RI Masih Impor 20 Juta KL BBM Bensin/Tahun, Tapi Bukan dari Arab Cs

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah mengungkapkan bahwa Indonesia tetap mengimpor bahan bakar minyak (BBM) jenis bensin dalam jumlah besar, ialah sekitar 20 juta kiloliter (KL) per tahun. Namun demikian, impor tersebut bukan berasal dari negara-negara Timur Tengah seperti Arab Saudi.

Semula, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa total kebutuhan BBM nasional pada 2026 diperkirakan mencapai 39 juta hingga 40 juta KL.

"Total kebutuhan kita per tahun itu di 39 juta kiloliter untuk 2026 ini sampai dengan 40 juta. Beda-beda tipis antara solar dan bensin," ujar Bahlil dalam aktivitas Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/4/2026).

Menurut Bahlil, sebelum proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan beroperasi, kapabilitas produksi BBM dalam negeri hanya sekitar 14,3 juta KL, sehingga Indonesia kudu mengimpor hingga 25 juta KL BBM.

Namun setelah kilang RDMP Balikpapan mulai beroperasi, kapabilitas produksi bensin nasional meningkat signifikan.

"Dengan RDMP kita operasikan itu menghasilkan 5,6 juta sampai 5,7 juta bensin. Berarti impor kita sekarang tinggal 20 juta. Dan impor ini tidak kita lakukan dari negara Middle East. Jadi tidak ada dari negara-negara nan lewat Selat Hormuz untuk BBM jadinya," katanya.

Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyampaikan ketergantungan Indonesia terhadap impor BBM jenis bensin tetap didominasi oleh sejumlah negara utama, dengan Singapura menempati posisi teratas sebagai pemasok terbesar.

Sekretaris Direktorat Jenderal Migas Muhammad Rizwi Jilanisaf Hisjam memaparkan pada 2025 sekitar 63% impor bensin Indonesia berasal dari Singapura. Posisi berikutnya ditempati Malaysia dengan kontribusi sebesar 33,14%.

"Di mana untuk importasi minyak bensin nan paling dominan ini berasal dari Singapura dan Malaysia lantaran pada posisi bensin kebutuhan sampai saat ini tetap memerlukan importasi," kata dia dalam RDP berbareng Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (9/4/2026).

Sementara itu, kontribusi negara lain relatif kecil. Antara lain ialah China hanya sekitar 1,32%, Oman 1,05%, Uni Emirat Arab 0,72%, dan Korea 0,48%.

Tren tersebut bersambung pada 2026. Hingga awal April, Singapura tetap menjadi pemasok utama dengan porsi meningkat menjadi sekitar 64,23%. Disusul Malaysia dengan kontribusi sebesar 27,18%.

Adapun, sisanya dipasok oleh Oman dan Uni Emirat Arab dalam porsi nan jauh lebih mini dibanding dua negara utama tersebut.

(pgr/pgr)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya
Sumber CNBC Indonesia News
CNBC Indonesia News