Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Rusia Vladimir Putin secara mengejutkan memberikan sinyal bahwa ada kesempatan untuk berbaikan dengan Ukraina. Namun, di saat nan sama, dia kembali menegaskan bahwa peringatan Kyiv kepada maskapai penerbangan untuk menghindari wilayah udara Rusia adalah corak terorisme negara.
Mengutip CNBC International, Kamis (3/9/2026), Putin menekankan bahwa penyelesaian bentrok sepenuhnya berada di tangan negara nan bertikai. Ia sendiri menilai tetap ada kesempatan untuk berbaikan dengan Kyiv.
"Pada akhirnya... masalah tersebut kudu diselesaikan oleh negara-negara nan terlibat dalam konflik, ialah Rusia dan Ukraina. Apakah ada kesempatan (untuk berdamai)? Dalam pandangan saya, ya, ada," paparnya saat berpidato di Forum Ekonomi Timur di Vladivostok, Rusia Timur.
Komentar ini muncul saat upaya untuk menengahi akhir dari perang nan telah berjalan lebih dari empat tahun itu tengah menemui jalan buntu akibat perpecahan soal wilayah, agunan keamanan, dan penyelarasan militer. Merespons dinamika ini, Menteri Luar Negeri Ukraina, Andrii Sybiha, menyatakan keyakinannya bahwa sekarang bakal ada dinamika baru dalam upaya perdamaian seiring dengan kembalinya fase aktif keterlibatan politik dan diplomatik di beragam negara.
Walau begitu, upaya AS dan Eropa untuk membawa kedua belah pihak menuju kesepakatan sejauh ini tetap gagal, meskipun Direktur CIA AS John Ratcliffe dilaporkan telah melakukan kunjungan rahasia ke Moskow pekan lampau untuk memperingatkan Rusia agar tidak melakukan eskalasi.
Intervensi luar negeri lainnya datang dari Perdana Menteri India Narendra Modi nan mendesak Putin untuk menjauh dari "perang tanpa akhir" dan mengejar perdamaian.
Peringatan Keras NATO
Di sisi lain, penilaian tenteram Putin sangat kontras dengan peringatan tajam dari NATO mengenai aktivitas militer dan hibrida Rusia di sekitar sayap timur aliansi tersebut. Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, secara tegas menyebut Rusia sekarang menjadi semakin sembrono. Ia menyoroti rentetan rudal dan drone nan melintasi Eropa timur serta dugaan serangan hibrida Rusia di airport Leipzig, Jerman, bulan lalu.
"Bahaya nan ditimbulkan Rusia sudah jelas, dan kami bekerja sepanjang waktu untuk memastikan bahwa kami siap menjaga keselamatan rakyat kami. Jika Rusia berpikir kami bakal terpecah belah oleh ancaman, alias jika mereka berpikir kami bakal terhalang untuk mendukung Ukraina, mereka salah," tegasnya dalam konvensi pers berbareng Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Ketegangan udara juga kian memanas setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada hari Selasa mendesak maskapai penerbangan untuk menghindari wilayah udara Rusia lantaran maraknya ekspansi operasi drone jarak jauh Ukraina, termasuk serangan ke prasarana daya dan militer. Ia menyebut langit Rusia sekarang menjadi betul-betul tidak aman.
Merespons perihal tersebut, Putin mengecam keras dan menyebut ancaman itu sama dengan deklarasi terorisme negara, seraya berjanji bahwa Rusia bakal semakin mengintensifkan serangannya.
Saat ini, Kyiv memang kian garang menggunakan drone produksi dalam negeri untuk menyerang sasaran di luar garis depan demi meningkatkan beban biaya ekonomi dan militer bagi serangan Rusia. Sementara itu, pasukan Rusia tak kalah beringas dengan terus meningkatkan serangan rudal ke kota-kota Ukraina di tengah krisis kekurangan peralatan pertahanan udara nan dialami Kyiv.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·