Indira Estiyanti Nurjadin Esti Nurjadin menjabat sebagai Kepala Museum dan Cagar Budaya di bawah Kementerian Kebudayaan nan mengelola museum dan situs berhistoris Indonesia. Penggemar drama Korea ini tengah menyelesaikan studi doktoral pada bidang Museum di Universitas Indonesia.
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi
CNNIndonesia.comJakarta, CNN Indonesia --
Fosil 'Manusia Jawa'(Java Man), fosil homo erectus nan ditemukan di Jawa Timur pada tahun 1891 oleh master anatomi Belanda Eugène Dubois, akhirnya kembali ke Indonesia.
Setelah lebih dari satu abad di Belanda, media internasional menyebut proses ini sebagai bagian dari restitusi kolonial, sebuah corak keadilan ilmiah (scientific justice), dan sebuah kebanggaan nasional bagi bangsa nan dengan gigih menagih kembalinya artefak nan sangat berbobot dari negara jejak penjajah.
Fosil ini adalah salah satu penemuan terpenting di bumi dalam perkembangan manusia. Selama lebih dari 130 tahun sejak ditemukan, penceritaan tentang sejarah si Manusia Jawa ini sebagian dilakukan oleh lembaga dan otoritas ilmiah Eropa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Karena itu repatriasi Java Man ke Indonesia kemudian bukan sekadar pemindahan bentuk tulang-belulang manusia purba. Ini adalah pesan simbolis bahwa Indonesia bukan sekadar situs tempat sejarah bumi ditemukan, melainkan bangsa nan bisa mengurasi sejarahnya sendiri.
Indonesia adalah pemilik salah satu warisan arkeologi dan paleoantropologi terkaya di dunia. Indonesia juga termasuk dalam sejarah perkembangan manusia purba, perdagangan maritim kuno, pusat kerajaan Hindu-Buddha, peradaban Islam, budaya megalitik, dan beberapa seni cadas tertua nan pernah ditemukan. Kemampuan untuk mengurasi sejarah dan menarasikan cerita sangat krusial bagi Indonesia.
Java Man boleh jadi temuan luar biasa, tetapi di negara ini ada ratusan ribu artefak lainnya nan juga layak mendapat sorotan di panggung global. Artefak-artefak tersebut saat ini menjadi koleksi museum-museum di Indonesia.
Museum Nasional Indonesia misalnya, sering disebut sebagai salah satu museum dengan koleksi terkaya dan terlengkap di Asia Tenggara. Berbagai sumber ilmiah mencatat koleksinya mencapai 190.000 objek, termasuk artefak prasejarah, arkeologi, etnografi, dan antropologi.
Kenapa Indonesia begitu kaya warisan sejarah lampau?
Sejarawan dan arkeolog umumnya menjelaskan ini mengenai dengan latar belakang ribuan pulau dan peradaban di Indonesia. Selain itu Indonesia punya beragam kerajaan besar bergolongan Hindu-Buddha, latar sejarah maritim Islam, seni dan budaya gua berdinding cadas tertua di dunia, koleksi arkeologi bawah air nan luar biasa, dan tradisi megalitik nan sangat tua.
Sayangnya 'harta karun' berhistoris ini tidak kemudian membikin orang punya image terhadap nama Indonesia. Tidak seperti British History Museum nan dikaitkan dengan supremasi Inggris dalam kekuasaan ilmiah dunia, alias Musee du Louvre bagi Paris sebagai poros budaya dan kiblat mode global.
Kuncinya adalah museum, alias lebih tepatnya prasarana museum.
Negara-negara nan memahami pentingnya branding budaya semacam ini sudah sejak lama memperlakukan museum sebagai investasi strategis.
Louvre di Prancis bukan sekadar ruangan tempat memajang lukisan Monalisa. Museum ini adalah bagian dari mesin nan menciptakan Paris sebagai ibu kota budaya dunia.
Metropolitan Museum of Art di New York memperkuat image prestisius untuk kota tersebut. British Museum, meskipun selalu dikaitkan dengan kontroversi tentang dari mana koleksinya berasal, tetap menjadi salah satu instrumen soft power dan pariwisata Inggris nan paling kuat.
Museum-museum di Korea Selatan menjadi jangkar bagi ekonomi imajinatif dan pariwisata. Abu Dhabi sedang dalam proses menciptakan pusat seni, budaya, dan sejarah dengan berinvestasi secara strategis pada prasarana museum dengan nama-nama terkenal seperti Frank Gehry, Guggenheim, dan Louvre - dalam upaya mengerek nomor pariwisata naik lima kali lipat dalam satu dasawarsa ini.
Museum prasarana nasional
Di Indonesia, pengembalian Java Man memaksa kita menjawab pertanyaan lama: apakah sekarang museum itu kudu kita anggap krusial alias tidak?
Kalau iya, apakah kita bersedia berinvestasi untuk museum bukan sekadar sebagai gedung seremonial, tetapi sebagai prasarana nasional?
