Psikolog Ungkap Cara Mengendalikan Emosi saat Mengasuh Anak, Terapkan Metode JEDA

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Psikolog Ungkap Cara Mengendalikan Emosi saat Mengasuh Anak, Terapkan Metode JEDA Ilustrasi(Magnific.com)

PSIKOLOG Rafael Aditya Marjoto mengingatkan para ayah untuk bisa mengelola emosi saat berinteraksi dengan anak agar tidak meninggalkan luka psikologis nan membekas hingga dewasa.

Menurut Rafael, banyak ayah nan menekan emosinya terlalu lama hingga akhirnya meledak dalam corak kemarahan, bentakan, alias perilaku garang lainnya.

"Ayah kudu selalu kuat, ayah tidak boleh marah. Akhirnya emosinya ditekan terus sampai meledak. Nadanya jadi tinggi, membanting barang, memukul tembok, alias corak pelampiasan lainnya," katanya.

Ia mengibaratkan emosi seperti air nan dipanaskan di atas kompor. Ketika tekanan terus meningkat tanpa pengelolaan nan baik, ledakan emosi susah dihindari.

Untuk mengatasinya, Rafael memperkenalkan metode JEDA sebagai teknik sederhana dalam mengelola emosi.

Metode tersebut terdiri atas empat langkah, ialah jangan langsung bereaksi, evaluasi apa nan sedang dirasakan, dalam-dalam tarik napas dan ambil respons nan bijak.

"Regulasi emosi adalah gimana kita mengatur respons nan sesuai dengan nilai-nilai kita sebagai ayah, apalagi ketika emosinya sedang kuat," ujarnya.

Rafael juga mengingatkan pentingnya menggabungkan empati dan logika ketika merespons anak.

Sebagai contoh, saat anak terjatuh, orang tua tidak cukup hanya memberikan nasihat alias sebaliknya hanya menunjukkan rasa kasihan. Keduanya perlu dipadukan.

"'Aduh nak, pasti sakit ya. Yuk kita obati. Setelah itu kita belajar lagi agar tidak jatuh.' Anak merasa diperhatikan sekaligus belajar dari pengalaman," katanya.

Ia menegaskan bahwa kualitas hubungan ayah dan anak tidak hanya ditentukan oleh seberapa sering ayah datang di rumah, tetapi juga oleh keahlian ayah mengelola emosi dan membangun komunikasi nan sehat.

"Anak-anak bakal mengingat gimana emosi mereka ketika berbareng ayahnya. Karena itu, respons nan bijak jauh lebih krusial daripada luapan emosi sesaat," ujarnya. (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia