Review Buku The Time Machine

Sedang Trending 1 bulan yang lalu

the time machine – Grameds, gimana jadinya jika Anda bisa melompati ribuan tahun ke masa depan? Apakah peradaban manusia makin canggih, alias justru hancur tanpa sisa?

Pertanyaan kritis inilah nan dijawab oleh H.G. Wells dalam The Time Machine, mahakrya klasik nan menjadi salah satu pelopr fiski ilmiah modern dunia. Lewat kitab setebal 208 laman terbitan Anak Hebat Indonesia ini, kita diajak mengikuti perjalanan nekat seorang intelektual menembus ruang dan waktu nan penuh plot twist dan kritik sosial tajam.

Penasaran apa nan ditemukan Sang Penjelajah Waktu di ribuan tahun mendatang dan kenapa novel ini tetap sangat relevan sampai sekarang? Yuk, bedah sinopsis, kelebihan, hingga kebenaran menariknya bareng Gramin di bawah ini!

Sinopsis Buku The Time Machine

Seorang intelektual nan dikenal sebagai Penjelajah Waktu sukses menciptakan sebuah mesin nan memungkinkannya melakukan perjalanan melintasi waktu. Dengan temuannya tersebut, dia menjelajah jauh ke masa depan hingga tiba pada tahun 802.701. Di sana, dia mendapati bumi nan telah berubah sepenuhnya. Umat manusia tidak lagi hidup seperti nan dikenalnya, melainkan telah berevolusi menjadi dua golongan berbeda, ialah Eloi nan hidup di permukaan dan Morlock nan menghuni bumi bawah tanah.

Semakin lama menjelajahi masa depan, Penjelajah Waktu mulai memahami bahwa kedua golongan tersebut mempunyai hubungan nan jauh lebih rumit daripada nan terlihat. Di kembali kehidupan Eloi nan tampak damai, tersimpan realita bahwa mereka telah kehilangan keahlian untuk memperkuat hidup secara mandiri. Sementara itu, Morlock nan selama ini bekerja dan hidup di bawah permukaan rupanya mempunyai peran nan mengerikan dalam mempertahankan keseimbangan bumi tersebut. Melalui penemuannya, sang Penjelajah Waktu menyadari bahwa kesenjangan sosial nan terus berkembang selama beratus-ratus tahun dapat membawa peradaban menuju masa depan nan kelam.

Di tengah usahanya mencari kembali mesin waktu nan hilang, dia terus menyaksikan beragam gambaran tentang masa depan nan semakin suram sebelum akhirnya sukses kembali ke zamannya sendiri. Namun, kepulangannya bukanlah akhir dari petualangan itu. Tidak lama kemudian, dia kembali melakukan perjalanan dengan mesin waktunya dan menghilang tanpa jejak, meninggalkan teka-teki mengenai kemana tujuan berikutnya dan apakah dia bakal pernah kembali.

button cek gramedia com

Profil H.G. Wells – Penulis Buku The Time Machine

Herbert George Wells alias nan lebih dikenal sebagai H.G. Wells lahir di Kent, Inggris, dari family pekerja. Masa kecilnya tidak selalu melangkah mulus lantaran pendidikan nan diterimanya beberapa kali terhenti akibat masalah kesehatan dan kesulitan ekonomi keluarga. Saat remaja, dia sempat bekerja sebagai magang di sebuah toko kain. Kesempatan untuk melanjutkan pendidikannya datang berkah kepala sekolah Midhurst Grammar School nan mengajaknya kembali sebagai asisten pembimbing sekaligus siswa.

Pada tahun 1884, Wells memperoleh danasiwa pemerintah untuk mempelajari biologi di Normal School of Science di bawah pengarahan intelektual terkemuka Thomas Henry Huxley. Ia kemudian meraih gelar Bachelor of Science dan Doctor of Science dari University of London. Setelah menikah dengan sepupunya, Isabel Wells, dia mulai menambah penghasilan dengan menulis cerita pendek, tulisan lepas, dan akhirnya menerbitkan novel. Sejumlah karya awalnya nan kemudian menjadi klasik bumi antara lain The Time Machine (1895), The Island of Dr. Moreau (1896), The Invisible Man (1897), dan The War of the Worlds (1898).

