Ilustrasi--Pekerja memeriksa pipa Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi (PLTP) di Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Karaha, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Selasa (29/10/2024).(ANTARA/Adeng Bustomi)
MINAT penanammodal dunia terhadap sektor daya bersih terus menunjukkan tren peningkatan nan signifikan. Hal ini sejalan dengan menguatnya komitmen beragam negara dalam mencapai sasaran net zero emission.
Di tengah kebutuhan investasi nan masif untuk mendukung transisi energi, proyek panas bumi di Indonesia sekarang dipandang sebagai kesempatan emas bagi para pemilik modal internasional.
Pengamat pasar modal, Dipo Satria Ramli, mengungkapkan bahwa perhatian penanammodal terhadap daya bersih membuka pintu lebar bagi perusahaan panas bumi untuk mendapatkan pendanaan jangka panjang.
Menurutnya, terdapat golongan penanammodal spesifik (niche investor) nan memang hanya mengincar proyek-proyek energi terbarukan dengan prospek nan terukur.
“Proyek-proyek panas bumi dengan prospek nan jelas bakal sangat menarik bagi mereka,” ujar Dipo saat dihubungi pada Senin (15/6/2026).
Keunggulan Strategis PGEO dan Dukungan Pemerintah
Dalam peta persaingan industri, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) dinilai berada dalam posisi nan sangat menguntungkan. Dipo menyebut bahwa kematangan portofolio proyek menjadi aspek penentu bagi penanammodal sebelum menempatkan modalnya.
Kesiapan ini terbukti dengan masuknya tiga proyek strategis PGE ke dalam Green Book 2026 nan dirilis oleh Kementerian PPN/Bappenas pada awal Juni ini.
Berikut adalah rincian proyek panas bumi nan berpotensi mendapatkan support pendanaan internasional:
| PLTP Lumut Balai Unit 3 | 55 MW | Masuk Green Book 2026 (Bappenas) |
| PLTP Lumut Balai Unit 4 | 55 MW | Masuk Green Book 2026 (Bappenas) |
| PLTP Lahendong Unit 7–8 | 50 MW | Masuk Green Book 2026 (Bappenas) |
Minim Risiko Nilai Tukar
Selain kesiapan prasarana dan kepastian pembeli (offtaker), daya tarik utama investasi panas bumi di Indonesia terletak pada skema bisnisnya. Pendapatan dari penjualan listrik kepada PT PLN (Persero) menggunakan denominasi dolar Amerika Serikat. Hal ini menjadi alas kuat bagi penanammodal terhadap perubahan Mata Uang Rupiah.
“Pembayaran revenue dari PLN dilakukan dalam dolar AS. Jadi walaupun rupiah mengalami pelemahan, investasi ini tetap menarik lantaran tidak ada akibat nilai tukar nan signifikan,” tambah Dipo.
Magnet Pendanaan Global
Sebagai pemilik potensi panas bumi terbesar kedua di dunia, Indonesia memegang peran strategis. Berbeda dengan sumber daya terbarukan lainnya, panas bumi bisa menyediakan pasokan listrik nan stabil secara terus-menerus (baseload), menjadikannya pilar krusial bagi ketahanan daya nasional.
Pengembangan sektor ini juga telah menjadi prioritas dalam RUPTL PLN 2025-2034. Dengan kebutuhan pendanaan transisi daya nan terus meningkat dalam beberapa dasawarsa ke depan, momentum ini diharapkan dapat mempercepat peningkatan kapabilitas daya baru terbarukan (EBT) sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai pemimpin investasi hijau di kancah global. (Z-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·