National Sales Director PT Jaya Bersama Saputra Perkasa (Fortress), Hens Sumarauw.(Dok. MI)
PROGRAM pembangunan 3 juta rumah tidak hanya menghadapi tantangan mengejar jumlah unit hunian, tetapi juga memastikan kualitas gedung nan diterima masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Di tengah upaya memperluas akses kepemilikan rumah, developer mulai meningkatkan penggunaan material gedung agar kediaman subsidi mempunyai nilai tambah dan daya tahan lebih panjang.
National Sales Director PT Jaya Bersama Saputra Perkasa (Fortress), Hens Sumarauw, mengatakan tren developer rumah subsidi mulai bergeser dari sekadar memenuhi standar minimum menuju peningkatan kualitas material untuk menarik minat konsumen.
“Sekarang developer berlomba-lomba untuk meningkatkan value agar properti mereka sigap terjual. Sehingga mereka memberanikan diri meningkatkan kualitas material nan ada,” ujar Hens di Tangerang, Selasa (1/9).
Menurut dia, salah satu perubahan terlihat pada penggunaan pintu rumah. Sejumlah developer mulai beranjak dari pintu berbahan kayu ke pintu baja lantaran dinilai lebih tahan lama dan bisa memberikan kualitas lebih baik tanpa mengerek nilai rumah secara signifikan.
Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat patokan unik pemerintah nan mengatur spesifikasi maupun pemisah nilai material tertentu untuk rumah subsidi. Pengadaan material tetap menjadi bagian dari perencanaan biaya pembangunan nan disusun masing-masing pengembang.
“Belum ada patokan unik dari pemerintah, misalnya pintu rumah subsidi kudu Rp500 ribu, itu tidak ada. Semua disesuaikan dengan rencana anggaran biaya (RAB),” katanya.
Dengan nilai rumah subsidi nan berada di bawah Rp200 juta, developer dituntut melakukan efisiensi biaya sekaligus menjaga kualitas bangunan. Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri dalam merealisasikan sasaran pembangunan 3 juta rumah.
Selain aspek material, Hens menilai terdapat sejumlah aspek lain nan dapat memengaruhi pencapaian sasaran tersebut, mulai dari kesiapan lahan, support anggaran negara, regulasi, hingga ketepatan sasaran penerima manfaat.
“Yang pertama nilai dan kesiapan lahan. Kedua kesiapan APBN. Ketiga izin dan perizinan. Dan terakhir ketepatan sasaran agar 3 juta rumah itu dinikmati oleh orang-orang nan tepat,” ujarnya.
Menurut dia, nilai tanah menjadi salah satu aspek krusial lantaran berpengaruh langsung terhadap keahlian developer menyediakan rumah dengan nilai terjangkau. Di sisi lain, support pembiayaan dan kebijakan fiskal diperlukan agar pembangunan rumah bagi MBR dapat melangkah berkelanjutan.
Industri Material Dorong Produksi Lokal
Besarnya kebutuhan pembangunan rumah turut membuka kesempatan bagi industri material gedung untuk memperkuat kapabilitas produksi dalam negeri.
Fortress menjadi salah satu perusahaan nan menyiapkan ekspansi produksi melalui pembangunan akomodasi manufaktur pintu baja di Indonesia. Founder sekaligus CEO PT Jaya Bersama Saputra Perkasa, Joni Effendi, mengatakan investasi awal pembangunan pabrik tersebut mencapai sekitar Rp50 miliar.
Pabrik tersebut ditargetkan mulai menjalani tahap commissioning pada kuartal IV 2026 dan beraksi penuh pada kuartal I 2027. Pada tahap awal, produksi bakal diarahkan untuk memenuhi kebutuhan beragam segmen, termasuk produk ekonomis untuk rumah masyarakat berpenghasilan rendah.
Joni mengatakan pembangunan akomodasi produksi dalam negeri juga menjadi bagian dari upaya mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
“Kalau kita sudah bisa membuatnya di Indonesia, industri dalam negeri bakal naik lagi. Kita tidak berjuntai pada keran impor dan bisa membuka lapangan pekerjaan lebih besar,” katanya.
Saat ini Fortress menyatakan mempunyai kapabilitas penjualan sekitar 15.000 unit pintu per bulan. Selain pasar konsumen langsung, perusahaan juga mulai memperluas pasar melalui kerja sama dengan sektor upaya dan proyek pemerintah.
Dengan sasaran pembangunan 3 juta rumah, kebutuhan terhadap material gedung diperkirakan bakal meningkat. Tantangannya ke depan bukan hanya memastikan jumlah kediaman tercapai, tetapi juga gimana rumah nan dibangun mempunyai kualitas nan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat dalam jangka panjang. (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·