Puncak Musim Kemarau 2026: Jadwal, El Nino dan Rekomendasi BMKG

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Jakarta -

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim tandus 2026 bakal terjadi dalam beberapa bulan ke depan. Kondisi ini perlu menjadi perhatian masyarakat dan beragam sektor lantaran berpotensi dipengaruhi kejadian El Nino nan tetap berlangsung.

Informasi mengenai agenda puncak musim tandus 2026 serta perkembangan El Nino menjadi krusial untuk diketahui sebagai langkah antisipasi menghadapi akibat nan mungkin timbul. BMKG juga telah menyiapkan sejumlah rekomendasi bagi pemerintah maupun masyarakat untuk mengurangi akibat nan dapat terjadi selama periode kemarau.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Puncak Kemarau 2026 & Kesiapan Hadapi El Nino

Merujuk info nan disampaikan BMKG, Kamis (18/6/2026), puncak musim tandus 2026 diprediksi terjadi pada periode Juli hingga September 2026. Dari rentang waktu tersebut, Agustus diperkirakan menjadi bulan dengan wilayah terdampak paling luas.

BMKG mengingatkan bahwa seluruh masyarakat perlu meningkatkan kesiapan menghadapi akibat musim tandus nan berpotensi diperkuat oleh kejadian El Nino. Langkah antisipasi diperlukan untuk menekan akibat kerugian pada beragam sektor, mulai dari pangan hingga kesehatan masyarakat.

Jadwal Puncak Musim Kemarau 2026 di Indonesia

Menurut BMKG, puncak musim tandus tidak terjadi secara berbarengan di seluruh Indonesia. Berikut rincian wilayah nan diprediksi mengalami puncak tandus pada 2026:

Juli 2026

Sebanyak 83 Zona Musim (ZOM) alias sekitar 12,26% wilayah Indonesia diprediksi mengalami puncak tandus pada Juli 2026. Wilayah tersebut meliputi sebagian Sumatra, sebagian mini Kalimantan dan Jawa, Nusa Tenggara Timur bagian selatan, Sulawesi Barat bagian utara, Sulawesi Tengah bagian barat, sebagian mini Maluku, Papua Barat Daya bagian selatan, Papua Barat bagian tengah, serta Papua bagian timur.

Agustus 2026

Pada Agustus 2026, sebanyak 369 ZOM alias sekitar 48,84% wilayah Indonesia diperkirakan mencapai puncak musim kemarau. Wilayah nan terdampak mencakup Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, sebagian Sulawesi, sebagian Maluku dan Maluku Utara, serta sebagian besar Pulau Papua.

September 2026

Sebanyak 169 ZOM alias sekitar 25,41% wilayah diprediksi mengalami puncak tandus pada September 2026. Wilayahnya meliputi Kepulauan Bangka Belitung, sebagian besar Sumatra Selatan, Lampung, sebagian mini Jawa, sebagian besar Nusa Tenggara Timur, Kalimantan bagian selatan, sebagian besar Sulawesi, sebagian besar Maluku Utara, sebagian Maluku, dan Papua Pegunungan bagian tengah.

El Nino Diprediksi Bertahan hingga Awal 2027

Berdasarkan kalkulasi BMKG pada awal Juni 2026, kejadian El Nino diprediksi tetap bakal memperkuat hingga awal tahun 2027. Kondisi ini menjadi salah satu aspek nan perlu diwaspadai selama berlangsungnya musim kemarau.

BMKG memperkirakan terdapat kesempatan sebesar 98% bahwa El Nino mencapai kategori moderat. Sementara itu, kesempatan El Nino mencapai kategori kuat diperkirakan sebesar 62%.

Meski demikian, BMKG menjelaskan bahwa akibat langsung kejadian tersebut terhadap wilayah Indonesia diperkirakan berjalan selama musim tandus hingga Oktober 2026.

Rekomendasi BMKG untuk Berbagai Sektor

Dalam menghadapi musim tandus dan potensi akibat El Nino, BMKG memberikan sejumlah rekomendasi kepada beragam sektor.

  • Pada sektor pangan, BMKG menyarankan penyesuaian agenda tanam serta penggunaan varietas tanaman nan irit air dan tahan terhadap kondisi kering.
  • Untuk sektor sumber daya air, diperlukan revitalisasi waduk dan perbaikan jaringan pipa air bersih guna menjaga kesiapan pasokan air bagi masyarakat.
  • Di sektor energi, BMKG merekomendasikan agar kapabilitas air waduk dipastikan tetap kondusif guna mendukung operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
  • Sementara itu, pada sektor kesehatan, pemerintah wilayah diminta menyiapkan respons sigap dalam mengantisipasi penurunan kualitas udara nan dapat memicu peningkatan kasus jangkitan saluran pernapasan akut (ISPA).

Lebih lanjut, Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa BMKG terus melakukan koordinasi dan pendampingan kepada beragam pemangku kepentingan untuk menghadapi kondisi suasana nan terjadi.

"BMKG secara aktif berkomunikasi, berkoordinasi, serta melakukan pendampingan kepada pemangku kepentingan di tingkat daerah, seperti pemerintah wilayah (pemda), Forkopimda, BPBD, dan semua pihak nan memerlukan info nan lebih perincian dan gimana langkah memitigasi serta beradaptasi mengenai dengan kondisi suasana nan terjadi saat ini," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (18/6/2026).

(wia/zap)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News