Jakarta -
Indonesia melalui DPD RI resmi ditetapkan sebagai tuan rumah Inter-Parliamentary Speakers' Conference (ISC) ke-3. Keputusan tersebut diambil secara aklamasi pada pertemuan para ketua parlemen negara peserta ISC ke-2 di Phnom Penh, Kamboja.
Penetapan Indonesia sebagai tuan rumah ISC ke-3 terlebih dulu dibahas dalam pertemuan para ketua parlemen negara peserta. Setelah seluruh peserta menyepakati Indonesia secara aklamasi, keputusan tersebut kemudian diumumkan secara resmi oleh Presiden Senat Kamboja sekaligus mantan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen, dalam forum ISC ke-2.
Ketua DPD RI Sultan Baktiar Najamudin menilai penetapan Indonesia sebagai tuan rumah ISC ke-3 merupakan corak kepercayaan dari parlemen-parlemen bumi sekaligus capaian diplomasi parlemen Indonesia. Ia menilai penunjukan tersebut merupakan kehormatan sekaligus kesempatan bagi Indonesia untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun perbincangan dan kerja sama antarparlemen dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kepercayaan untuk menjadikan Indonesia sebagai tuan rumah ISC ke-3 tentu merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab. Ini menunjukkan bahwa Indonesia mempunyai posisi dan kepercayaan di tengah organisasi parlemen bumi untuk ikut mengambil peran dalam memperkuat perdamaian, kepatuhan terhadap norma internasional, kesejahteraan, dan keberlanjutan," kata Sultan dalam keterangannya, Sabtu (29/8/2026).
Lebih lanjut, Sultan mengatakan ISC ke-3 di Indonesia nantinya tidak hanya menjadi forum diplomasi parlemen, tetapi juga ruang untuk mempertemukan beragam perspektif negara dalam mencari titik jumpa atas persoalan dunia nan semakin kompleks.
"Dunia hari ini memerlukan lebih banyak ruang perbincangan dan kerja sama. Parlemen mempunyai peran krusial untuk memastikan aspirasi masyarakat, kepentingan perdamaian, keadilan, dan keberlanjutan dapat menjadi bagian dari agenda bersama. Indonesia siap menjadi rumah bagi perbincangan tersebut," ujarnya.
Bagi DPD RI, lanjut Sultan, penunjukan sebagai tuan rumah juga mempunyai makna tersendiri. Sebagai lembaga representasi kewilayahan, DPD RI mau membawa perspektif wilayah dan keberagaman Indonesia sebagai bagian dari percakapan global.
Sultan menegaskan tantangan bumi tidak hanya terjadi di tingkat nasional, tetapi juga dirasakan langsung oleh masyarakat di daerah, mulai dari perubahan iklim, ketimpangan pembangunan, hingga persoalan kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan.
"Indonesia adalah negara nan besar, beragam, dan mempunyai pengalaman panjang dalam merawat persatuan di tengah perbedaan. Pengalaman itu menjadi modal krusial untuk menghadirkan forum nan membuka ruang dialog, saling memahami, dan membangun kerja sama," tegasnya.
Sultan menjelaskan ISC merupakan forum nan mempertemukan para ketua parlemen beragam negara untuk membangun perbincangan mengenai isu-isu strategis dunia, termasuk perdamaian, kepatuhan terhadap norma internasional, kesejahteraan, lingkungan, dan pembangunan berkelanjutan.
Bagi Indonesia, penyelenggaraan ISC ke-3 membuka ruang untuk memperkuat diplomasi parlemen sekaligus membawa perspektif negara kepulauan dan kepentingan wilayah ke dalam percakapan global.
Sultan menambahkan, Indonesia mempunyai modal krusial untuk menjalankan peran tersebut. Sebagai negara kepulauan dengan keberagaman wilayah, masyarakat, budaya, dan potensi sumber daya nan sangat luas, Indonesia berilmu dalam mengelola perbedaan sekaligus menjaga persatuan.
Menurunya, pengalaman tersebut dapat menjadi kontribusi Indonesia dalam memperkuat semangat perbincangan dan kerjasama di tengah meningkatnya beragam tantangan global. Ia menilai kerja sama antarparlemen semakin krusial lantaran beragam persoalan bumi memerlukan support kebijakan dan komitmen berbareng nan melibatkan representasi masyarakat.
"Kita memerlukan lebih banyak ruang perbincangan dan kerja sama. Parlemen mempunyai peran krusial lantaran membawa mandat masyarakat. Indonesia mau mengambil bagian dalam membangun semangat kerjasama itu dan menjadikan ISC ke-3 sebagai forum nan menghasilkan pendapat serta kerja sama nan bermanfaat," ungkapnya.
Bagi DPD RI, lanjutnya, kepercayaan menjadi tuan rumah juga membuka kesempatan lebih luas untuk memperkenalkan potensi dan kepentingan wilayah kepada organisasi internasional. Menurut Sultan, Forum tersebut dapat menjadi ruang pertukaran pendapat dan pengalaman, sekaligus memperluas jejaring kerja sama nan pada akhirnya dapat memberikan faedah bagi pembangunan Indonesia hingga ke daerah.
Adapun ISC pertama kali dideklarasikan melalui penyelenggaraan ISC ke-1 di Seoul, Korea Selatan, pada 2025. Forum tersebut dihadiri ketua parlemen dari 45 negara. Ban Ki-moon, diplomat dan politikus asal Korea Selatan nan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kedelapan pada 1 Januari 2007 hingga 31 Desember 2016, juga datang sebagai keynote speaker dalam forum tersebut. Forum ini kemudian dilanjutkan melalui ISC ke-2 di Phnom Penh, Kamboja, nan dihadiri ketua parlemen dari 31 negara.
Dengan ditetapkannya Indonesia secara aklamasi sebagai tuan rumah ISC ke-3, DPD RI bakal berkedudukan dalam mempersiapkan forum tersebut sebagai ruang perbincangan para ketua parlemen dunia. Melalui gelaran ini, DPD RI juga bakal membawa semangat kolaborasi, perdamaian, dan kepentingan masyarakat serta wilayah Indonesia ke panggung internasional.
Sultan mengungkapkan dalam waktu dekat, bakal melaporkan hasil penetapan Indonesia sebagai tuan rumah ISC ke-3 Tahun 2027 kepada Presiden Republik Indonesia. Ia juga bakal menyampaikan hasil tersebut kepada Ketua MPR RI dan Ketua DPR RI sebagai sesama ketua lembaga parlemen di Indonesia.
Ia menekankan penunjukan Indonesia sebagai tuan rumah ISC ke-3 bukan hanya menjadi kepercayaan kepada DPD RI, tetapi juga merupakan corak kepercayaan terhadap parlemen Indonesia secara keseluruhan. Kepercayaan tersebut, menurutnya, kudu dimanfaatkan untuk semakin memperkuat posisi dan peran parlemen Indonesia dalam percaturan internasional.
"Penunjukan Indonesia ini sekaligus membangun dan memperkuat kepercayaan bumi internasional terhadap parlemen Indonesia. Kita mau membawa kepercayaan terhadap parlemen Indonesia ke tingkat dunia, menunjukkan bahwa parlemen Indonesia bisa menjadi bagian krusial dalam membangun dialog, kerja sama, perdamaian, dan solusi atas beragam persoalan global," tegas Sultan.
(akn/ega)
4 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·