Kehidupan pribadi Wells sempat menjadi sorotan publik ketika dia berpisah dari Isabel dan menikahi salah satu muridnya, Amy Catherine Robbins. Pernikahan keduanya berjalan hingga akhir kehidupan dan dikaruniai dua orang putra. Meski demikian, Wells dikenal mempunyai pandangan nan cukup kontroversial mengenai hubungan asmara. Ia secara terbuka mendukung konsep cinta nan bebas dan menjalani beberapa hubungan di luar pernikahannya, termasuk dengan aktivis Margaret Sanger serta penulis Rebecca West, nan kemudian melahirkan salah satu anaknya.

Selain dikenal sebagai novelis, Wells juga aktif dalam bumi pemikiran dan politik. Ia pernah berasosiasi dengan Fabian Society, sebuah organisasi nan memperjuangkan perubahan sosial secara bertahap. Sepanjang kariernya, dia menulis lebih dari 100 kitab nan mencakup novel, esai, hingga karya nonfiksi. Dalam bagian pemikiran, Wells sempat mengeksplorasi pendapat mengenai kehendak ilahi melalui bukunya God the Invisible King (1917), meskipun pandangan tersebut tidak memperkuat lama. Popularitasnya di tingkat internasional dia manfaatkan untuk menyuarakan beragam rumor nan diyakininya, terutama pentingnya mencegah perang dan membangun perdamaian dunia. Berkat karya-karyanya nan visioner, H.G. Wells hingga sekarang dikenang sebagai salah satu pelopor sastra fiksi ilmiah sekaligus penulis nan banyak mempengaruhi perkembangan pendapat tentang masa depan.

Kelebihan dan Kekurangan Buku The Time Machine

Pros & Cons

Pros

  • Konsep perjalanan waktu nan visioner.
  • Kritik sosial nan dikemas melalui cerita.
  • Alur nan ringkas.
  • Hasil perpaduan antara unsur ilmiah dan imajinasi.
  • Tetap relevan.

Cons

  • Beberapa bagian cerita terasa terlalu singkat.
  • Gaya bahasa klasik.

Kelebihan Buku The Time Machine

Buku The Time Machine karya H.G. Wells merupakan karya internasional nan direkomendasikan lantaran menyajikan beragam kelebihan sebagai berikut.

  • Konsep perjalanan waktu nan visioner

Salah satu kelebihan utama The Time Machine terletak pada konsep perjalanan waktu nan terasa sangat visioner untuk ukuran zamannya. H.G. Wells sukses membangun pendapat tentang menjelajahi masa depan melalui pendekatan nan logis dan ilmiah sehingga bisa memancing rasa mau tahu pembaca. Ide tersebut kemudian menjadi fondasi bagi banyak karya fiksi ilmiah nan lahir setelahnya.

  • Kritik sosial nan dikemas melalui cerita

Di kembali petualangan nan disajikan, novel ini menyimpan kritik sosial nan kuat mengenai kesenjangan kelas, perkembangan peradaban, dan akibat dari perubahan masyarakat. H.G. Wells tidak menyampaikan pendapat tersebut secara menggurui, melainkan menyelipkannya secara alami melalui bumi dan peristiwa nan dialami tokohnya. Hal ini membikin cerita terasa lebih berarti dan mengundang pembaca untuk melakukan refleksi.

  • Alur nan ringkas

Meskipun termasuk novel nan relatif singkat, alur cerita dalam The Time Machine bisa menjaga rasa penasaran dari awal hingga akhir. Setiap bab menghadirkan penemuan baru nan membikin pembaca mau terus mengikuti perjalanan sang Penjelajah Waktu. Ritme cerita nan padat juga membikin novel ini nyaman dibaca dalam waktu nan tidak terlalu lama.

  • Hasil perpaduan antara unsur ilmiah dan imajinasi

H.G. Wells sukses menggabungkan teori ilmiah, spekulasi mengenai masa depan, dan unsur petualangan dalam satu cerita nan terasa seimbang. Perpaduan tersebut membikin novel ini tidak hanya menarik bagi fans fiksi ilmiah, tetapi juga bagi pembaca nan menyukai kisah penuh pendapat dan eksplorasi tentang kemungkinan masa depan umat manusia.

  • Tetap relevan

Salah satu keistimewaan The Time Machine adalah tema-temanya nan tetap terasa dekat dengan kondisi masyarakat modern. Pertanyaan mengenai kemajuan teknologi, arah perkembangan manusia, hingga ketimpangan sosial tetap relevan untuk direnungkan. Karena itulah, novel ini tetap sering dibaca dan dijadikan rujukan dalam pembahasan sejarah perkembangan sastra fiksi ilmiah.

Kekurangan Buku The Time Machine

Meskipun Buku The The Time Machine karya H.G. Wells menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan nan bisa menjadi pertimbangan bagi pembaca. 

  • Beberapa bagian cerita terasa terlalu singkat
    Karena panjang novelnya cukup ringkas, beberapa peristiwa dan penjelasan dalam cerita berjalan dengan cepat. Akibatnya, sebagian pembaca mungkin merasa mau memandang eksplorasi dunia, karakter, alias bentrok nan lebih mendalam agar pengalaman membaca terasa semakin memuaskan.
  • Gaya bahasa klasik

Sebagai karya nan pertama kali diterbitkan pada akhir abad ke-19, The Time Machine tetap mempertahankan style penulisan unik sastra klasik. Bagi pembaca nan lebih terbiasa dengan novel modern nan menggunakan bahasa sederhana dan perbincangan cepat, diperlukan sedikit waktu untuk beradaptasi dengan langkah berkata H.G. Wells.

Apa Itu Dimensi Keempat?

Bagaimana jika seseorang betul-betul bisa melintasi waktu hanya dengan sebuah mesin? Gagasan inilah nan menjadi inti dari The Time Machine karya H.G. Wells. Meskipun novel ini merupakan karya fiksi, konsep nan digunakan Wells berangkat dari sebuah pendapat ilmiah nan hingga sekarang tetap sering dibahas, ialah dimensi keempat. Karena itulah, memahami konsep ini dapat membikin pengalaman membaca The Time Machine terasa lebih menarik. Kita tidak hanya mengikuti petualangan sang Penjelajah Waktu, tetapi juga mengenal buahpikiran ilmiah nan menginspirasi salah satu novel fiksi ilmiah paling berpengaruh sepanjang masa.

Dimensi Keempat dalam Dunia Sains

Ketika mendengar kata dimensi, kebanyakan orang bakal langsung membayangkan panjang, lebar, dan tinggi. Ketiga unsur tersebut merupakan tiga dimensi ruang nan digunakan untuk menentukan posisi suatu benda. Namun, dalam fisika modern, terdapat satu dimensi lain nan tidak kalah penting, ialah waktu. Berbeda dengan tiga dimensi ruang nan memungkinkan kita bergerak ke beragam arah, waktu hanya dapat kita alami dalam satu arah, ialah dari masa lampau menuju masa depan.

Pandangan bahwa waktu merupakan dimensi keempat semakin dikenal setelah Albert Einstein memperkenalkan Teori Relativitas pada awal abad ke-20. Melalui teori tersebut, ruang dan waktu dipahami sebagai satu kesatuan nan disebut space-time alias ruang-waktu. Artinya, setiap peristiwa di alam semesta tidak hanya mempunyai lokasi, tetapi juga terjadi pada titik waktu tertentu.

Hubungannya dengan The Time Machine

Menariknya, H.G. Wells telah menggunakan pendapat perjalanan melintasi waktu jauh sebelum Teori Relativitas diperkenalkan. Novel The Time Machine pertama kali terbit pada tahun 1895, sedangkan teori Einstein baru dipublikasikan sekitar satu dasawarsa kemudian. Meskipun penjelasan ilmiahnya tetap berkarakter spekulatif, Wells telah membayangkan waktu sebagai sesuatu nan dapat dijelajahi layaknya manusia beranjak dari satu tempat ke tempat lain. Imajinasi nan begitu visioner inilah nan membikin novel tersebut dianggap sebagai salah satu pelopor fiksi ilmiah modern.

Bisakah Manusia Melihat Dimensi Keempat?

