Jakarta, CNBC Indonesia - PT Timah Tbk (TINS) melakukan kerja sama dengan PT Perminas untuk menggarap proyek hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ) di wilayah Bangka Belitung. Kerja sama strategis tersebut dilakukan guna memperkuat kemandirian nasional dalam mengelola mineral kritis melalui penguasaan teknologi pemurnian nan mumpuni.
Direktur Strategi Korporasi dan Pengembangan Usaha TINS Harry Budi Sidharta mengungkapkan kerjasama tersebut difokuskan pada pemanfaatan skill teknologi nan dimiliki oleh Perminas sebagai pemegang mandat pengelolaan tanah jarang. Ia menyebut langkah tersebut diambil agar Indonesia dapat mengolah potensi LTJ secara berdikari di tengah sulitnya akses teknologi pemrosesan di pasar global.
"Terkait dengan kerja sama dengan Perminas, kita konsentrasi pada pengelolaan logam tanah jarang. Sebagaimana diketahui mandat dari Perminas adalah pengelolaan logam tanah jarang, maka peran Perminas di dalam kerja sama hilirisasi tanah jarang di Bangka Belitung bersinergi dengan PT Timah adalah sebagai mitra kita dalam penyediaan teknologi," ujarnya dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun Buku 2025, di Jakarta, dikutip Senin (15/6/2026).
Kemitraan tersebut dinilai krusial mengingat pengolahan LTJ mempunyai karakter teknis nan kompleks serta keterkaitan erat dengan dinamika politik internasional. Melalui sinergi tersebut, perusahaan berambisi dapat mempunyai akses terhadap standar teknologi nan tepat untuk mengoptimalkan nilai tambah mineral ikutan di area tambang.
"Sebagaimana diketahui bahwa teknologi dari pengelolaan logam tanah jarang merupakan salah satu nan tidak mudah didapatkan, sensitif terhadap rumor geopolitik dan lain-lain, maka kita manfaatkan alias kita bekerja sama bersinergi dengan Perminas untuk membantu kita mendapatkan teknologi nan sesuai dalam pengelolaan logam tanah jarang di Bangka Belitung," jelas Harry.
Selain itu, PT Timah juga terus memperkuat upaya inti dengan menargetkan peningkatan kapabilitas produksi smelter sepanjang tahun ini. Perusahaan berkomitmen untuk memastikan setiap tahapan operasional, mulai dari eksplorasi hingga hilirisasi, melangkah selaras dengan prinsip tata kelola perusahaan nan baik dan berkelanjutan.
Sebelumnya, Direktur Utama TINS Restu Widiyantoro menjelaskan bahwa kerjasama TINS dan Perminas mencakup dua skema utama dalam pembagian peran rantai pasok mineral. Pihaknya pun bakal bertindak sebagai pemasok bahan baku nan berasal dari sisa hasil produksi (SHP) timah untuk kemudian diolah oleh Perminas menjadi produk lanjutan.
"PT Timah mendapat tugas untuk sebagai supplier untuk bahan-bahan REE alias SHP-nya. Sisa hasil produksi dari timah itu menjadi bahan utama untuk Perminas nan kelak selanjutnya Perminas bakal memproses menjadi produk-produk ikutannya," ujarnya dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) berbareng Komisi XII DPR RI, dikutip Kamis (16/4/2026).
Rencana pengembangan tersebut diproyeksikan bisa memberikan kontribusi devisa bagi negara dalam kurun waktu dua tahun mendatang. Pemerintah sebelumnya dijadwalkan meresmikan peletakan batu pertama (groundbreaking) akomodasi riset dan industri REE pada 20 Mei 2026 mendatang.
"Kerja sama ini diprogramkan untuk mencapai 2 tahun sudah diharapkan terjadi monetisasi. Jadi sudah bisa menghasilkan produk nan bisa mendapatkan devisa untuk negara," lanjutnya.
Restu menilai penugasan untuk mengelola LTJ menjadi lompatan besar bagi perusahaan guna mendongkrak pendapatan di luar upaya inti timah. Saat ini, pihaknya sudah mulai melakukan pengumpulan bahan baku sisa produksi untuk disiapkan sebagai suplai utama bagi Perminas.
"Kami mendapat lompatan nan cukup baik lantaran dengan adanya program ini, ini kami programkan untuk bisa mendapatkan revenue ataupun keuntungan nan jauh lebih besar dari sebelumnya. Ini nan kami harapkan," tandasnya.
(pgr/pgr)
Addsource on Google
[Gambas:Video CNBC]
5 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·