Menkeu Purbaya (kedua kiri)(MI/Insi N J)
MENTERI Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah terus berupaya memperbaiki sentimen negatif nan berkembang di pasar finansial di tengah pelemahan nilai tukar rupiah dan indeks nilai saham campuran (IHSG). Menurutnya, tekanan di pasar tidak mencerminkan kondisi esensial ekonomi dan fiskal Indonesia nan tetap terjaga.
IHSG ditutup melemah 4,2% ke level 5.594,765 pada perdagangan Jumat (5/6). Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi bergerak melemah 17 poin alias 0,09% ke level Rp18.049 per dolar AS. "Sentimen negatif di pasar kudu kita perbaiki," kata Purbaya dalam konvensi pers APBN KiTa jenis Mei 2026 di Jakarta, Jumat (5/6).
Purbaya menilai pelemahan pasar dipengaruhi oleh kesalahpahaman alias misconception di kalangan pelaku pasar dan analis terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah. Menurutnya, terdapat dugaan bahwa pemerintah menjalankan fiskal secara tidak hati-hati, padahal Presiden Prabowo Subianto berkomitmen menjaga defisit anggaran tetap berada di bawah pemisah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB). "Ada misconception dari market alias analis nan menganggap kita menjalankan fiskal dengan jelek," ujarnya.
Ia menuturkan fondasi ekonomi Indonesia saat ini tetap kuat. Pemerintah, katanya, mempunyai ruang untuk melakukan penyesuaian kebijakan andaikan diperlukan guna menjaga kesehatan fiskal tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
"Saya jelaskan sekarang fondasi ekonomi baik, kebijakan betul-betul terjaga. Kalau ada apa-apa kita bisa adjust, kita perbaiki, kita elastis untuk memastikan defisit di bawah 3% tanpa mengganggu ekonomi," katanya.
Purbaya menegaskan Presiden Prabowo mempunyai komitmen nan sangat kuat untuk menjaga disiplin fiskal. Bahkan, dalam beragam pembahasan internal, Presiden disebut selalu menekankan pentingnya menjaga defisit anggaran tetap terkendali.
"Jadi komitmen Presiden untuk menjaga fiskal di bawah 3% banget kuat sekali. Jadi kita tidak menjalankan kebijakan fiskal nan tidak hati-hati," tegasnya.
Menurut Purbaya, tantangan utama pemerintah saat ini justru terletak pada komunikasi kepada publik dan investor. Ia mengakui beragam perkembangan positif fiskal belum sepenuhnya tersampaikan dengan baik ke pasar.
Ia menambahkan pemerintah memahami beragam dinamika nan terjadi di pasar. Namun, menurutnya, kondisi fiskal nan sehat semestinya menjadi aspek penopang stabilitas nilai tukar rupiah dan kepercayaan investor.
"Kami tahu apa nan kami kerjakan. Harusnya jika kita bereskan sananya, beres rupiahnya. Tapi memang ada sentimen negatif di pasar nan kudu kita perbaiki," katanya.
Purbaya juga menepis dugaan bahwa pengelolaan fiskal dilakukan secara serampangan alias tanpa perencanaan nan matang. "Ada misconception bahwa fiskal dijalankan secara serabutan lantaran menterinya enggak ngerti fiskal. Enggak begitu," tegasnya.
Menurut dia, pemerintah sejak awal telah memperkirakan pola pergerakan defisit APBN nan sempat melebar pada awal tahun akibat percepatan shopping negara. Namun seiring berjalannya waktu, keahlian fiskal menunjukkan perbaikan nan sesuai dengan perencanaan. "Padahal kan fiskalnya bagus," ujarnya.
Ia menegaskan pemerintah bakal terus menyiapkan beragam langkah stimulus dan berbincang dengan bumi upaya andaikan diperlukan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. (Ins/P-3)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·