Refleksi Kemerdekaan RI, Pemerintah Alirkan Kedaulatan dari Sawah hingga Jembatan di Pelosok Negeri

Sedang Trending 4 hari yang lalu

JAKARTA – Kemerdekaan suatu bangsa tidak berakhir ketika dentang proklamasi selesai dikumandangkan. Tantangan sebenarnya terletak pada gimana merawat dan mengisinya agar kedaulatan itu bisa betul-betul dirasakan seluruh rakyat dalam kehidupan sehari-hari.

"Kemerdekaan kudu datang dalam air nan mengalir ke sawah-sawah petani, jalan nan menghubungkan desa dengan pusat pasar, jembatan nan mengantar anak-anak pergi ke sekolah, hingga permukiman nan mempunyai akses air minum serta sanitasi layak," ujar Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum (PU) Jemmy Setiawan, Selasa (18/8/2026).

Perjalanan Kementerian PU dalam mengawal kedaulatan bangsa mempunyai irisan sejarah nan sangat kuat dengan lahirnya Republik ini. Didirikan pada Agustus 1945, lembaga ini telah genap berumur 81 tahun mengabdi.

Jemmy mengenang, pada masa awal kemerdekaan, instansi pusat PU menempati jejak gedung Departement van Verkeer en Waterstaat di Bandung, gedung berhistoris nan sekarang dikenal luas sebagai Gedung Sate. Gedung tersebut bukan sekadar perkantoran, melainkan tembok pengetahuan teknis dan arsip krusial negara.

Sejarah mencatat peristiwa heroik pada 3 Desember 1945. Sebanyak 21 pegawai PU bertaruh nyawa mempertahankan Gedung Sate dari gempuran pasukan Sekutu dan NICA. Tujuh di antaranya gugur dan diabadikan sebagai pahlawan Sapta Taruna. Peristiwa ini kelak menjadi tonggak peringatan Hari Bakti PU setiap 3 Desember.

"Pesan pahlawan Sapta Taruna sangat jelas: mempertahankan kemerdekaan tidak hanya di medan perang, tetapi juga menjaga aset, infrastruktur, dan kelembagaan negara,”ujarnya.

‘’Jika pada 1945 insan PU mempertahankan gedung negara, maka di tahun 2026 ini pengabdian itu diteruskan dengan membangun prasarana agar kehadiran negara dirasakan seluruh rakyat," lanjut Jemmy.

Seiring berjalannya waktu, peran Pemerintah dari sekadar perbaikan prasarana pasca-revolusi menjadi motor utama pembangunan nasional.

Tonggak sejarah seperti pembangunan Bendungan Jatiluhur (1957), Jembatan Semanggi, hingga Jalan Tol Jagorawi (1978) menjadi bukti nyata keahlian teknokratis insinyur Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, prasarana ditempatkan sebagai pilar pengungkit utama program Asta Cita, khususnya dalam mewujudkan swasembada pangan, energi, dan air.

Selengkapnya
Sumber Okezone.com
Okezone.com