Bali: rukem/kem, dan Sumatera Barat: sirukam.

Buah mini bercita rasa masam ini dulu cukup dikenal di beragam wilayah Asia Tenggara, tapi sekarang keberadaannya lebih sering dijumpai sebagai tanaman liar di rimba alias pekarangan. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa rukam mempunyai kandungan senyawa bioaktif nan berpotensi memberikan faedah kesehatan.

Buah rukam nan belum matang. Foto: Dokumentasi pribadi

Rukam merupakan tanaman dari famili Salicaceae nan tumbuh di wilayah tropis dan subtropis. Buahnya berbentuk bulat mini dengan diameter 2—2,5 cm, berwarna hijau sampai merah muda saat belum matang dan berubah menjadi merah hingga ungu kehitaman ketika matang. Rasa masam nan kuat membikin rukam jarang dikonsumsi segar, tetapi lebih sering diolah menjadi rujak, manisan, alias produk fermentasi tradisional.

Kaya Vitamin C dan Antioksidan

Salah satu kelebihan utama rukam adalah kandungan vitamin C nan relatif tinggi. Vitamin C dikenal berkedudukan krusial dalam meningkatkan sistem imun, membantu pembentukan kolagen, serta melindungi sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas.

Selain itu, beberapa studi fitokimia melaporkan bahwa buah rukam mengandung senyawa fenolik dan flavonoid, dua golongan antioksidan alami nan berkedudukan dalam menangkal stres oksidatif. Stres oksidatif sendiri diketahui berasosiasi dengan beragam penyakit degeneratif, seperti penyakit jantung, diabetes, dan penuaan dini.

Aktivitas antioksidan pada ekstrak buah rukam telah diuji secara in vitro dan menunjukkan keahlian nan cukup signifikan dalam menangkal radikal bebas. Hal ini menempatkan rukam sebagai salah satu buah lokal nan berpotensi dikembangkan sebagai pangan fungsional.

Buah rukam nan sudah matang. Foto: Dokumentasi pribadi

Potensi Antibakteri dan Antiinflamasi

Tak hanya buahnya, bagian lain dari tanaman rukam seperti daun dan kulit batang juga telah diteliti kandungan senyawa dan manfaatnya bagi kesehatan. Beberapa penelitian melaporkan bahwa ekstrak daun rukam mempunyai aktivitas antibakteri, terutama terhadap kuman penyebab gangguan pencernaan.

Senyawa flavonoid dan tanin nan terkandung di dalamnya juga diketahui mempunyai sifat antiinflamasi, ialah membantu meredakan peradangan. Inilah sebabnya dalam pengobatan tradisional, daun rukam kerap digunakan untuk membantu mengatasi masalah, seperti diare ringan, gangguan lambung, dan sariawan.

Mendukung Kesehatan Pencernaan

Rasa masam alami pada rukam berasal dari kandungan masam organik nan dapat membantu merangsang produksi enzim pencernaan. Dalam praktik tradisional, rukam sering dikonsumsi dalam jumlah mini untuk meningkatkan nafsu makan dan membantu melancarkan pencernaan.

Kandungan serat pada buah ini juga berkontribusi dalam menjaga kesehatan saluran cerna dan membantu keseimbangan mikrobiota usus, meskipun penelitian lanjutan tetap diperlukan untuk memastikan pengaruh ini secara klinis.

Peluang Pengembangan dan Pelestarian

Meski mempunyai banyak potensi, rukam tetap tergolong kurang dibudidayakan secara serius. Padahal, dengan pengolahan nan tepat, buah ini dapat dikembangkan menjadi beragam produk berbobot tambah, seperti selai, sirup, saribuah fermentasi, hingga bahan baku suplemen herbal. Perbanyakan tanaman rukam dapat dilakukan dengan biji dan cangkok.

Mengangkat kembali rukam ke ruang publik tidak hanya membuka kesempatan ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada pelestarian keanekaragaman hayati lokal. Di tengah tren dunia kembali ke bahan alami dan pangan fungsional, rukam sesungguhnya mempunyai modal kuat untuk bersaing, asal didukung riset lanjutan dan penemuan pengolahan.

Buah mini nan masam ini membuktikan bahwa kekayaan alam Indonesia tidak selalu tampil manis, tetapi menyimpan potensi besar bagi kesehatan dan masa depan pangan lokal.

________________________________________________

Oleh: Sopian, SP., Agung Kurniawan S.Si., Lutfi Rahmaningtiyas S.Hut.

Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan