Profil Dino Patti Djalal.(Dok. Antara)
NAMA Dino Patti Djalal kembali menjadi sorotan publik setelah melontarkan kritik tajam terhadap intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Diplomat senior sekaligus pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) ini menyarankan agar Presiden lebih selektif dalam melakukan perjalanan diplomatik demi efisiensi anggaran negara.
Kritik "1 dari 6 Hari" dan Respons Istana
Melalui unggahan video pada 30 Mei 2026, Dino menyoroti bahwa berasas perhitungannya, sejak menjabat, Presiden Prabowo menghabiskan "1 dari 6 hari" waktunya di luar negeri.
Dino menilai gelombang tersebut terlalu tinggi dan menyantap biaya besar, mulai dari logistik pesawat, pengamanan, hingga duit harian delegasi. Ia memberikan lima saran strategis, termasuk optimasi teknologi komunikasi (video call) dan pelimpahan misi diplomatik taktis kepada Menlu Sugiono.
Kritik ini memicu respons sigap dari Istana. Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya pada 2-3 Juni 2026 menjelaskan bahwa kunjungan tersebut krusial di tengah krisis dunia untuk membangun hubungan antar-pemimpin secara langsung. Teddy juga menegaskan bahwa kelebihan biaya perjalanan ditanggung secara pribadi oleh Presiden dan jumlah rombongan telah dikurangi secara signifikan.
Profil Dino Patti Djalal dan Rekam Jejak Diplomatik
Dino Patti Djalal bukanlah sosok baru dalam bumi diplomasi Indonesia. Lahir di Belgrade, Yugoslavia, pada 10 September 1965, dia tumbuh di lingkungan diplomatik sebagai putra dari master norma laut legendaris, Hasjim Djalal.
Dino memulai kariernya di Departemen Luar Negeri pada 1987 dan pernah bekerja di beragam pos strategis seperti London, Dili, dan Washington.
Namanya mulai dikenal luas saat menjabat sebagai Juru Bicara Presiden untuk urusan luar negeri di era Susilo Bambang Yudhoyono (2004–2010). Kariernya mencapai puncak saat dia dipercaya menjadi Duta Besar RI untuk Amerika Serikat (2010–2013) dan kemudian menjabat sebagai Wakil Menteri Luar Negeri pada tahun 2014.
Intelektual dan Penggerak Kebijakan Luar Negeri
Selain berkarier di pemerintahan, Dino dikenal sebagai akademisi dan penulis produktif. Ia meraih gelar PhD dari London School of Economics and Political Science. Salah satu bukunya nan paling populer, "Harus Bisa", merangkum pelajaran kepemimpinan dari masa pemerintahan SBY.
Pada tahun 2015, Dino mendirikan FPCI, sebuah organisasi nonpartisan nan sekarang menjadi wadah obrolan kebijakan luar negeri terbesar di Indonesia. Melalui FPCI, dia aktif mendorong partisipasi publik dan generasi muda dalam isu-isu internasional, menjadikannya salah satu figur kebijakan luar negeri paling berpengaruh di tanah air.
Biodata Singkat Dino Patti Djalal:
- Lahir: Belgrade, 10 September 1965
- Pendidikan: PhD dari London School of Economics (LSE)
- Jabatan Penting: Dubes RI untuk AS (2010-2013), Wakil Menteri Luar Negeri (2014)
- Organisasi: Pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI). (Z-10)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·