ilustrasi(Magnific)
SELAMA 12.000 tahun terakhir, Bumi melintasi periode suasana nan relatif hangat nan dikenal sebagai era Holoseno. Namun, perjalanan tersebut tidak sepenuhnya mulus. Sekitar 22 kali, planet ini mengalami periode dingin mendadak nan berjalan hingga beberapa abad, memicu majunya kembali gletser-gletser di pegunungan.
Para intelektual sempat kesulitan menemukan argumen pasti di kembali berulangnya kejadian ini. Kini, tim peneliti internasional nan dipimpin Alice Paine, peneliti postdoktoral di Universitas Basel, menemukan jawabannya, letusan gunung berapi.
Studi nan dipublikasikan dalam jurnal Nature Communications ini memaparkan sistem rinci gimana satu letusan gunung berapi dapat memicu reaksi berantai nan memperkuat jauh lebih lama daripada lama erupsi itu sendiri.
Sebelumnya, beragam teori diajukan untuk menjelaskan kejadian ini, mulai dari gumpalan gunung es nan mendinginkan laut, pergeseran aktivitas matahari, hingga perubahan arus samudra. Namun, tidak ada satu pun nan betul-betul memberikan jawaban pasti.
“Hingga saat ini, belum ada penjelasan nan meyakinkan mengenai kejadian ini. Selalu tampak seperti ada sesuatu nan hilang,” kata Paine.
Memetakan Erupsi dan Pergerakan Gletser
Untuk menguji teori tersebut, tim mengumpulkan catatan dari 51 letusan besar selama era Holoseno dari sumber geologis dan historis. Banyak di antaranya berada di sepanjang Cincin Api Pasifik.
Peneliti mengombinasikan info dari sampel inti es Arktik dan Antartika, penanggalan material organik di lapisan abu vulkanik, serta teknik penanggalan batuan vulkanik terbaru. Tanggal-tanggal letusan tersebut kemudian dicocokkan dengan waktu terjadinya periode dingin nan dipetakan melalui moraine (endapan batuan dan puing nan didorong oleh gletser). Hasilnya, lebih dari 80% pergerakan gletser bertepatan dengan setidaknya satu letusan gunung berapi.
“Dengan menggabungkan hasil kajian statistik kami dengan rekonstruksi paleoklimat nan ada, kami sangat percaya bahwa ini bukan kebetulan,” ujar Paine.
Mekanisme ini dimulai saat letusan besar menyemburkan partikel sulfur ke atmosfer atas. Sulfur tersebut memantulkan sinar mentari kembali ke luar angkasa dan mendinginkan permukaan Bumi, khususnya di Belahan Bumi Utara. Cooling ini memperluas es laut Arktik, mengubah arus samudra, dan memperlebar area dingin.
"Semua pengaruh ini saling memperkuat; ini adalah pengaruh bola salju," kata Paine. Akibatnya, gletser mulai meluas, terutama di wilayah tinggi seperti Swiss.
Meski begitu, tidak semua letusan memicu akibat ini. Erupsi nan terlalu lemah tidak bisa mendorong sulfur cukup tinggi, sementara erupsi nan terlalu kuat dapat membikin kolom abunya runtuh akibat bobotnya sendiri.
Paine menekankan perbedaan kejadian ini dengan peristiwa "Tahun Tanpa Musim Panas" pada 1816 akibat letusan Gunung Tambora di Indonesia. Letusan Tambora hanya berakibat sekitar satu tahun, sementara periode dingin dalam studi ini memperkuat hingga berpuluh-puluh tahun alias berabad-abad.
“Partikel sulfur hanyalah pemicu awal bola salju. Namun, dampaknya pada sistem Bumi memperkuat selama berdekade-dekade alias apalagi berabad-abad, lama setelah partikel tersebut lenyap dari atmosfer,” jelas Paine.
Mengenai apakah kejadian serupa dapat terulang di masa depan, para peneliti menilai dampaknya bakal lebih kompleks akibat perubahan suasana nan dipicu aktivitas manusia saat ini.
“Semakin suasana kita berubah, semakin kompleks proses nan terjadi. Masih ada kesenjangan pengetahuan nan sangat besar nan kudu diisi di sini,” pungkas Paine. (Earth/Z-2)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·