Program GATI, Upaya Kemendukbangga Perkuat Peran Ayah dalam Pengasuhan

Sedang Trending 52 menit yang lalu
Program GATI, Upaya Kemendukbangga Perkuat Peran Ayah dalam Pengasuhan Ilustrasi(MI/FICKY RAMADHAN)

KEMENTERIAN Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) menyosialisasikan Program Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) untuk meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak dan memperkuat ketahanan keluarga.

Direktur Bina Ketahanan Remaja Kemendukbangga/BKKBN Irma Ardiana mengatakan, program tersebut salah satunya dilatarbelakangi hasil Pendataan Keluarga 2025 nan untuk pertama kalinya digunakan untuk menghitung kondisi fatherless di Indonesia.

"Pada tahun 2025 itu adalah kali pertama kita menghitung berapa nomor fatherless di Indonesia. Hasilnya adalah satu dari empat anak di Indonesia merasakan tidak adanya ayah," kata Irma di Jakarta, Kamis (17/9).

Irma menyebut nomor fatherless berasas pendataan tersebut mencapai sekitar 25,8 persen. Kondisi itu juga disebut sejalan dengan info BPS 2021 nan menunjukkan sekitar 37 persen anak usia 0-5 tahun diasuh oleh kedua orang tua kandung.

Menurut Irma, keterlibatan ayah dalam pengasuhan berangkaian dengan tumbuh kembang anak. Berdasarkan kajian literatur nan dilakukan pihaknya, keterbatasan keterlibatan ayah dapat berangkaian dengan persoalan akademik, kesehatan, kestabilan emosi, kecemasan, depresi, hingga kepercayaan diri anak.

"Cintanya ibu dan cintanya ayah itu sama pentingnya bagi tumbuh kembang. Jika salah satunya tidak seimbang, khususnya fatherly love, rupanya itu menimbulkan rumor masalah akademik, anak lebih rentan terhadap rumor kesehatan, emosinya menjadi tidak stabil, kemudian terjadi gangguan kecemasan, depresi dan tidak percaya diri," ujarnya.

Ia mengatakan rumor tersebut perlu mendapat perhatian lantaran Indonesia sedang berada dalam momentum bingkisan demografi. Berdasarkan SUPAS 2025, nyaris 70 persen masyarakat Indonesia berada dalam golongan usia produktif.

"Ketika mereka isunya fatherless, kemudian kita lihat lagi dampaknya, maka sebenarnya mereka ini menjadi populasi nan sangat besar, tetapi kemudian rentan," ucapnya.

Program GATI menyasar remaja laki-laki sebagai calon ayah serta ayah nan mempunyai anak usia dini, praremaja, dan remaja berumur 10-24 tahun nan belum menikah.

Irma menjelaskan, Program GATI mempunyai empat layanan. Pertama, Ayah Halo GATI, ialah jasa konsultasi bagi ayah untuk mendapatkan ruang berbincang mengenai peran dan pengasuhan.

Kedua, pendekatan berbasis organisasi melalui Kompak Tenan nan melibatkan organisasi pendidik dan organisasi ayah teladan. Program tersebut juga menyasar ayah nan berstatus ASN.

Ketiga, penguatan peran ayah melalui Desa/Kelurahan GATI, khususnya di Kampung Keluarga Berkualitas. Keempat, pendekatan melalui lembaga pendidikan dengan program Sekolah Bersama Ayah.

Menurut Irma, pendekatan organisasi menjadi bagian krusial lantaran ayah memerlukan support sosial dalam menjalankan peran pengasuhan.

"Kalau pendekatannya komunitas, ayah itu sebenarnya mau belajar juga dari lingkungan sosial. Dia memerlukan support sosial lantaran tetap ada halangan dari sisi sosial," tuturnya.

Ia mengatakan lingkungan sosial juga dapat membantu ayah mengubah pola pengasuhan nan diperoleh dari generasi sebelumnya. Pemahaman bahwa pola pengasuhan tertentu tidak tepat, kemudian diperkuat oleh lingkungan sosial, dapat mendorong ayah menerapkan pola pengasuhan nan berbeda.

Melalui Program GATI, Kemendukbangga/BKKBN mendorong peran ayah tidak hanya terbatas sebagai pencari nafkah, tetapi juga terlibat dalam pengasuhan, membangun kedekatan emosional, dan memenuhi kebutuhan kasih sayang anak.  (H-2)

Selengkapnya
Sumber Media Indonesia
Media Indonesia