Malang -
Akademisi sekaligus pengamat politik nasional, Rocky Gerung datang sebagai narasumber dalam aktivitas RedTalks 2026 'Nasionalisme Tanpa Batas Generasi' nan diselenggarakan oleh DPD PDI Perjuangan Jawa Timur berbareng detikcom.
Rocky Gerung menyinggung soal kegelisahan anak muda dalam memandang dinamika politik dan pemerintahan saat ini. Ia menyebut perihal itu sebagai burnout society.
"Anak muda bukan menarik diri (dari perpolitikan), anak muda berupaya memahami, anak muda dalam kondisi kegelisahan dan capek dalam kegelisahan. Dalam istilah sosiologi namanya burnout society itu," kata Rocky di Malang Creative Center, Sabtu (25/7/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Rocky menyebut anak-anak muda saat ini berupaya mencari jalan keluar pengganti dari perpolitikan nasional nan sudah membikin lelah.
"Anak muda bukan menarik diri, anak muda berupaya untuk memahami jalan pengganti untuk keluar dari kegelisahannya. Jadi semua anak muda sekarang ada dalam kondisi kegelisahan, apalagi capek lantaran resah terus. Burnout society itu masyarakat nan kandas untuk punya harapan, dia capek secara mental," jelasnya.
"Kalau pengetahuan teknik, capek artinya fatigue. Bukan mental fatigue, tapi material fatigue. Besi itu, jika dia dibombardir dengan stres nan terlalu besar, dia mengalami kelelahan lampau dia runtuh. Tetapi material fatigue bisa diatasi oleh seorang arsitek alias seorang teknisi. Tapi jika mental fatigue, dia hanya bisa diatasi oleh ideologi," tambahnya.
"Jadi kenapa anak muda itu lelah? Karena tidak ada petunjuk ideologi apa nan mau dia capai. Dan persaingan politik hari-hari ini tidak berbasis ideologi, berbasis tukar tambah amplop. Jadi kita mau pastikan bahwa dari Malang, ada arah baru nasionalisme untuk membikin kita apalagi tidak bakal pernah capek untuk mengejarnya, ialah ideologi," lanjutnya.
Rocky menilai semangat marhaenisme nan merupakan ideologi PDI Perjuangan menjadi pengganti bagi anak-anak muda saat ini.
"Satu-satunya nan tersedia untuk dipercakapkan di negeri ini adalah marhaenisme. Marhaenisme itu adalah jalan kiri, kita mau tuntut apakah Presiden Prabowo dengan buahpikiran sosialismenya juga ada di jalan kiri, alias ke-kiri-kirian doang? Kita mau tagih partai-partai bahwa Indonesia didirikan untuk menempuh jalan kiri. Jadi Anda jangan takut tersesat di jalan kiri, lantaran Anda pasti tersesat di jalan nan benar," tegasnya.
"Kita mau mengaktifkan satu khayalan bahwa negeri ini bisa dituntun ke arah awal pikiran-pikiran para ireng nan memerdekakan negeri ini di bawah ketua Bung Karno. Bung Karno mengerti tentang kelondoan, tapi dia enggak menjadi londo. Karena itu dia pastikan bahwa negeri ini kudu pergi mengikuti jalan kiri, bukan jalan kanan. Dan marhaenisme adalah pengikat masa depan kita," tandasnya.
(akd/ega)
19 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·