Puluhan Kasus Keracunan Terjadi, Kepala BGN Buka Suara Soal SOP

Sedang Trending 44 menit yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono mengungkapkan bahwa sebagian besar kasus keracunan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) dipicu oleh pelanggaran standar operasional prosedur (SOP).

Pelanggaran tersebut mencakup ketidakdisiplinan mengenai waktu konsumsi, penyimpanan, penerimaan bahan baku, hingga pengaturan suhu makanan.

“Dari kasus keracunan nan ada itu jika kita breakdown, itu 80–90 persen tuh lantaran tidak alim SOP,” ujar Sudaryono saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) berbareng Komisi IX DPR RI, Kamis (3/9/2026).

Sudaryono mencontohkan kasus keracunan nan terjadi di Sidoarjo. Hasil investigasi sementara BGN menemukan makanan nan dimasak pukul 05.00 WIB diberi pemisah waktu konsumsi hingga pukul 10.00 WIB. Namun, label penanda waktu hanya ditempel pada satu wadah dan tidak menyeluruh.

“Fakta labelnya itu rupanya ada satu ini saja, sisanya enggak dikasih label,” ungkapnya.

Parahnya, makanan nan melampaui pemisah kondusif tersebut baru dikirim ke sekolah pukul 11.40 WIB dan dikonsumsi siswa sekitar pukul 12.00 WIB.

“Sudah tahu jam 10.00 tidak dikonsumsi, diantar sekolah di atas jam 11.00... baru dikonsumsi sekolah jam 12.00, jam 13.00, 12.14, terus,” kata Sudaryono.

Selain keterlambatan distribusi, ketidaksesuaian kapabilitas dapur dengan porsi produksi turut menjadi pemicu. Dapur berskala mini dipaksa memproduksi makanan dalam jumlah besar sehingga memasak terlalu sigap sejak awal hari.

“Intinya adalah kenapa ada keracunan? Karena ada dapur mini dikasih nan banyak, sehingga dia adanya memasak pagi-pagi, ditaruh dulu, dia masak lagi,” tuturnya.

Guna mencegah kejadian serupa, BGN mewajibkan penempelan label di seluruh wadah, memperketat agenda pengawasan, serta mengevaluasi petugas secara berkala.

“Yang sekarang kami lakukan, setiap jam 17.00 sore itu kami evaluasi. Kami nan tidak datang langsung beri peringatan, kami ganti, kami tukar, kami copot,” tegasnya.

BGN juga menata ulang jam kerja pengawas dari tingkat pusat hingga wilayah melalui koordinasi virtual harian.

“Cara nan paling sigap caranya adalah saya, pemimpin saya, deputi saya, sesutama saya, eselon II saya sampai ke bawah, kita setiap jam tertentu itu kemudian kami Zoom. Dan kita absen,” jelasnya.

Selengkapnya
Sumber Liputan6 Berita
Liputan6 Berita