Review Buku Tentang Luka yang Kusimpan Sendiri Karya Kopioppi

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri – Rasa-rasanya kita perlu kembali mengingat satu perihal ini, hanya lantaran “bukan hanya Anda nan punya luka” bukan berfaedah Anda dilarang bersedih.

Bersedihlah, tapi pastikan kesedihan itu tak terlalu lama menguasaimu. Setiap orang di bumi mempunyai lukanya sendiri. Ada nan memilih untuk menyimpan lukanya, ada pula nan memilih menikmati sendirian lantaran berpikir tak ada manusia nan betul-betul peduli.

Lewat kitab Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri, Kopioppi menghadirkan kumpulan tulisan nan berbincang tentang luka, kesepian, kesedihan, sekaligus upaya untuk kembali bangkit. Buku ini tidak membujuk pembacanya untuk menyangkal rasa sakit, melainkan memahami bahwa berduka adalah perihal nan wajar selama kita tidak membiarkan kesedihan tersebut menguasai kehidupan. Setiap tulisan di dalamnya diharapkan dapat menjadi kawan bagi siapa pun nan sedang berupaya berbaikan dengan luka nan mungkin selama ini dipendam sendirian.

Buku Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri diterbitkan oleh Syalmahat Publishing pada 5 Juli 2024 dengan ketebalan 142 halaman.

Lantas, seperti apa langkah Kopioppi merangkai kata-kata sederhana menjadi kawan bagi mereka nan sedang terluka? Yuk, Grameds, simak ulasan Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri berikut ini!

Profil Kopioppi – Penulis kitab Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri

Kopioppi merupakan seorang penulis nan lahir tepat pada Hari Valentine alias hari kasih sayang.

Kegiatan menulis baginya tidak hanya menjadi sarana untuk menuangkan pikiran, tetapi juga langkah untuk mengobati luka nan pernah dirasakan sekaligus menemani pembaca nan sedang menghadapi luka dalam hidupnya.

Kopioppi dikenal sebagai sosok nan tidak banyak membagikan kisah pribadinya. Namun, bagi Grameds nan mau mengenal karya dan pemikirannya lebih jauh, Anda bisa mengunjungi akun IG @kopioppi serta kanal YouTube “Kata Berkisah”.

Sinopsis Buku Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri

Tidak ada manusia nan betul-betul menjalani hidup tanpa kesedihan, begitu pula tidak ada kehidupan nan sepenuhnya dipenuhi kemudahan.

Setiap orang mempunyai luka dan pergumulannya masing-masing. Ada nan memilih memendam rasa sakit seorang diri lantaran tidak mau menjadi beban bagi orang lain. Ada pula nan terbiasa menghadapi lukanya sendiri lantaran merasa tidak bakal ada nan betul-betul peduli. Mereka cemas orang lain justru bakal menghakimi, meremehkan, alias apalagi merasa senang memandang penderitaan nan sedang mereka alami.

Kita berkuasa untuk merasa sedih. Kita juga berkuasa menentukan apakah mau menyimpan rasa sakit itu sendiri alias membaginya dengan orang lain. Namun, kali ini mari kita belajar memahami bahwa kita tidak pernah betul-betul sendirian.

Setiap manusia di bumi ini mempunyai luka nan sedang diperjuangkannya. Karena itu, tidak perlu membandingkan luka dan kesulitan siapa nan paling berat; kita hanya perlu belajar memperkuat menghadapi luka kita sendiri, kemudian perlahan menemukan keberanian untuk bangkit kembali, meskipun prosesnya tidak selalu mudah.

“Aku tahu Tuhan selalu ada dan tidak pernah meninggalkan kita. Namun, bukankah wajar jika sesekali kita berambisi ada satu manusia nan bersedia tinggal, mendengarkan, dan menemani kita melewati semuanya?”

Kelebihan dan Kekurangan Buku Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri

Pros & Cons

Pros

  • Mengangkat persoalan luka dan emosi nan sering diabaikan.
  • Menjadi kawan nan memvalidasi perasaan.
  • Ditulis dengan bahasa nan sederhana.
  • Membahas rumor sosial nan dekat dengan kehidupan.
  • Memiliki bagian-bagian nan saling melengkapi.
  • Memiliki bagian nan interaktif.

Cons

  • Masih ditemukan kesalahan penulisan.

Kelebihan Buku Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri

Buku Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri karya Kopioppi mempunyai beberapa kelebihan nan membuatnya menarik untuk dibaca.

  • Mengangkat persoalan luka dan emosi nan sering diabaikan

Kopioppi menunjukkan perhatian terhadap beragam luka dan emosi nan kerap disimpan seseorang dalam diam.

Melalui tulisan-tulisannya, pembaca diajak memandang bahwa tidak semua kesedihan terlihat dari luar dan setiap orang mempunyai langkah masing-masing dalam menghadapi persoalan hidup.

Buku ini terasa seperti refleksi dari pengalaman pribadi sekaligus pengamatan terhadap beragam corak luka nan mungkin juga dialami oleh banyak orang.

  • Menjadi kawan nan memvalidasi perasaan

Buku nan berisi refleksi dan motivasi ini tidak sekadar menyampaikan kalimat-kalimat penyemangat, tetapi juga memberikan ruang bagi pembaca untuk merasa dipahami.

Beberapa tulisan seolah menemani pembaca ketika sedang lelah, sedih, alias merasa sendirian. Pesan nan disampaikan juga mengingatkan bahwa menangis, merasa sedih, dan memerlukan waktu untuk pulih merupakan perihal nan wajar.

  • Dituliskan dengan bahasa sederhana

Kopioppi menggunakan bahasa nan ringan dan mudah dipahami. Tulisan-tulisannya tidak dipenuhi kalimat rumit ataupun penggunaan metafora nan berlebihan sehingga pesan nan mau disampaikan dapat diterima dengan mudah.

Kesederhanaan tersebut justru membikin beberapa tulisan terasa dekat dengan pengalaman dan kehidupan sehari-hari pembaca.

  • Membahas rumor sosial nan dekat dengan kehidupan

Selain berbincang tentang luka pribadi, kitab ini turut menyinggung persoalan sosial nan dapat mempengaruhi kondisi emosional seseorang. Salah satunya adalah kelelahan sosial, ketika seseorang merasa capek menghadapi tuntutan, ekspektasi, dan beragam hubungan dengan lingkungan sekitarnya.

Pembahasan tersebut membikin tema kitab tidak hanya berfokus pada persoalan diri sendiri, tetapi juga pada kondisi nan terbentuk dari hubungan seseorang dengan lingkungan sosialnya.

  • Memiliki bagian-bagian nan saling melengkapi

Buku ini terbagi ke dalam enam bagian utama nan saling berangkaian dan membentuk perjalanan emosional secara bertahap. Pembaca diajak untuk mengenali beragam corak luka, menerima realita nan ada, hingga perlahan belajar berbaikan dengan diri sendiri.

Pembagian tersebut membikin pendapat nan disampaikan terasa lebih terarah dan memberikan pengalaman membaca nan utuh.

  • Memiliki bagian nan interaktif

Salah satu perihal menarik dari kitab ini adalah adanya ruang bagi pembaca untuk berinteraksi dengan isi bacaan. Pada beberapa bagian, tersedia ruang kosong nan dapat digunakan untuk menuliskan emosi alias pemikiran pribadi.

Kehadiran bagian tersebut membikin kitab tidak hanya berfaedah sebagai bacaan, tetapi juga dapat digunakan sebagai media untuk melakukan refleksi dan menuangkan hal-hal nan selama ini mungkin susah disampaikan kepada orang lain.

Kekurangan Buku Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri

Meskipun Buku Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri karya Kopioppi menawarkan banyak kelebihan, kitab ini tetap tidak luput dari kekurangan nan bisa menjadi pertimbangan bagi pembaca.

  • Masih ditemukan kesalahan penulisan
    Salah satu kekurangan nan cukup terasa adalah adanya beberapa kesalahan penulisan alias typo nan ditemukan di sejumlah halaman. Kesalahan tersebut terkadang muncul ketika pembaca sedang menikmati quote alias bagian reflektif sehingga dapat sedikit mengganggu konsentrasi dan kenyamanan membaca. Bagi pembaca nan cukup memperhatikan ketepatan penulisan, perihal ini mungkin menjadi catatan nan perlu diperhatikan.

Bagaimana Cara Menyembuhkan Luka Emosional?

Luka emosional memang tidak selalu terlihat, tetapi rasa sakit nan ditinggalkannya dapat mempengaruhi langkah seseorang menjalani kehidupan. Kekecewaan, kehilangan, perpisahan, maupun pengalaman nan menyakitkan terkadang membikin seseorang memilih memendam perasaannya sendiri.

Dalam Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri, Kopioppi membujuk pembaca memahami bahwa setiap orang mempunyai proses pengobatan nan berbeda. Lantas, apa saja perihal nan dapat dilakukan untuk mulai berbaikan dengan luka nan selama ini disimpan?

  • Akui dan Terima Perasaan nan Dirasakan: Langkah pertama dalam menghadapi luka emosional adalah berani mengakui apa nan sedang dirasakan. Tidak perlu memaksa diri untuk selalu terlihat kuat alias menganggap kesedihan sebagai tanda kelemahan. Perasaan sedih, kecewa, marah, maupun capek merupakan bagian dari pengalaman manusia nan wajar. Dengan memberikan ruang kepada diri sendiri untuk merasakan dan memahami emosi tersebut, seseorang dapat mulai mengenali apa nan sebenarnya sedang dibutuhkan.
  • Jangan Membandingkan Luka dengan Orang Lain: Setiap orang mempunyai pengalaman dan keahlian nan berbeda dalam menghadapi masalah. Karena itu, tidak ada gunanya membandingkan apakah luka nan dirasakan lebih ringan alias lebih berat daripada penderitaan orang lain. Sesuatu nan terlihat sederhana bagi seseorang belum tentu terasa mudah bagi orang lainnya. Daripada sibuk mengukur besarnya luka, bakal lebih baik jika perhatian diarahkan pada gimana diri sendiri dapat memperkuat dan perlahan memulihkan keadaan.
  • Tuangkan Perasaan melalui Tulisan: Ketika susah menyampaikan emosi kepada orang lain, menulis dapat menjadi salah satu langkah untuk menuangkan emosi nan selama ini dipendam. Melalui journaling, seseorang dapat mencatat pikiran, kekhawatiran, kesedihan, alias pengalaman nan susah diungkapkan secara langsung. Selain menjadi media untuk mengekspresikan perasaan, aktivitas menulis juga dapat membantu seseorang memandang emosinya dengan lebih jelas dan melakukan refleksi terhadap apa nan sedang dialami.
  • Belajar Memperlakukan Diri dengan Lebih Baik: Proses pengobatan juga memerlukan sikap nan lebih penuh kasih terhadap diri sendiri alias self-compassion. Seseorang tidak perlu terus menyalahkan diri atas sesuatu nan tidak dapat dikendalikan. Ketika keadaan terasa berat, memberikan waktu untuk beristirahat, menerima keterbatasan, dan tidak terlalu keras kepada diri sendiri dapat menjadi bagian dari proses untuk kembali memulihkan keadaan. Menjadi lebih baik kepada diri sendiri bukan berfaedah mengabaikan masalah, melainkan memahami bahwa diri sendiri juga layak mendapatkan pengertian.
  • Mulai Membuka Diri secara Perlahan: Menyimpan luka sendirian terkadang muncul lantaran rasa takut merepotkan orang lain alias cemas tidak bakal dipahami. Namun, bukan berfaedah semua persoalan kudu selalu dihadapi seorang diri. Ketika sudah merasa siap, cobalah perlahan membuka diri kepada seseorang nan dipercaya dan bisa memberikan rasa aman. Dukungan dari orang lain mungkin tidak serta-merta menghilangkan luka, tetapi mempunyai seseorang nan bersedia mendengarkan dapat membikin perjalanan untuk melewatinya terasa sedikit lebih ringan.

Penutup

Buku Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri menjadi pilihan referensi nan tepat bagi Grameds nan sedang belajar memahami rasa sakit, menerima kesendirian, dan perlahan berbaikan dengan luka nan selama ini dipendam.

