Rektor UMY: Sudah Saatnya Jalur Mandiri PTN Dievaluasi atau Dihapus

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Rektor UMY, Achmad Nurmandi. Foto: Dok. UMY

Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Achmad Nurmandi, menilai jalur berdikari di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sudah saatnya dievaluasi alias dihapus. Menurutnya, pemerintah perlu lebih memfokuskan peningkatan kualitas perguruan tinggi negeri berbadan norma (PTNBH).

“Sudah saatnya Jalur Mandiri itu dievaluasi alias dihapus. Dan pemerintah konsentrasi kepada peningkatan kualitas PTNBH,” kata Nurmandi saat diwawancarai Pandangan Jogja setelah membuka MATAF UMY di Sportorium UMY, Senin (7/9).

Pernyataan tersebut disampaikan Nurmandi menyusul operasi tangkap tangan (OTT) KPK terhadap Rektor Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Akhmad Sodiq, dan sejumlah pejabat kampus mengenai dugaan korupsi dalam penerimaan mahasiswa baru.

Nurmandi menilai jalur berdikari nan diberikan kepada perguruan tinggi untuk dikelola secara otonom dapat menjadi ruang permainan. Menurutnya, PTN maupun PTNBH juga berpotensi memperbanyak mahasiswa jalur berdikari untuk meningkatkan keahlian finansial melalui Iuran Pengembangan Institusi (IPI).

“Yang proporsinya 40 persen alias 30 persen dari seluruh mahasiswa PTNBH alias PTN itu diserahkan kepada perguruan tinggi secara otonom. Nah, itu ya menjadi arena permainan, suap-menyuap dan sebagainya, dan tidak fair,” ujarnya.

Menurut Nurmandi, persoalan tersebut perlu dilihat kembali lantaran PTNBH mempunyai mandat untuk meningkatkan daya saing universitas di tingkat global. Karena itu, dia menilai perguruan tinggi perlu lebih memfokuskan pendidikan pada jenjang pascasarjana nan berangkaian erat dengan riset dan inovasi.

“Karena perguruan tinggi berbadan norma itu mandatnya adalah meningkatkan daya saing dunia universitas-universitas nan ada di Indonesia di tingkat global. Oleh lantaran itu konsentrasi pada pendidikan pascasarjana,” katanya.

Ia menilai konsentrasi tersebut susah dicapai jika proporsi mahasiswa program sarjana tetap jauh lebih dominan dibandingkan mahasiswa pascasarjana.

“Karena pascasarjana itu kan konsentrasi pada riset dan inovasi. Jadi tidak mungkin kita melakukan penemuan dengan proporsi program sarjana nan lebih dominan proporsinya daripada pendidikan pascasarjana,” ujar Nurmandi.

Nurmandi menegaskan PTNBH dinilai sudah mempunyai keahlian untuk menjalankan orientasi tersebut. Menurutnya, peningkatan kualitas perguruan tinggi perlu diarahkan pada daya saing global, tidak hanya melalui peningkatan jumlah mahasiswa program sarjana.

“PTNBH sudah punya keahlian untuk itu,” kata Nurmandi.

instagram embed
Selengkapnya
Sumber Kumparan
Kumparan