Sampai saat ini, manusia belum dapat memandang objek empat dimensi secara langsung. Sebagai makhluk nan hidup di ruang tiga dimensi, keahlian kita terbatas dalam membayangkan corak nan mempunyai dimensi lebih tinggi. Karena itu, para matematikawan menggunakan ilustrasi seperti tesseract, ialah representasi empat dimensi nan diproyeksikan ke dalam ruang tiga dimensi. Meskipun hanya berupa gambaran visual, ilustrasi tersebut membantu kita memahami gimana objek empat dimensi mungkin terlihat jika dapat diamati.

Dimensi keempat tetap menjadi salah satu topik nan paling menarik dalam bumi sains. Sebagian gagasannya telah didukung oleh teori fisika modern, sementara sebagian lainnya tetap menunggu pembuktian lebih lanjut. Terlepas dari itu, pembahasan mengenai dimensi keempat menunjukkan bahwa khayalan dan pengetahuan pengetahuan seringkali melangkah berdampingan. Hal inilah nan membikin The Time Machine tetap relevan hingga sekarang.

Penutup

Buku The Time Machine menjadi pilihan referensi nan tepat bagi Grameds nan menyukai novel fiksi ilmiah dengan pendapat nan visioner serta sarat bakal refleksi tentang masa depan manusia. Melalui perjalanan melintasi waktu, H.G. Wells tidak hanya menghadirkan petualangan nan penuh misteri, tetapi juga membujuk pembaca merenungkan akibat kemajuan peradaban, kesenjangan sosial, dan arah perkembangan umat manusia. Setelah menutup laman terakhir, mungkin nan bakal tertinggal bukan hanya kisah sang Penjelajah Waktu, melainkan juga pertanyaan tentang seperti apa masa depan nan sedang kita bangun hari ini. Jika Grameds mempunyai kesempatan menjelajahi waktu, apakah kalian bakal memilih memandang masa depan untuk mengetahui nasib umat manusia, alias kembali ke masa lampau untuk memahami sejarah nan telah membentuk bumi saat ini?

Buku The Time Machine karya H.G. Wells ini bisa Anda dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Rekomendasi Buku

Sejarah Singkat Dunia

Sejarah Singkat Dunia

button cek gramedia com

Cerita tentang alam semesta kita belum sepenuhnya diketahui. Beberapa ratus tahun nan lalu, sejarah manusia kurang lebih sama dengan sejarah tiga ribu tahun terakhir. Cerita nan terjadi sebelum masa itu diterima sebagai legenda dan spekulasi belaka. Di sebagian besar peradaban dunia, diyakini dan diajarkan bahwa bumi diciptakan secara tiba-tiba pada 4004 SM. Akan tetapi, para peneliti berbeda pendapat mengenai terciptanya alam ini apakah pada musim semi alias musim gugur pada tahun itu. Kesalahpahaman ini bermuara pada interpretasi Alkitab Ibrani nan terlalu harfiah dan dugaan teologis nan sewenang-wenang.

Manusia Gaib

Manusia Gaib

button cek gramedia com

Di suatu wilayah pedesaan berjulukan Iping, muncullah sesosok manusia gaib nan mempunyai tubuh nan tak kasatmata. Griffin adalah nama manusia gaib itu. Dia merupakan seorang intelektual nan sukses mengubah tubuhnya menjadi tidak terlihat melalui percobaan ilmiah. Pada saat Griffin menyewa bilik di penginapan lokal di pedesaan Iping, para masyarakat desa meletakkan kecurigaan kepadanya, lantaran tingkah lakunya nan aneh. Pada akhirnya, identitasnya sebagai manusia gaib terbongkar dan menyebabkan kekacauan.

Manusia Tak Kasatmata

Manusia Tak Kasatmata

button cek gramedia com

Manusia tak kasatmata pertama kali muncul di suatu desa berjulukan Iping. Ia adalah seseorang nan sangat penyendiri, dan juga apatis. Sejak awal kemunculannya dari kembali salju nan turun sampai kepergian sosoknya tetap menjadi misteri desa Iping. Griffin adalah nama manusia tak kasatmata, saat berjumpa Kemp, dia bercerita tentang masa mudanya nan sangat suram dan miskin. Namun, dia mempunyai ambisi menciptakan sesuatu menjadi transparan lantaran ketertarikannya terhadap cahaya.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia