Psikologi Sastra, Memahami Alby dalam Sampai Titik Terakhirmu

Sedang Trending 2 hari yang lalu
Psikologi Sastra, Memahami Alby dalam Sampai Titik Terakhirmu Dike Setiawan, Mahasiswi prodi pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Unesa(Dok Pribadi )

DI kembali setiap peristiwa, selalu ada manusia dengan pikiran, perasaan, dan pergulatan batinnya. Tidak semua persoalan dapat dipahami hanya melalui apa nan terlihat di permukaan. Ada pengalaman, tekanan lingkungan, bentrok batin, dan kondisi psikologis nan turut membentuk perilaku seseorang. Di sinilah psikologi sastra menjadi salah satu perspektif pandang nan menarik untuk digunakan dalam memahami kehidupan manusia.

Di era sekarang, ketika beragam peristiwa sosial semakin mudah tersebar melalui pemberitaan, ilmu jiwa sastra menawarkan langkah pandang nan lebih mendalam: membujuk masyarakat tidak hanya bertanya tentang apa nan terjadi, tetapi juga memahami pengalaman manusia, konflik, dan nilai-nilai kemanusiaan nan melatarbelakanginya. Dengan demikian, sastra bukan sekadar intermezo alias bacaan, melainkan juga ruang refleksi untuk menumbuhkan empati dan kepekaan sosial.

Perkembangan studi ilmu jiwa di era modern sangat pesat dan muncul dalam beragam disiplin baru nan menguatkan eksistensi psikologi. Diakui alias tidak, perkembangan studi ilmu jiwa nan semakin merambah ke beragam studi nan lain, nan dikenal dengan studi interdisipliner, transdisipliner, dan multidisipliner. Karena itu, saat ini muncul studi ecopsychology, ialah ilmu jiwa nan memfokuskan riset pada lingkungan (Nemeth, 2015), ilmu jiwa feminisme, ialah ilmu jiwa nan memfokuskan riset pada konteks keperempuanan (Segal, 2003), ataupun ilmu jiwa spiritual, ialah ilmu jiwa nan memfokuskan kajiannya pada riset spiritual (Johansen, 2010). 

Menurut pendapat saya, pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ilmu jiwa merupakan pengetahuan nan terus berkembang dan bisa beradaptasi dengan beragam persoalan kehidupan manusia di era modern. Psikologi tidak hanya membahas perilaku dan proses mental individu, tetapi juga berangkaian dengan lingkungan, gender, spiritualitas, serta kondisi sosial dan budaya masyarakat. Munculnya kajian seperti ecopsychology, ilmu jiwa feminisme, dan ilmu jiwa spiritual membuktikan bahwa pemahaman terhadap manusia memerlukan perspektif pandang nan lebih luas dan tidak dapat dipisahkan dari konteks kehidupannya. 

Dari penjelasan diatas tentu, jika pengetahuan ilmu jiwa sastra sangat luas sekali, sehingga ketika kita membaca karya sastra seperti novel, cerpen, dan menonton film, dapat mengetahui gimana alur dalam karya sastra tersebut, nah alur dan kesan pesan nan ada di dalam karya sastra tersebut nan bisa membikin kita sedih, senang senang, adalah corak ilmu jiwa dari tokoh nan sukses tersampaikan ke pembaca, pendengar, dan penikmat sastra. Psikologi sastra ini dapat dibedakan menjadi beberapa bagian seperti ilmu jiwa eksistensial, psikoanalisis, ilmu jiwa humanistik, ilmu jiwa sosial, ilmu jiwa perkembangan, dan lain-lain. Penjelasan eksistensialisme mempunyai pemikiran nan esensial, ialah eksistensi mendahului esensi, bukan prinsip mendahului eksistensi. 

Eksistensialisme merupakan reaksi dari idealisme dan materialisme (Drijakara, 1979; Leahly 1985). Para eksistensialis menolak pemikiran idealisme nan ortodok dan materialisme ortodok dalam memandang kehidupan (Ahmadi, 2014) manusia nan mulai dari pelahiran sampai dengan kematian. Idealisme terlalu ekstrim memandang idea dan materialisme terlalu ekstrim memandang materia. Sedangkan untuk psikoanalisis sendiri ialah tentang teori nan sang tokoh itu sendiri Sigmund Freud, dalam pandangan Freud, manusia mempunyai struktur kepribadian. 

Struktur kepribadian tersebut terbagi menjadi tiga bagian, ialah id, ego, dan super ego. Id merupakan struktur kepribadian nan instingtif. Id merupakan bawaan dasariah manusia nan primitif dan purba. Adapun ego merupakan struktur kepribadian nan menjadi mediator antara id dan super ego. Ego tumbuh dan berkembang dari nilai dan bangunan sosiobudaya nan ada dalam masyarakat. Kemudian terdapat ilmu jiwa humanistik nan lebih dekat dalam diri manusia. Istilah ilmu jiwa humanistik Maslow diperkenalkan oleh sekelompok mahir ilmu jiwa nan pada awal tahun 1960 bekerja sama di bawah ketua Maslow dalam mencari altenatif dari dua teori nan sangat berpengaruh atas pemikiran intelektual dalam ilmu jiwa kedua teori nan dimaksud adalah ilmu jiwa psikoanalisis dan ilmu jiwa behaviorisme.

 Psikologi humanistik sebenarnya bukan suatu organisasi tunggal dari teori alias sistem, melainkan lebih tepat disebut sebagai gerakan. Maslow sendiri menganggap sebagai kekuatan ketiga. Setelah mengetahui beragam macam corak ilmu jiwa sastra, sekarang ini adalah contoh kajian ilmu jiwa sastra nan sederhana dalam movie Sampai Titik Terakhirmu karya sutradara Dinna Jasanti, dengan Evelyn Afnilia sebagai penulis naskah dan diproduseri oleh Andi Suryanto dari rumah produksi LYTO Pictures. Konstruksi sistem pertahanan ego tokoh utama Albi Dwizky (Albi) terbentuk dari dinamika ketegangan antara kekhawatiran mendalam memandang kehancuran bentuk alias kesehatan kekasihnya, Shella, akibat kanker dengan tuntutan kesadarannya (ego) untuk tetap menjadi pelindung nan tangguh.

Berdasarkan teori psikoanalisis Sigmund Freud (serta pengelompokkan sistem pertahanan ego), bangunan sistem pertahanan nan dijalankan oleh ego Albi meliputi beberapa tahapan corak berikut:

1. Represi (repression)

Represi adalah sistem pertahanan ego nan dilakukan dengan menekan alias menapis dorongan emosi negatif, rasa panik, ketakutan, dan rasa putus asa secara tidak sadar keluar dari alam sadar menuju alam bawah sadar. Represi adalah golongan sistem pertahanan paling kuat. Tekanan merupakan julukan lain bagi represi. Hal seperti ini mendorong impuls id untuk keluar dari alam bawah sadar ke alam sadar. Dalam konteks movie Sampai Titik Terakhirmu, ego Albi menyadari bahwa mengekspresikan ketakutannya bakal kehilangan Shella justru dapat memperburuk kondisi psikologis Shella nan sedang berjuang melawan kanker ovarium. Oleh lantaran itu, Albi membentuk "topeng ketabahan" demi menjaga mental Shella, meskipun di dalam batinnya dia hancur dan mengalami kekhawatiran tinggi.   

Contoh scene: Di ruang perawatan rumah sakit, ketika master baru saja menyampaikan berita bahwa penyakit kanker Shella telah menjalar dan memerlukan tindakan operasi nan lebih berisiko. Tangan Albi gemetaran dan matanya memerah menahan tangis, namun begitu Sella berbalik menghadap Albi, dia langsung memaksakan senyum dan menyembunyikan wajah paniknya dan memberikan semangat kepada Sella, bahwa semua ini bakal terlewati.

2. Insulasi emosi (emotional insulation)

Insulasi emosi adalah langkah ego membentengi dan mencegah pemunculan emosi berlebihan agar perseorangan tidak mengalami kejatuhan mental (mental breakdown) saat menghadapi situasi nan teramat menyakitkan. Pada tokoh Albi, sistem ini muncul sebagai perisai psikologis saat dia kudu menghadapi satu per satu akibat drastis dari penyakit Shella, seperti kerontokan rambut, kemoterapi nan berat, hingga ancaman kelumpuhan. Albi memilih untuk "mendinginkan" reaksi emosionalnya, dia tidak berteriak, marah, alias menangis panik di depan Shella, melainkan bertindak secara tenang dan sangat terkontrol.   

Contoh scene: saat Shella terpukul menyadari rambutnya rontok parah akibat dampak pengobatan dan akhirnya memutuskan untuk memotong lenyap rambutnya.  Albi menahan diri dari bujukan untuk ikut menangis meratapi nasib jelek tersebut. Sebaliknya, dia mengambil perangkat cukur untuk membantu mencukur rambut Shella sembari memperlakukannya dengan penuh kasih sayang dan kehormatan. 

3. Sublimasi (sublimation)

Sublimasi adalah pengalihan daya kecemasan, rasa sakit batin, dan keputusasaan menjadi tindakan-tindakan nyata nan positif, bermakna, dan berbobot moral tinggi. Alih-alih melampiaskan penderitaannya pada keputusasaan alias perihal destruktif, Albi mengonsolidasi seluruh sisa daya dan emosinya ke dalam corak pengorbanan nyata: merawat Shella tanpa lelah, merelakan pekerjaan alias kariernya nan terganggu hingga dipecat demi terus mendampingi, serta mantap melamar dan menikahi Shella.   

Contoh scene: Setelah Albi kehilangan pekerjaannya akibat sering bolos demi menjaga Shella di rumah sakit Shella juga merasa iba kepada Albi lantaran dia bakal menjalani oprasi rahim nan kelak nya tidak bisa memberikan keturunan kepala Albi, Shella memutus hubungannya agar tidak menyusahkan Albi lagi. Albi menolak menyerah dan justru mengalihkan titik terendah dalam hidupnya itu untuk melamar Shella di atas ranjang rumah sakit.

Dari penjelasan bangunan sistem pertahanan ego tokoh utama Albi Dwizky dalam movie Sampai Titik Terakhirmu bekerja secara berjenjang dan terintegrasi dalam menghadapi kekhawatiran mendalam akibat kondisi medis pasangannya. Berdasarkan penjelasan tersebut, ilmu jiwa sastra membantu kita memahami kondisi psikologis, perasaan, dan bentrok jiwa tokoh dalam sebuah karya sastra alias film. Tokoh Albi Dwizky menunjukkan sistem pertahanan ego melalui represi, insulasi emosi, dan sublimasi dalam menghadapi penyakit nan dialami Shella. Ketiga sistem tersebut menggambarkan gimana Albi berupaya menahan kesedihan, mengendalikan emosinya, dan mengubah rasa sakit menjadi tindakan nyata berupa kasih sayang dan pengorbanan. Dengan demikian, movie ini mengajarkan bahwa cinta, ketabahan, dan support emosional mempunyai peran krusial dalam menghadapi ujian kehidupan. (H-2)
 

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia
↑