Ilustrasi pesawat ruang angkasa MAVEN.(Pusat Penerbangan Antariksa Goddard NASA)
SETELAH berbulan-bulan melakukan upaya pemulihan nan tidak membuahkan hasil, NASA secara resmi memulai proses penonaktifan (decommissioning) orbiter MAVEN. Keputusan ini sekaligus mengakhiri misi luar biasa selama 11 tahun nan telah merevolusi pemahaman para intelektual tentang Planet Merah.
Langkah berat ini diambil menyusul hilangnya kontak dengan pesawat ruang angkasa tersebut sejak Desember 2025. Gangguan terjadi saat MAVEN melakukan fase blackout komunikasi rutin ketika melintas di kembali Mars. Meski tim pengendali misi telah mencoba beragam cara, termasuk mengirimkan perintah untuk menyalakan ulang komputer wahana, MAVEN tetap bungkam.
Investigasi dari majelis peninjau NASA pada Februari mengungkapkan sebelum anomali terjadi, MAVEN beraksi normal. Serpihan info telemetri nan sukses dipulihkan menunjukkan wahana tersebut keluar dari kembali Mars dalam mode kondusif (safe mode) sembari berputar dengan kecepatan 2,7 rotasi per menit. Karena tidak dirancang untuk berputar saat operasi normal, pergerakan ini menguras baterai MAVEN dalam hitungan jam hingga sistem komunikasinya meninggal total. Penyebab utama kegagalan sistem ini tetap misterius.
"Kesimpulannya adalah pesawat ruang angkasa ini sudah tidak dapat dipulihkan," ujar Mike Moreau, Manajer Proyek MAVEN di Pusat Penerbangan Luar Angkasa Goddard NASA. "Tim betul-betul merasakan kehilangan seperti layaknya kehilangan orang nan dicintai dengan berakhirnya misi ini."
Meski diselimuti duka, para intelektual sekaligus merayakan warisan besar MAVEN nan jauh melampaui sasaran awalnya. Diluncurkan pada November 2013, MAVEN (Mars Atmosphere and Volatile Evolution) awalnya hanya direncanakan bekerja selama dua tahun untuk menyelidiki gimana Mars kehilangan atmosfer tebalnya nan dulu memungkinkan air cair mengalir di permukaannya.
Selama satu dasawarsa lebih, MAVEN terbang mengitari Mars dalam orbit elips. Wahana ini sukses membuktikan angin besar mentari secara dramatis mempercepat hilangnya gas atmosfer. Temuan ini menjadi jawaban kunci gimana Mars berevolusi dari bumi nan berpotensi mendukung kehidupan menjadi planet nan dingin dan gersang seperti sekarang.
"Kami sekarang mempunyai pemahaman nan lebih baik tentang pelepasan atmosfer di Mars dibandingkan planet lain, termasuk Bumi," kata Shannon Curry, peneliti utama MAVEN dari Universitas Colorado Boulder.
Selain berkontribusi pada lebih dari 800 publikasi ilmiah, MAVEN juga berfaedah sebagai tulang punggung komunikasi. Wahana ini sukses mengirimkan nyaris 18 persen dari seluruh info sains dari permukaan Mars ke Bumi.
Saat ini, empat orbiter aktif nan tersisa kudu menyesuaikan operasi mereka untuk menutupi celah komunikasi nan ditinggalkan MAVEN. MAVEN sendiri diprediksi bakal tetap mengorbit selama 50 hingga 100 tahun ke depan sebelum akhirnya terseret style hambat atmosfer dan terbakar lenyap seperti bintang jatuh.
Ketika ditanya apa nan bakal dia tulis di batu nisan MAVEN, Curry menjawab tanpa ragu: "Misi. Mars. Terbaik. Sepanjang. Masa." (Space/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·