Ilustrasi bursa saham(Antara Foto)
KEPUTUSAN rebalancing MSCI alias Morgan Stanley Capital International mendepak sejumlah saham dari pasar modal Indonesia dinilai menjadi sirine krusial bagi transparansi dan tata kelola emiten di dalam negeri.
Pengamat ekonomi Universitas Brawijaya Noval Adib menilai langkah tersebut menunjukkan ukuran kapitalisasi pasar saja tidak lagi cukup untuk menarik minat penanammodal dunia andaikan tidak diimbangi dengan free float alias saham beredar publik nan memadai, likuiditas tinggi, serta akses investasi nan terbuka bagi penanammodal asing.
“Bagi Indonesia, pasar modal dan para emiten saham, perihal ini tentu bisa menjadi momentum untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola pasar modal serta perusahaan,” ujar Noval kepada Media Indonesia, Jumat (15/5).
Menurut Noval, langkah tegas MSCI mendepak sejumlah saham berkapitalisasi besar sangat bisa dipahami lantaran ada standar utama nan tidak terpenuhi, terutama mengenai saham beredar publik dan akses penanammodal asing.
Ia menegaskan, regulator pasar modal Indonesia, ialah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), berbareng Bursa Efek Indonesia (BEI) kudu merespons tuntutan MSCI secara positif dan sigap. Menurutnya, tuntutan tersebut justru baik untuk mendorong pasar modal Indonesia menjadi lebih sehat dan kompetitif di tingkat global.
"Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bagi regulator dan pelaku pasar untuk memperkuat kualitas tata kelola, meningkatkan keterbukaan informasi, dan menciptakan pasar modal nan lebih sehat serta andal di mata penanammodal internasional," tegasnya.
Noval menilai OJK dan BEI perlu memastikan saham-saham nan tercatat di bursa mempunyai likuiditas tinggi, mudah diperjualbelikan oleh penanammodal global, tidak mudah dimanipulasi, serta mempunyai nilai nan betul-betul mencerminkan sistem supply and demand nan sehat. Selain itu, aspek transparansi juga kudu diperkuat agar saham dengan kepemilikan terlalu terkonsentrasi alias free float mini dapat lebih mudah diketahui publik maupun investor.
“Untuk kemudian biar para penanammodal itu sendiri nan memutuskan apakah mau invest di saham-saham seperti itu alias tidak,” katanya.
Ia menambahkan, MSCI pada dasarnya lebih menyukai emiten dengan free float besar, kepemilikan nan tersebar, likuiditas tinggi, serta pedoman penanammodal nan beragam. Karena itu, keluarnya enam saham besar dari indeks MSCI dinilai sebagai akibat logis dari disiplin MSCI dalam menjaga standar dan reputasinya sebagai lembaga riset investasi dunia independen.
Menurut Noval, MSCI tentu tidak bakal mengorbankan reputasinya dengan tetap mempertahankan saham-saham nan dinilai bermasalah berasas standar mereka ke dalam indeks nan disusun. Terlebih, pengguna utama jasa MSCI adalah penanammodal lembaga dunia nan mempunyai standar tinggi dan tidak bisa diabaikan.
"MSCI tentu sadar user atau pengguna jasa mereka adalah penanammodal institutional bumi nan tentunya bukan lembaga sembarangan nan bisa diabaikan begitu saja," pungkasnya. (H-4)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·