Melalui tulisan-tulisannya, Kopioppi mengingatkan bahwa tidak semua luka kudu segera sembuh dan tidak semua kesedihan kudu disembunyikan. Setiap orang mempunyai waktunya sendiri untuk menerima, melepaskan, dan kembali melangkah.

Hidup memang tidak selalu mudah. Ada persoalan nan datang silih berganti dan ada luka nan memerlukan waktu panjang untuk betul-betul pulih. Namun, di tengah semua itu, memperkuat sampai hari ini pun sudah menjadi sebuah pencapaian.

Jadi, jika saat ini Grameds tetap sedang berjuang dengan luka nan tidak banyak orang tahu, ingatlah bahwa kalian tidak kudu selalu terlihat kuat.

Beristirahatlah jika lelah, menangislah jika memang perlu, lampau bangkit kembali ketika sudah siap.

Sebab, mungkin tanpa Anda sadari, diri Anda nan tetap memperkuat hingga detik ini adalah bukti bahwa Anda jauh lebih kuat daripada nan selama ini Anda kira.

Buku Tentang Luka nan Kusimpan Sendiri karya Kopioppi ini bisa Anda dapatkan hanya di Gramedia.com ya! Untuk mendukung Anda #TumbuhBermakna, kami selalu siap memberikan info dan produk terbaik untuk kamu.

Penulis: Gabriel

Rekomendasi Buku

Digital Exhaustion

Digital Exhaustion

Kita berupaya membalas setiap pesan. Mengikuti postingan orang-orang di beragam aplikasi. Gonta-ganti gadget agar bisa menyelesaikan semua urusan. Itulah nan dinamakan kelelahan digital.

Paul Leonardi, master manajemen digital, menawarkan pendekatan nan realistis dalam hubungan kita dengan perangkat digital. Masalahnya bukan pada seberapa lama kita menatap layar, melainkan gimana perangkat tersebut diam-diam mendikte perhatian, langkah berpikir, dan emosi kita. Kita merespons terlalu cepat, menggunakan perangkat nan tidak tepat untuk suatu urusan, dan tetap ‘aktif’ jauh setelah jam kerja usai—lalu menyalahkan diri sendiri lantaran merasa kelelahan.

Bergur(A)U dari Luka

Bergur(a)u dari Luka

“Semua orang punya luka.

Ada luka nan akhirnya kita terima lewat tawa.

Ada juga nan tetap tersimpan dalam diam.”

Bergur(a)u dari Luka adalah catatan individual seorang anak nan berupaya memahami hidupnya lewat dua sosok penting: ibu dan psikolog.

Satu nan membesarkannya dengan cinta dan kekerasan. Satu lagi nan menemaninya mengurai ingatan nan kusut, sampai dia berani menghadapi kasus predator anak nan terjadi sewaktu kecil.

Kisah ini bergerak di antara sesi konseling, perjalanan pulang, ingatan masa kecil, panggung komedi dan ruang pengadilan. Sebuah upaya memutus trauma nan diwariskan, lewat terapi menulis nan tanpa sadar menjadi perjalanan kitab ini terbit.

New Habit Unlock: Healing – Writing – Journaling

New Habit Unlock

Pernah merasa sunyi padahal semuanya tampak baik-baik saja? Pernah mau bercerita, tapi bingung kudu mulai dari mana alias kepada siapa?

New Habit Unlock bukan sekadar kitab tentang healing. Ini adalah undangan untuk tak bersuara sejenak, menengok ke dalam, dan menemukan ruang kondusif untuk menjadi jujur pada diri sendiri. Lewat tulisan nan hangat, reflektif, dan bersandar pada nilai-nilai ilmu jiwa dan spiritualitas Islami, kitab ini bakal menuntunmu memahami emosi, merawat luka, hingga perlahan kembali bertumbuh. Bukan dengan semboyan kosong, tapi dengan langkah nan nyata: lewat journaling, muhasabah, dan keberanian untuk merasa. Jika Anda sedang capek tapi tak tahu kudu apa, alias mau berubah tapi tak tahu dari mana… Mungkin inilah saatnya. Dan mungkin, kitab ini adalah jawabannya.

Selengkapnya
Sumber Gramedia
Gramedia