Riset Pangan Lokal Jadi Kunci Inovasi, Kolaborasi Kampus dan Industri kian Dibutuhkan

Sedang Trending 59 menit yang lalu
Riset Pangan Lokal Jadi Kunci Inovasi, Kolaborasi Kampus dan Industri kian Dibutuhkan Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional, PT Indofood Sukses Makmur Tbk (Indofood) menegaskan komitmen untuk mendukung pengembangan sumber daya manusia Indonesia. Tampak Stefanus Indrayana, Head of Corporate Communications PT Indofo(Dok Indofood)

POTENSI pangan lokal Indonesia dinilai tetap sangat besar untuk dikembangkan menjadi solusi pangan masa depan. Namun di tengah tantangan ketahanan pangan, perubahan pola konsumsi, hingga kebutuhan penemuan berbasis kesehatan, riset dinilai tidak cukup berakhir di laboratorium.

Kolaborasi antara bumi upaya dan akademik semakin dibutuhkan agar hasil penelitian dapat berkembang menjadi penemuan nan relevan, aplikatif, dan berakibat nyata bagi masyarakat. Kebutuhan tersebut juga sejalan dengan upaya mendorong lahirnya generasi peneliti muda nan tidak hanya kuat secara akademik, tetapi juga inovatif, adaptif, dan mempunyai pola pikir scientific-preneur. Dalam konteks ini, pengembangan riset pangan berbasis potensi dan kearifan lokal dinilai menjadi salah satu sektor strategis nan dapat terus diperkuat di Indonesia.

Upaya memperkuat ekosistem riset pangan berbasis potensi lokal itu salah satunya dilakukan melalui Program Indofood Riset Nugraha (IRN). Program support riset bagi mahasiswa S1 nan dikembangkan PT Indofood Sukses Makmur Tbk tersebut tahun ini memasuki dua dasawarsa pelaksanaannya. Diluncurkan pertama kali pada 2006 sebagai kelanjutan dari Program Bogasari Nugraha nan dimulai sejak 1998, IRN menjadi salah satu program pengembangan sumber daya manusia di bagian riset pangan nan konsisten melangkah selama 20 tahun.

Head of Corporate Communications PT Indofood Sukses Makmur Tbk, Stefanus Indrayana, mengatakan program tersebut diharapkan dapat terus mendorong lahirnya generasi peneliti muda Indonesia nan bisa menghadirkan solusi bagi masyarakat.

“Tahun ini, penyelenggaraan Program Indofood Riset Nugraha memasuki usia ke-20 tahun, sebuah bentuk nyata komitmen kami untuk mendukung semangat generasi peneliti muda Indonesia. Bertepatan dengan momentum peringatan Hari Kebangkitan Nasional, kami berambisi IRN dapat terus membangkitkan semangat peneliti muda Indonesia menjadi scientific-preneur nan inovatif, nan siap berkontribusi bagi masyarakat dan bangsa, khususnya dalam mengembangkan potensi pangan lokal kita menjadi solusi dan kesempatan upaya nan berdampak,” ujarnya.

Selama dua dasawarsa pelaksanaannya, Program IRN telah menerima lebih dari 8.300 proposal penelitian dan mendanai lebih dari 1.100 penelitian mahasiswa dari lebih dari 200 universitas dan perguruan tinggi di Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua. Guru Besar IPB sekaligus Ketua Tim Pakar IRN, Prof Purwiyatno Hariyadi, menilai generasi muda mempunyai peran krusial dalam menjawab tantangan pangan masa depan Indonesia.

“Untuk mewujudkan visi Indonesia Emas, diperlukan generasi peneliti nan tidak hanya pandai secara akademi, tapi berani untuk bereksplorasi dan berinovasi, terutama dalam mengoptimalkan potensi serta kearifan lokal guna melahirkan solusi masa depan,” katanya.

Menurutnya, Indonesia mempunyai kekayaan pangan lokal dan pangan fungsional nan sangat besar, namun tantangannya adalah gimana hasil riset dapat ditransformasikan menjadi solusi nan memberi akibat luas.

"Tantangannya adalah gimana riset tidak berakhir di laboratorium, melainkan bisa mentransformasi potensi tersebut menjadi solusi pangan masa depan nan memberikan akibat ganda: meningkatkan derajat kesehatan masyarakat sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Selain memberikan support biaya penelitian, IRN juga melibatkan tim master lintas disiplin pengetahuan dari beragam perguruan tinggi dan sektor industri. Para master dari bagian teknologi pangan, sosial ekonomi, pertanian, peternakan, gizi dan kesehatan, perikanan dan kelautan, genetika, hingga praktisi industri terlibat dalam proses seleksi, pendampingan, hingga pertimbangan hasil penelitian mahasiswa. Para peserta juga dibekali training soft skill untuk membangun karakter peneliti muda nan kritis, kreatif, dan handal menghadapi perkembangan industri pangan.

Selama 20 tahun perjalanannya, IRN juga membentuk jejaring alumni lintas generasi nan sekarang berkecimpung sebagai peneliti, akademisi, profesional, entrepreneur, hingga penggerak penemuan pangan di beragam wilayah dan negara.

Salah satu alumni IRN, Prof. Fenny Martha Dwivany nan sekarang menjadi Guru Besar ITB, mengatakan pengalaman mengikuti IRN turut membentuk pola pikir kritis dan kolaboratif dalam perjalanan kariernya sebagai peneliti.

Sementara itu, alumni IRN angkatan 2017 nan sekarang berasosiasi di tim R&D Indofood, Mariska Priscilla, menilai pendampingan berbareng tim master selama program berjalan membantunya memandang riset sebagai solusi nan relevan bagi kebutuhan industri dan masyarakat.

Adapun alumni lainnya, Ratu Salsabila Astrakusuma nan sekarang melanjutkan kiprahnya sebagai scientific research enthusiast di Lille, Prancis, menyebut IRN memberikan keberanian untuk mengembangkan potensi pangan menjadi penemuan nan berkekuatan saing.

Tahun ini, rangkaian Program Indofood Riset Nugraha 2026–2027 bakal dimulai melalui aktivitas sosialisasi ke beragam universitas pada Juni 2026, dilanjutkan pembukaan pendaftaran hingga akhir Agustus 2026, proses seleksi tim pakar, hingga Simposium Pangan Nasional IRN pada Oktober 2026 sebagai ruang apresiasi dan obrolan penemuan pangan masa depan. (E-4)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia