PSEL Dibangun, Warga Bantargebang Berharap Tumpukan Sampah Berkurang

Sedang Trending 4 minggu yang lalu

Jakarta -

Tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, sekarang bakal ditangani dengan langkah berbeda. Pemerintah mulai membangun akomodasi Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) nan bakal mengolah sampah menjadi daya listrik.

Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pangan Zulkifli Hasan, (Zulhas) mengatakan pengolahan sampah menjadi daya listrik menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menangani persoalan sampah di sejumlah daerah.

Adapun Bantargebang menjadi salah satu wilayah nan mendapat perhatian lantaran kondisi timbunan sampahnya. Zulhas menyebut sejumlah wilayah saat ini sudah masuk kategori darurat sampah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pengelolaan sampah menjadi daya listrik ini. Nah, tapi itu semua baru nan darurat ini. Seperti Bantargebang ini, Kota Bekasi ini darurat. Di Tangerang itu juga darurat, Bali juga darurat. Tumpukannya sudah sampai 60 meter tingginya," kata Zulhas beberapa waktu lalu.

Pembangunan PSEL Kota Bekasi di Bantargebang mempunyai nilai investasi sekitar Rp 3 triliun. Fasilitas tersebut ditargetkan bisa mengelola lebih dari 500 ribu ton sampah per tahun alias sekitar 70% timbunan sampah terolah di Kota Bekasi. Proyek ini ditargetkan rampung pada akhir 2027 alias awal 2028, sebelum mulai beraksi pada pertengahan 2028.

Proyek ini juga melibatkan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara). Dari sisi energi, PSEL Bekasi ditargetkan menghasilkan daya hijau nan dapat menyuplai kebutuhan sekitar 55 ribu rumah di Kota Bekasi.

Namun, teknologi pengolahan saja dinilai belum cukup. Pegiat dan pemerhati lingkungan, Sony Teguh Trilaksono mengatakan keberhasilan PSEL juga memerlukan kebiasaan masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah.

"Yang bisa dikelola dengan daya itu adalah sampah nan berangkaian dengan anorganik. Yaitu sampah nan berkalori tinggi. Nah, sekarang nan dilakukan PSEL adalah mencoba untuk melakukan solusi nan dilakukan negara-negara lain untuk pengolahan sampah anorganik," ujar Sony.

Ia menilai, pembangunan PSEL merupakan salah satu program nan baik. Meski begitu, kebiasaan memilah sampah tetap menjadi tantangan lantaran belum semua masyarakat terbiasa melakukannya.

"Saya kira ini salah satu program nan bagus, tapi kuncinya kudu dikontrol. Karena bagaimanapun masyarakat belum terbiasa berbudaya untuk memilah sampah. Nah, tantangan kita ialah gimana caranya kita semuanya memilah sampah dengan langkah edukasi serutin mungkin. Kuncinya gitu, pemilahan sampah," lanjutnya.

Warga Bantargebang Sambut PSEL

Bagi penduduk nan tinggal di sekitar Bantargebang, kehadiran PSEL menjadi angan baru untuk mengurangi persoalan tumpukan sampah nan selama ini mereka hadapi.

Sejumlah penduduk Ciketing Udik pun menyambut baik pembangunan akomodasi tersebut. Meski begitu, pengetahuan mereka mengenai pemanfaatan sampah menjadi daya listrik tetap beragam.

Abdul Bashitt, penduduk Ciketing Udik, misalnya, mengaku baru mengetahui bahwa sampah dapur dapat dimanfaatkan menjadi daya listrik.

"Sebelumnya belum, baru sekarang baru dengar," kata Abdul.

Sementara Aninian, seorang pedagang, sudah mengetahui info mengenai pengolahan sampah menjadi daya listrik.

"Itu udah tahu, saya udah tahu, udah dapat kabar," ujarnya.

Hal serupa disampaikan Menta Abdul Hakim. Warga Ciketing Udik itu mengatakan dirinya sudah sedikit banyak mengetahui pemanfaatan sampah menjadi energi.

"Oh sebenarnya sih sedikit banyaknya udah ngerti gitu, udah tahu ya," katanya.

Bagi Abdul, kehadiran PSEL dapat membantu mengatasi persoalan timbunan sampah di Bantargebang nan selama ini belum kunjung selesai.

"Untuk sekarang mah membantu banget. Karena ada pembangunan begini mah membantu untuk menyelesaikan masalah sampah nan ada, udah menjadi gunung dan juga sampai sekarang belum ada selesainya. Mungkin jika ada nan begini mungkin selesai gitu," tuturnya.

Menta juga memandang PSEL sebagai salah satu upaya untuk mengurangi timbunan sampah di Bantargebang.

"Kalau menurut saya pribadi sangat membantu ya buat mengurangi tumpukan sampah, timbunan sampah nan ada di Bantargebang saat ini," ujarnya.

Bukan hanya soal mengurangi tumpukan sampah, kehadiran PSEL juga dilihat sebagai upaya untuk menjaga lingkungan. Allula Azraq, siswa SMP 31 Kota Bekasi, pun menyambut baik program tersebut.

"Menurut saya program ini baik Kak, lantaran bisa menjaga lingkungan tetap asri dan indah, Kak," katanya.

Warga Siap Pilah Sampah dari Rumah

Dukungan terhadap PSEL juga diikuti kesadaran bahwa persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan akomodasi pengolahan. Warga juga perlu mengambil bagian dengan membiasakan memilah sampah sejak dari rumah.

Hal tersebut sejalan dengan pandangan Sony bahwa pemilahan sampah menjadi salah satu tantangan dalam pengelolaan sampah. Edukasi nan dilakukan secara rutin dinilai krusial agar kebiasaan tersebut bisa terbentuk di masyarakat.

Allula mengatakan dirinya siap berkomitmen mendukung program tersebut.

"Oh saya berkomitmen Kak untuk program ini," ujarnya.

Aninian juga menyatakan kesiapan nan sama.

"Ya jika saya sih siap berkomitmen aja, saya sih," katanya.

Menurut Menta, masyarakat perlu membiasakan diri memilah sampah berasas jenisnya.

"Harusnya sih komitmen buat memilah dan memilih organik dan non-organik," tuturnya.

Abdul pun menilai komitmen masyarakat menjadi bagian krusial agar upaya pengelolaan sampah bisa berjalan.

"Harus komitmen. Sekarang jika umpamanya enggak komitmen mah ya mau gimana, gitu," kata Abdul.

PSEL di Bantargebang pun diharapkan tidak hanya membantu mengurangi tumpukan sampah, tetapi juga mendorong perubahan kebiasaan masyarakat. Bagi penduduk sekitar, memilah sampah dari rumah menjadi langkah sederhana nan dapat dilakukan untuk ikut mendukung upaya tersebut.

(prf/ega)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