Opini
, Jurnalis-Minggu, 18 Oktober 2026 |08:37 WIB

Latief Siregar (Traveler)
Penulis: Latief Siregar (Traveler)
BEGITU tiba di Lake District, saya langsung terkenang Danau Toba. Ada sesuatu nan terasa akrab: air nan membentang di antara perbukitan hijau, udara dingin, jalan berkelok, dan lanskap nan membikin kita tanpa sadar memperlambat langkah. Bedanya, saya sedang berada di Cumbria, Inggris. Bukan di Samosir.
Kami tinggal di sebuah RB&B di Newton-in-Cartmel, desa mini sekitar 45 menit berkendara dari Lancaster. Waktu nan nyaris sama jika mau ke Windermere, tempat utama menjelajahi Lake District. Perjalanan menuju Lake District sudah menjadi bagian dari pengalaman: jalan mini nan membelah hamparan hijau, rumah-rumah batu, bukit dan sesekali pemandangan waduk nan muncul di kejauhan.
Kami menggunakan mobil, bukan lantaran transportasi umum nan menjadi unik Inggris tidak ada. Ternyata setiap hari Minggu, bis nan melintasi desa kami tinggal tidak beroperasi.
Windermere bisa dicapai dengan kereta api. Tetapi dari penginapan kudu naik dari stasiun Lancaster. Itu memutar, lantaran secara geografis, Newton in Cartmel ada di tengah-tengah antara Lancaster dan Windermere.
Kota mini Windermere layaknya kota-kota di Inggris. Deratan toko dan cafe membelah pusat kota, ada gereja. Istimewanya kota ini berada di sisi danau. Halte bis bersisian dengan pelabuhan kapal wisata nan siap membawa berkeliling Taman Nasional Lake District, situs warisan bumi Unesco.
Ada bermacam kategori cruising nan bisa dipilih sesuai lama dan tujuan. Pengunjung bisa memandang desa, kereta uap kuno, juga museum motor dan mobil tua. Bisa juga memilih rute nan singgah di kastil kuno, taman luas, dan jalur hiking dan sepeda gunung.
51 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·