Umumnya kita memahami prasarana sebagai gedung bentuk nan didominasi oleh jalan tol, bandara, pelabuhan, area industri dan sejenisnya. Mungkin di sinilah masalahnya. Indonesia tetap condong memandang museum sebagai aksesori budaya dibanding sebagai mesin berbobot ekonomi, pendidikan, dan kekuatan geopolitik.
Kalau jembatan memindahkan peralatan dan airport memindahkan orang, museum memindahkan narasi dan membangun pengaruh. Dalam situasi dunia hari ini, narasi dan pengaruh adalah kekuatan ekonomi dengan bungkusan soft power.
Kenyataannya, selama puluhan tahun sebagian besar masyarakat Indonesia menganggap museum sebagai lemari tempat pajangan barang budaya. Museum menempati tempat nan relatif marjinal dalam kebijakan nasional.
Betul dia adalah simbol kebanggaan nasional, tetapi kepentingannya jauh tertinggal di belakang saat membahas prioritas anggaran. Ujungnya museum seringkali menjadi lembaga birokrasi negara dengan koleksi kaku dan kolot, kekurangan dana, dan biasa dipakai sebagai simbol seremonial untuk anak sekolah pergi piknik.
Setelah Reformasi tahun 1998, Indonesia mengalami pendemokrasian politik dan desentralisasi pemerintahan. Tetapi sektor museum tidak ikut masuk gerbong modernisasi ini.
Pada saat nan sama, negara-negara tetangga dan kota-kota dunia semakin garang menggunakan museum sebagai perangkat pencitraan untuk branding pariwisata, soft power, dan regenerasi kota nan makin modern, stylish dan maju.
National Gallery Singapore, misalnya, menjadi salah satu trik Singapura untuk menampilkan gambaran sebagai kiblat seni Asia Tenggara. Pemerintahnya mempromosikan museum ini besar-besaran sebagai rumah koleksi publik seni modern dan kontemporer Asia Tenggara terbesar di dunia.
Branding semacam ini dianggap krusial di mana Singapura berambisi muncul sebagai leader dalam budaya modern di kawasan, bukan sekadar prestise domestik sebagai kolektor seni di Asia.
Meskipun koleksi dan narasinya berbeda, sebagian besar museum dunia menggunakan strategi nan mirip: semuanya menciptakan ekosistem, bukan sekadar gedung berarsitektur keren.
Di sekitar museum-museum kelas bumi selalu bertumbuhan hotel, restoran, toko buku, jasa transportasi, upaya ritel, industri kreatif, dan pengembangan properti di sekitarnya.
Fasilitas-fasilitas ini merayu dan melayani visitor sehingga memilih lama kunjungan lebih lama, membentuk pencitraan kota di mana museum berada, dan menciptakan ekonomi pariwisata nan lestari selama puluhan tahun kemudian.
Salah satu contoh adalah Bilbao, kota industri di Spanyol nan perkembangannya mulai lesu pada tahun 1990-an. Berdirinya Museum Guggenheim pada tahun 1997 mengubahnya kota ini jadi lokasi wisata internasional dengan 1,3 juta visitor per tahun.
Padahal penduduknya sendiri hanya 350.000 jiwa. Bilbao sekarang jadi contoh klasik gimana prasarana budaya memicu pembaruan kota dan mengerek kualitas ekonominya.
Kita sangat jarang membicarakan museum konteks ini. Dana memang merupakan kendala, tetapi lebih dari itu, skala pengembangan semacam ini memerlukan khayalan politik, sesuatu nan tidak banyak kita punyai di Indonesia saat ini. Soal kemampuan, jelas kita bisa membangun prasarana skala besar, asalkan memang dianggap strategis.
Kita menghabiskan triliunan rupiah untuk jalan, bandara, hilirisasi industri, pembangkit listrik dan kampanye pariwisata. Namun, investasi dalam ekosistem museum tetap marjinal. Di luar kesempatan ekonomi, sebuah aspek lain nan tak kurang krusial juga jarang disebut ialah museum sebagai sarana membangun kepercayaan diri nasional.
Museum adalah perangkat untuk menentukan mana narasi nan mau lestarikan dan gimana narasi itu cocok untuk khayalan kita tentang Indonesia di masa depan.
Bangsa dengan budaya museum nan kuat umumnya mempunyai literasi sejarah nan sama kuatnya. Mereka bisa menangkap garis sejarah antara masa lampau dan masa depan dan keahlian memahami perihal ini memupuk tumbuhnya bangsa nan percaya diri.
Kembalinya Java Man layak jadi awal dari sebuah percakapan nasional tentang gimana kita mengarahkan strategi museum selanjutnya.
Saat bumi merayakan Hari Museum Internasional pada 18 Mei kemarin, kita dihadapkan pada pilihan tentang apa strategi museum nan bisa dipilih untuk mendorong pertumbuhan nasional sekaligus punya relevansi global.
Kembalinya Java Man sudah memberi simbol bahwa kita layak dan mampu. nan tetap belum terjawab adalah, apakah Indonesia siap membangun ekosistem nan setara untuk itu?
(sur)
Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
15 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·