(DOK BUSINESS HACK)
MEMBANGUN value, networking, dan keberanian keluar dari area nyaman sangat krusial sebagai modal untuk keluar dari kejadian middle income trap nan sekarang banyak dialami generasi ahli dan entrepreneur muda di Indonesia.
Hal tersebut disampaikan Strategic Advisor dan networking advisor Elizabeth Setiaatmadja dalam webinar kepemimpinan berjudul 'Escaping The Middle Income Trap' nan menghadirkan sejumlah pembicara lintas industri dan profesional. Acara ini menjadi ruang obrolan tentang mindset pertumbuhan, kesempatan ekonomi, investasi, hingga strategi membangun individual value di era perubahan cepat.
Selain Elizabeth Setiaatmadja, webinar tersebut menghadirkan Direktur Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif, Kementerian Perdagangan, Ari Satria nan membahas kesempatan ekspor dan pengembangan produk imajinatif Indonesia di pasar global. Dalam sesinya, Ari menyoroti pentingnya daya saing, inovasi, serta kesiapan pelaku upaya Indonesia untuk memperluas pasar internasional.
Webinar juga menghadirkan CIO Danantara, Pandu Putra Sjahrir, nan membawakan materi berjudul 'The Rules of Adding More Zeros'. Sebagai professional investor, Pandu membahas pentingnya pola pikir investasi, strategi pertumbuhan aset, serta gimana membangun keberlanjutan finansial dalam jangka panjang.
Sementara itu, Engeline Tjia Soesilo membagikan perspektif mengenai bumi marketing modern melalui sesi 'Marketing is Not Manipulating'. Ia menekankan bahwa pemasaran nan kuat bukan dibangun melalui manipulasi, tetapi melalui trust, komunikasi nan relevan, dan value nan konsisten kepada audiens.
Dalam pemaparannya, Elizabeth menekankan bahwa persoalan middle income trap bukan hanya berangkaian dengan kondisi finansial, tetapi juga pola pikir, lingkungan, dan kualitas relationship nan dimiliki seseorang. “Banyak orang sebenarnya punya kemampuan, tetapi pertumbuhannya lambat lantaran terlalu nyaman.'' ujarnya dalam obrolan itu.
Sibuk bekerja, tetapi tidak berkembang. Padahal hidup tidak berubah hanya lantaran bekerja lebih keras, tetapi juga lantaran langkah berpikir nan berubah,” ujar wanita nan berkawan disapa Ci Liz itu. Sebagai sosok nan dikenal aktif membangun jejaring ahli lintas sektor, Ci Liz menilai networking merupakan salah satu aset terpenting dalam membangun pekerjaan dan bisnis.
Namun menurutnya, networking bukan sekadar mengenal banyak orang alias memperluas daftar kontak. “Networking itu bukan transactional, tetapi transformational. Satu hubungan bisa membuka kesempatan baru, satu mentor bisa mengubah arah hidup, dan satu conversation bisa membawa seseorang naik ke level berikutnya,” katanya.
Elizabeth juga menegaskan bahwa seorang game changer kudu konsentrasi membangun value, bukan sekadar mengejar income. “Banyak orang mau mendapatkan opportunity besar, tetapi pertanyaannya, apakah value kita sudah cukup besar untuk menerima opportunity itu?” lanjutnya.
Selain membahas networking dan pengembangan diri, Ci Liz turut menyoroti pentingnya keberanian keluar dari comfort zone sebagai bagian dari proses pertumbuhan hidup.
“Keberanian bukan berfaedah tidak takut. Keberanian adalah tetap melangkah meskipun rasa takut itu tetap ada,” ungkap Elizabeth.
Dalam sesinya, Ci Liz juga menekankan bahwa trust merupakan mata duit utama dalam kehidupan ahli maupun personal.
Di tengah era digital nan serba sigap dan penuh pencitraan, dia mengingatkan pentingnya integritas, konsistensi, dan ketulusan dalam membangun hubungan dengan orang lain.
Bagi Elizabeth Setiaatmadja, seorang game changer bukanlah orang nan paling banyak bicara, melainkan pribadi nan kehadirannya bisa membawa akibat positif bagi lingkungan sekitarnya. “Dunia tidak memerlukan lebih banyak penonton. Dunia memerlukan lebih banyak game changer,” tutup Ci Liz. (H-1)
English (US) ·
Indonesian (ID) ·