Di tengah hiruk pikuknya beragam program populis pemerintah, perhatian terhadap sains dasar seperti fisika justru terus merosot. Fenomena ini muncul di saat wacana pengembangan teknologi nasional semakin gencar, tetapi minat generasi muda khususnya Gen Z terhadap pengetahuan fisika menunjukkan tren penurunan nan mengkhawatirkan menurut pejabat pemerintah.
Direktur Desimasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Yudi Darma dalam obrolan media di Jakarta, menyatakan bahwa, minat di program studi seperti fisika sekarang menurun cukup signifikan. Bahkan, beberapa universitas disebut telah menutup bidang fisika lantaran sepinya peminat.
"Interested in STEM fields, particularly physics, is waning. Several universities have even closed their physics programs".
Fenomena nan Mengkhawatirkan
Menurut Yudi, penurunan ini bukan sekadar tren sementara, tetapi mencerminkan sebuah masalah struktural dalam minat ilmiah generasi muda. Ia menunjukkan bahwa sains, terutama fisika, adalah pondasi nan menjadi dasar dari berkembangnya teknologi masa depan mulai dari teknologi digital hingga riset penemuan tinggi.
Fenomena ini juga terasa di tingkat pendidikan tinggi, di mana Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) mengalami penurunan fans terbesar di prodi fisika dibandingkan program lain. "Sains teknologi itu mungkin agak kaku ya, peminatnya menurun sekarang" tambah Yudi dalam pernyataannya.
Minat rendah terhadap fisika dipandang bukan sekadar hasil preferensi individual siswa, tetapi juga gambaran tantangan sistem pendidikan nan belum sukses mengaitkan fisika dengan kebutuhan nyata kehidupan dan industri.
Penyebab Utama: Sistem Pendidikan dan Persepsi Publik
Pengamat pendidikan menilai bahwa salah satu penyebab utama turunnya minat adalah lantaran metode pembelajaran nan dianggap kurang menarik dan terlalu kaku. Wakil Dekan FMIPA Universitas Gadjah Mada, Dr. Wiwit Suryanto, menyebut bahwa pendekatan pembelajaran nan lebih menekankan mahfuz daripada eksplorasi nyata membikin fisika jauh dari jangkauan minat banyak siswa.
Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian pengajar belum memanfaatkan media pembelajaran alias aplikasi demonstratif untuk menjelaskan keterkaitan rumus fisika dengan kejadian nyata. Kondisi tersebut diperparah oleh pendekatan pengajaran nan kurang interaktif dan condong monoton.
Bahkan dalam sejumlah obrolan pendidikan, muncul ungkapan satir nan menyebut bahwa "guru nan membikin fisika membosankan adalah kriminal", sebagai corak kritik terhadap praktik pembelajaran nan dinilai kandas membangun rasa mau tahu.
Selain itu, kurangnya promosi sains di media terkenal dan minimnya role model intelektual nan bisa menginspirasi generasi muda turut memperlemah daya tarik fisika sebagai pilihan studi.
Dampak Terhadap Kemajuan Teknologi
Minat belajar fisika nan menurun tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai landasan dari nyaris semua penemuan teknologi modern dari semikonduktor hingga komunikasi digital, kekosongan pada minat ini dapat menjadi momok bagi daya saing nasional di era teknologi tinggi.
Yudi Darma apalagi menyebut bahwa Indonesia berisiko hanya menjadi pemakai teknologi, bukan produsen alias pencetus ide, jika tren ini terus berlanjut.
Upaya Pemerintah untuk Mengubah Tren
Menanggapi masalah ini, Kemendiktisaintek sekarang merancang beragam strategi untuk memulihkan minat terhadap fisika. Salah satunya adalah menggabungkan seni dan sains dalam pembelajaran, agar fisika tidak lagi dipandang sebagai pengetahuan nan "kaku" dan susah didekati siswa.
Strategi ini diharapkan dapat menciptakan pengalaman belajar nan lebih atraktif serta relevan dengan kehidupan sehari-hari generasi muda tanpa kudu menurunkan kualitas ilmiah.
Tantangan ke Depan
Namun, mengubah budaya pendidikan bukan tugas nan terbilang mudah. Para pengamat menilai bahwa tanpa perubahan sistemik di kurikulum, metode pengajaran dan support media, upaya pemerintah mungkin hanya berakibat sementara.
Di saat program-program populis terus mendapat perhatian publik, rumor daya saing ilmiah seperti fisika justru sering kali terpinggirkan dari agenda utama obrolan pendidikan nasional.
3 bulan yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·