Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan besarnya beban devisa negara akibat impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) nan terus meningkat setiap tahun.
Menurut Bahlil, Indonesia setidaknya kudu mengeluarkan devisa hingga Rp137 triliun per tahun untuk memenuhi kebutuhan LPG nasional. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp80 triliun hingga Rp87 triliun ditanggung pemerintah dalam corak subsidi.
"Tahu nggak? Itu nilai LPG subsidinya sejak pertama kali sampai sekarang nggak pernah kita rubah-rubah. Sekarang kita shopping LPG per tahun devisa kita keluar Rp137 triliun. Dari Rp137 triliun itu nan disubsidi oleh negara Rp80 sampai Rp87 triliun per tahun Bos," kata Bahlil dalam aktivitas Sinergi Alumni IPB Untuk Bangsa, Sabtu (2/4/2026).
Hal ini tentunya menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam menjaga ketahanan daya nasional sekaligus mengelola anggaran subsidi agar lebih tepat sasaran.
Bahlil membeberkan, kebutuhan LPG nasional saat ini mencapai sekitar 8,6 juta ton per tahun. Namun, kapabilitas produksi dalam negeri tetap jauh dari mencukupi.
Setidaknya, dari kapabilitas terpasang sebesar 1,9 juta ton, realisasi produksi maksimal hanya berada di kisaran 1,6 hingga 1,7 juta ton per tahun. Akibatnya, Indonesia kudu mengimpor sekitar 7 juta ton LPG setiap tahunnya.
"Masalahnya adalah pertanyaan nan selalu saya dapat info kenapa kita tidak membikin LPG dalam negeri? Padahal kita gas melimpah. Gas kita nggak pernah impor lagi lho. Gas itu sudah semuanya industri dalam negeri. nan kita apalagi kita ekspor 30% dari total lifting gas kita. Cuman kenapa LPG kita impor? Karena LPG itu bahan bakunya C3, C4... C3, C4 itu berbeda dengan kebanyakan gas kita, gas kita itu C1, C2. C3, C4 ini kecil, makanya kita membangun industri dalam negerinya kecil," jelas Bahlil.
(wia)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
1 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·