Prof Nuh Ungkap Cerita di Balik Layar Muktamar PBNU

Sedang Trending 3 minggu yang lalu

Jakarta -

Sekretaris Steering Committee (SC) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) Prof. Mohammad Nuh mengungkap cerita di kembali layar Muktamar PBNU ke-35. Ia juga mengungkap perubahan sistem pemilihan Ketua Umum PBNU, dari nan sebelumnya memakai sistem one man one vote, menjadi Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA).

"Dari perspektif keorganisasian, di NU ini kan mengalami dinamika, khususnya tahun 2025," kata M Nuh, dikutip dari YouTube Dahlan Iskan, Selasa (1/9/2026).

Ia mengatakan pada tahun 2025, PBNU mempunyai perbedaan pandangan di dalam organisasi. Untuk mengatasi perbedaan pandangan itu, PBNU lampau memutuskan menggelar Muktamar sebagai salah satu solusi untuk mempersatukan kembali pandangan nan beragam.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam pelaksanaannya, M Nuh menekankan pentingnya kepentingan Muktamar nan lebih tinggi dibandingkan kepentingan para calon kandidat. Ia menegaskan panitia kudu tegas dan tidak mau ditarik-tarik untuk memihak.

"Di tim steering committee itu kudu tegas betul. Jangan sampai ketarik-tarik, lantaran memihak pada si A alias memihak kepada si B. Gitu. Jadi tidak boleh begitu. Ya, kita pegang betul," katanya.

Ia juga mengingatkan, ketua tertinggi NU merupakan Syuriah (Rois Aam), sedangkan Tanfidziyah (Ketua Umum) bekerja sebagai pelaksana alias pelaksananya. Oleh lantaran itu disepakati perubahan sistem mengenai pemilihan.

"Tantangan nan kita hadapi semakin rumit, maka ada pergeseran model kepemimpinan, ialah nan tadinya mengandalkan individual leadership menjadi menjadi collective leadership. Kepemimpinan nan mengandalkan pada orang per orang sudah selesai zamannya. Karena tantangannya semakin ragam. Ya, semakin ragam. Ndak cukup lagi menyelesaikan itu. Sehingga kita geser, ya, kita geser di apa? Kolektif. Karena pergeseran paradigma itulah maka bergeser metode alias sistem pemilihannya," katanya.

"Yang tadinya itu model kompetitif, ya diadu satu musuh satu dan seterusnya, dan itu nyaris pasti panas. Hampir pasti panas. Gitu. Karena kompetitif dan kejuaraan itu konsekuensinya adalah pasti ada nan tereliminasi, kalah menang. Dan begitu dia menang, the winner takes all. Maka bisa jadi kelak ada orang-orang nan terbaik di golongan A, lantaran golongan A ini kalah, tidak bakal diakomodasi oleh golongan B. Maka di situlah kita geser metode pemilihan," ujarnya.

Ia menjelaskan metode pemilihan nan awalnya berkarakter kompetitif (one man one vote) diubah ke sistem musyawarah lewat sistem Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) nan diisi oleh kiai-kiai sepuh berkompetensi.

"Bagi ketua umum, nan tadinya itu one man one vote, setiap bagian memilih satu orang satu orang dan dipilih lagi oleh Muktamirin dan seterusnya, setelah mendapat persetujuan Rais Aam, kita ubah. Mengubah ini sama sekali tidak mudah. Ya, oleh lantaran itu ini dasarnya, ya ini, ini background nan tidak tampak, nan tidak pernah saya jarang saya ceritakan ke publik," katanya.

"Saya sudah lama mikirkan bab ini. Saya sowan silaturahim ke beberapa ustad sepuh dan seterusnya. Saya sampaikan, kenapa setiap Muktamar pasti panas? Karena sifatnya kompetisi. Kompetisi itu nature-nya adalah mesti panas. Gimana jika seandainya kita ubah? Ya satu orang tidak mengusulkan satu, satu bagian tidak mengusulkan satu, satu pilihan. Tapi beberapa. Gitu loh. Sekaligus kita sampaikan argumen akademiknya, ya," sambungnya.

Selanjutnya para ustad menyetujui perubahan tersebut serta merumuskan mekanismenya. Kemudian, dia mengungkap muncul dua opsi, ialah konsep tetap seperti semula dan opsi perubahan.

"Dan di situ betul terbukti, perdebatan panjang. Ya, perdebatan panjang. nan lain-lain perdebatannya relatif simpel, tapi begitu urusan ini, panjang. Ya, itu. Dengan menyampaikan argumen segala macam. Oke. Karena masing-masing sudah menyampaikan argumennya, langkah nan terbaik akhirnya kita masuk ke voting. Ya. Kita vote. Dari voting itulah rupanya alhamdulillah, 73% menghendaki perubahan, nan 27% itu menghendaki tetap. Berarti kita sudah bisa memutuskan model perubahan. Maknanya apa? Maknanya musyawarah sebenarnya," katanya.

Selanjutnya dipilih 9 orang dari setiap bagian nan mempunyai bunyi terbanyak sebagai personil AHWA nan bakal ditetapkan untuk menentukan Rais Aam dan Ketum PBNU.

"Dan itu pun juga prosesnya setiap cabang, PW, PCI ngusulkan 9 nama. Ya, 9 nama orang-orang alias calon-calon tadi itu. Maka ketemulah 9 terbanyak, dan itulah ditetapkan sebagai para sesepuh, para ustad nan kita beri kepercayaan untuk memilih. Beliau-beliau ini, sekali lagi, itu punya kompetensi, punya kapasitas, punya basyirah, tidak hanya logika tapi punya mata hati untuk memilih itu. Termasuk memilih Rais Aam," ujarnya.

"Jadi jika dulu hanya memilih Rais Aam, sekarang tidak, memilih Rais Aam dan juga memilih ketua umum," sambungnya.

Seperti diketahui, Miftachul Akhyar dan Gus Kikin terpilih sebagai Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 dalam Muktamar ke-35 NU di Jombang, Jawa Timur. Keputusan itu dihasilkan dari musyawarah mufakat sembilan personil Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA).

(yld/imk)

Selengkapnya
Sumber Detik News
Detik News
↑