Jakarta -
Indonesia tetap mengimpor garam dengan jumlah besar hingga 2,6 juta ton per tahun. Pemerintah menyatakan bakal menurunkan impor garam dalam beberapa tahun ke depan.
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Qodari mengatakan pemerintah menargetkan bakal mengurangi impor secara berjenjang hingga 2029.
"Volume impor garam ditargetkan turun dari baseline sekitar 2,6 juta ton menjadi 2 juta ton pada 2026, 1 juta ton pada 2027, hingga mencapai nol pada tahun 2029," ujar Qodari dalam konvensi pers mingguan di Gedung Bakom RI, Jakarta Pusat, Rabu (2/9/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya ini menjadi realita pahit bagi Indonesia nan mempunyai garis pantai terpanjang di bumi justru kesulitan memproduksi garam. "Jadi inilah realita pahit kita, rupanya selama ini kita impor garam, walaupun kita negara kepulauan dengan panjang pantai mungkin nan terbanyak di dunia," kata Qodari.
Pemerintah sendiri tak tinggal diam, lahan sekitar 2.000 hektare di Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) bakal disulap jadi Kawasan Sentra Industri Garam Nasional alias KSIGN. Modal investasinya mencapai Rp 2 triliun.
Dari 2.000 hektare, sejauh ini sudah 616 hektare nan sudah digarap dan memasuki tahap produksi. Panen ditagetkan pada November 2026. Tahap kedua ada 751 hektare nan selanjutnya bakal digarap.
"Mencakup pembangunan tambak garam serta sarana prasarana pendukung seperti jalan, akomodasi penyimpanan dan pengolahan, pompa, dan prasarana lainnya," ujar Qodari.
Pemerintah menargetkan peningkatan produksi garam nasional secara berjenjang naik dengan adanya proyek KSIGN di NTT dari biasanya sekitar 1 juta ton menjadi 2,5 juta ton pada 2026. Lalu naik 3,5 juta ton pada 2027, dan pada 2029 mencapai 5 juta ton.
(acd/acd)
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·